Senin , 18 Oktober 2021

Ahli Bicara Guna dan Bahaya Mobil Otomatis Seperti Almaz RS

Saat ini masih banyak pertanyaan seputar kendaraan otomatisasi yang belum terjawab, namun suatu saat teknologi otomotif canggih ini adalah sesuatu yang tak terelakkan lagi.
Buat sebagian besar orang mungkin rasanya bakal sulit merelakan diri berada di dalam kendaraan yang bergerak sendiri tanpa sopir untuk mengantarkan penumpang sampai tujuan.

Keraguan logis lain yang bisa jadi muncul misalnya kekhawatiran menyelamatkan diri kalau terjadi apa-apa dan bagaimana cara mengendalikannya bila sistem bermasalah.

Asosiasi insinyur di Amerika Serikat, SAE, mengategorikan mobil otomatisasi menjadi enam level, mulai dari 0 hingga 5, dalam ‘Levels of Driving Automation’ J3016. Mobil level 0 artinya tak tersedia teknologi otomatisasi, sedangkan 5 menandakan otomatisasi sempurna.

Level 5 berarti mobil tak memerlukan sopir. Sistem otomatisasi bisa mengendalikan semua fungsi mobil untuk berkendara di segala kondisi.

Sejauh ini belum ada satupun produsen otomotif yang mampu menghasilkan mobil produksi massal dengan otomatisasi level 5. Meski demikian kini sudah banyak mobil yang punya teknologi level lebih rendah atau disebut semi-otomatisasi.

Para ahli dunia sudah mengutarakan kekhawatirannya atas otomatisasi level 5 dan menyebut salah satu cara membiasakan diri menggunakan teknologi ini yakni dengan mendapatkan pengalaman dari mobil semi-otomatisasi.

Sony dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) menjelaskan semi-otomatisasi berperan membantu pengemudi saat berkendara, bukan mengambil alih sepenuhnya.

“Sementara itu otomatisasi adalah teknologi full autopilot dimana kendaraan terhubung dengan sekelilingnya melalui pemindai dan koneksi internet untuk berkendara secara otomatis sesuai dengan input dari pengguna, tanpa perlu dikemudikan sama sekali,” kata Sony.

Berdasarkan kategori mobil otomatisasi dari SAE, mobil yang memiliki fitur seperti lane centering atau adaptive cruise control masuk dalam level 1. Mobil seperti ini sudah dijual di Indonesia misalnya Mitsubishi Eclipse Cross dan Honda Accord.

Lalu ada juga mobil lain yang sudah masuk dalam level 2, artinya sudah punya kedua fitur lane centering atau adaptive cruise control. Salah satu mobil seperti ini di Indonesia adalah Wuling Almaz RS dengan Advanced Driver Assistance System (ADAS) yang berisi berbagai macam fitur bantuan mengemudi.

Cara kerja mobil seperti Almaz RS sangat rumit karena menggunakan sensor dan kamera, namun sistem memudahkan penggunaannya.

Sony menjelaskan teknologi seperti ADAS dapat membantu pengemudi secara aktif dan pasif agar berkendara aman. Namun dia mengingatkan pengemudi jangan terlena atas bantuan itu dan tetap harus proaktif memonitor proses berkendara.

“Pengemudi tetap harus waspada saat proses mengemudi agar fungsi ADAS yang membantu berkendara lebih aman dan nyaman bisa didapat,” kata dia.

Sony juga memberikan tips berkendara menggunakannya, yaitu pengemudi mesti memahami betul fitur-fitur otomatisasi pada mobil yang dikendalikan, termasuk cara mematikannya.

Lalu dia juga mengatakan memakai fitur seperti ini sesuai kebutuhan saja. Terakhir dia bilang bertanggung jawab karena fitur ini hanya sebagai bantuan untuk memudahkan berkendara.

(fea)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *