Sabtu , 28 Mei 2022

Aktivitas Masyarakat Meningkat Dorong Harga Barang Makin Mahal

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi Januari 2022 sebesar 2,18 persen (yoy). Secara bulanan, inflasi Januari 2022 sebesar 0,56 persen (mtm), sedikit menurun dibanding inflasi Desember 2021. Namun, inflasi Januari 2022 merupakan tertinggi pada periode yang sama sejak 2019.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai, peningkatan inflasi tersebut karena mobilitas masyarakat yang mulai meningkat. Sehingga aktivitas ekonomi masyarakat mendorong permintaan.

“Meningkatnya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat telah mendorong sisi permintaan,” kata Menko Airlangga di Jakarta, Kamis, (3/2).

Capaian inflasi Januari dipengaruhi oleh pergerakan pada seluruh komponen inflasi. Komponen inti menjadi penyumbang andil tertinggi terhadap inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari yakni sebesar 0,27 persen. Inflasi inti sebesar 0,42 persen (mtm) dan merupakan tertinggi sejak Agustus 2019.

Sementara secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 1,84 persen dan juga tertinggi sejak September 2020. Peningkatan inflasi inti pada Januari 2022 terutama disebabkan adanya peningkatan harga komoditas ikan segar, mobil, tarif kontrak rumah dan sewa rumah.

Kenaikan Harga Bahan Makanan

Inflasi Volatile Food (VF) tercatat sebesar 1,30 persen (mtm). Lebih rendah dibandingkan dengan inflasi VF bulan sebelumnya sebesar 2,32 persen (mtm) maupun rerata historis bulan Januari empat tahun terakhir sebesar 1,66 persen (mtm).

Beberapa komoditas VF yang dominan menyumbang terhadap inflasi Januari antara lain kenaikan harga daging ayam, beras, telur ayam ras dan tomat. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga adalah cabai merah.

Sementara itu, kenaikan harga beras pada Januari disebabkan rendahnya panen pada bulan November-Desember 2021. Tak hanya itu, karena terjadinya hidrometeorologi pada awal 2022. Harga beras di tingkat penggilingan meningkat sebesar 2,23 persen (mtm) dan di tingkat eceran sebesar 0,94 persen (mtm).

“Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung pada Februari meski tidak setinggi Januari dan kembali stabil mulai Maret karena mulai masuknya musim panen,” kata dia mengakhiri.

[bim] Reporter : Anisyah Al Faqir (merdeka)

dok. photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *