Minggu , 28 November 2021

Alasan Pertamina Jual Pertalite Rp 7.650, di Bawah Harga Keekonomian

PT Pertamina (Persero) masih menjual Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU) seperti Pertalite di harga Rp 7.650 per liter. Angka ini jauh di bawah harga keekonomian saat ini yang mencapai Rp 11 ribu per liter.

“Walaupun demikian sampai saat ini Pertamina belum menaikkan harga BBM,” kata Pjs Senior Vice President Corporate Communications and Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman saat dihubungi, Selasa, 26 Oktober 2021.

Sebab, kata dia, Pertamina memahami perhatian pemerintah terhadap penurunan daya beli masyarakat pasca pandemi. Untuk itu, saat ini Pertamina dengan Pemerintah sedang melakukan pembahasan untuk mencari solusi terbaik.

Tak hanya Pertalite, harga keekonomian pada Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) seperti Premium saat ini yaitu sebesar Rp 9.000 per liter. Tapi kemudian, Pertamina menjualnya di harga Rp 6.450 per liter.

Gap harga jual dan harga keekonomian ini naik seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia saat ini. Fajriyah mencatat harga minyak dunia mulai pulih sejak pertengahan tahun lalu.

Lalu, harga minyak mentah dunia terus naik sejak awal tahun hingga saat ini mencapai level US$ 85 per barel “Tingginya harga minyak memberikan tekanan signifikan atas beban pokok produksi BBM dan juga makin menekan profitabilitas Pertamina,” kata dia.

Meski demikian, Fajriyah memastikan Pertamina tetap menjalankan komitmennya untuk menyediakan, mendistribusikan dan memberikan pelayanan BBM kepada seluruh masyarakat.

Secara aturan sebenarnya ada perbedaan mendasar antara Pertalite dan Premium. Harga Pertalile akan turun naik fluktuatif sesuai harga pasar dan pemerintah hanya akan mengatur formula pembentukan harganya saja. Sementara, harga premium akan langsung ditetapkan dan disubsidi pemerintah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun sudah memahami adanya selisih antara harga keekonomian dan harga jual ini. Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih menyebut akan ada pembahasan soal kompensasi ke Pertamina agar tidak merugi.

Kompensasi dibahas karena memang kementerian menilai kenaikan harga BBM saat ini masih sulit diterima masyarakat. Terutama, kondisi saat ini yang baru pulih dari Covid-19. “Pemerintah ngalah, gitu ya, biar tetap tenang, tidak ada inflasi,” kata Soejaningsih.

Reporter: Fajar Pebrianto Editor: Ali Akhmad Noor Hidayat (tempo)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *