Senin , 18 Oktober 2021

Aksi ‘Polisi Bersepatu’ Masuk Masjid yang Dikecam hingga Diperiksa Propam

Aksi polisi masuk ke masjid menggunakan sepatu saat mengamankan unjuk rasa mahasiswa di Kota Makassar pada Selasa (24/9) menuai kecaman. Propam Polda Sulsel pun memastikan akan menindak oknum polisi tersebut.

Aksi polisi bersepatu masuk ke dalam masjid tersebut terekam dalam sebuah video dan viral di media sosial. Ada dua video yang beredar, berdurasi 7 detik dan 22 detik. Dua video tersebut menggambarkan beberapa polisi membawa tongkat, tameng, mengenakan helm dan bersepatu menangkap sejumlah orang yang diduga mahasiswa pendemo di dalam masjid.

Polisi awalnya menyebut video tersebut mirip dengan kejadian yang terjadi di Petamburan, Jakarta. Namun suara perempuan berlogat khas Makassar terdengar dari video tersebut.

Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, Polda Sulsel membenarkan kejadian tersebut terjadi di Masjid Syuhada 45 yang terletak di area pengadilan tinggi negeri (PTN) Makassar, Jl Urip Sumoharjo, atau tepat berada di samping kiri Kantor DPRD Sulsel.

Menurut Imam masjid Syuhada 45 Rusman, kejadian polisi masuk ke masjid itu terjadi sekitar pukul 13.00-14.00 WITA, Selasa (24/9). Dia mengatakan saat itu dirinya sedang berada dalam salah satu ruangan di masjid dan kemudian mendengar teriakan dari para mahasiswi.

“Selesai salat berjemaah itu saya ganti pakaian di ruangan saya. Lalu cukup lama kemudian saya dengar kepanikan jadi saya keluar. Mahasiswi itu pada minta perlindungan kepada saya jadi saya keluar temui satpam,” kata Rusman, Rabu (25/9).

Rusman mengatakan satpam PTN Makassar kemudian menutup pagar. Namun, saat Rusman kembali ke dalam masjid terlihat ada dua orang polisi di dalam masjid yang mengejar dua orang mahasiswa.

MUI Kota Makassar angkat bicara atas peristiwa ini. Menurut Ketua MUI Makassar H Baharuddin, tindakan polisi tersebut merendahkan tempat suci.

“Yang jelas, itu tidak boleh. Itu namanya merendahkan tempat suci,” kata Baharuddin.

Baharuddin meminta Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe memastikan kejadian yang sama tidak terulang oleh anggotanya. Tak hanya ke dalam masjid, dia juga meminta polisi tak melakukan hal tersebut di rumah ibadah agama mana pun.

“Pak Kapolda harus memberikan pengarahan kepada bawahannya, kalau terjadi macam begitu, jangan terulang-ulang. Harus memberikan (penekanan) kepada bawahannya semacam tempat peribadatan, bukan hanya masjid, tapi juga peribadatan agama lain tidak boleh masuk begitu,” kata dia.

Kecaman juga datang Ketua DPRD Sulsel Ina Kartika Sari. Menurutnya aksi polisi itu tidak pantas dilakukan.

“Kita juga ini mengecam itu ya, mengecam itu, apalagi ini kan rumah ibadah, tidak pantas itu dilakukan,” ujar Inna saat diwawancara detikcom, Rabu (25/9).

Politisi Golkar itu mengungkapkan, aksi polisi bersepatu tidak dapat dibenarkan meskipun dalam keadaan terdesak karena mengejar mahasiswa yang masuk masjid.

“Ya ini rumah ibadah, apapun itu (tidak bisa dimaklumi),” tegasnya.

Sementara itu Sulsel Nurdin Abdullah menilai polisi bersepatu masuk masjid khilaf karena sudah jenuh.

“Jadi saya kita itu sebuah kekhilafan, karena mungkin polisi mungkin, kasihan juga sudah dari pagi, sudah jenuh. Biasa, sebagai manusia biasa ya tentu itu sebuah kekhilafan,” kata Nurdin saat dihubungi detikcom, Rabu (25/9).

Nurdin pun meminta isu polisi bersepatu masuk masjid untuk tidak dibesar-besarkan. Dia menilai bisa saja polisi tersebut sudah lelah dan jengkel.

“Saya kira kita tidak perlu besar-besarkan. Ya mungkin karena mungkin sudah capek sekali, sudah jengkel dan lain sebagainya,” ujarnya.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani memberikan klarifikasi dan menerangkan kronologi kejadian. Awalnya polisi yang sedang melakukan pengamanan unjuk rasa di DPRD dilempari batu oleh mahasiswa.

“Pasca lemparan itu terjadilah pengejaran oleh anggota, namun mahasiswa bersembunyi di masjid samping DPRD. Mahasiswa yang melempar petugas sengaja menjadikan masjid sebagai tameng,” kata Dicky dalam keterangannya.

Petugas akhirnya menangkap mahasiswa pelaku pelemparan yang bersembunyi di masjid. Dalam permintaan maafnya, Polda Sulsel memastikan akan menindak oknum polisi yang berlebihan dan mahasiswa yang melakukan pelemparan akan ditindak secara hukum.

“Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Polda Sulsel mohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden tersebut,” ujarnya.

Kapolda Sulsel Irjen Mas Guntur Laupe juga menegaskan bahwa oknum polisi bersepatu di dalam masjid akan diberi sanksi sesuai aturan internal Polri.

“Diketahui anggota Sabhara dilempari mahasiswa, saking semangatnya mengejar, dia masuk ke dalam masjid tidak membuka alas kaki, yang sebenarnya tidak dibolehkan oleh aturan mana pun juga, UU, adat istiadat dan agama, sejumlah anggota tersebut sedang diproses,” ujar Kapolda Sulsel Irjen Mas Guntur Laupe di RS Awal Bross, Rabu (25/9).

“Mungkin anggota sudah capek (saat masuk masjid), tapi apapun alasannya anggota kami salah sehingga kami mohon maaf,” kata AKBP Azhan.

Polisi yang dipimpin oleh Kasat Binmas Polrestabes Makassar AKBP Azhan pun sudah datang menemui imam masjid Syuhada 45 dan menyampaikan permohonan maaf pada Rabu (25/9) siang.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *