Senin , 27 September 2021

Anomali Pandemi di Indonesia: Orang Kaya Makin Banyak, Jumlah Orang Miskin Bertambah

Anomali terjadi selama Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Jumlah orang kaya bertambah banyak. Dana pihak ketiga perbankan semakin melimpah.

Mengutip data Bank Indonesia, DPK perbankan tercatat mencapai Rp6.723,3 triliun per Juni 2021. Angka ini tumbuh 11,7 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy).

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, fenomena bertambahnya orang kaya di Indonesia karena didorong aset produktif yang tetap menghasilkan uang sekalipun di masa pandemi.

Adapun beberapa aset produktif itu bisa dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN), saham, dan juga deposito. Selain itu, selama pandemi, belanja kelas menengah ke atas atau orang kaya berkurang karena takut tertular virus dan pembatasan kegiatan masyarakat

“Semua aset itu walaupun pemiliknya tidur sekalipun, memberikan penghasilan yang sangat besar sesuai nilai asset yang dimiliki,” kata Piter saat dihubungi merdeka.com.

Saat bersamaan, jumlah penduduk miskin juga semakin banyak. Ini terjadi karena rata-rata orang miskin tidak memiliki aset produktif. Adapun penghasilan mereka hanya mengandalkan gaji. Atau paling tidak bergantung kepada keuntungan usaha.

“Ketika pandemi, mereka tidak bekerja, tidak buka usaha, penghasilan terhenti. Mereka harus makan tabungan. Kekayaan berkurang atau mereka menjadi tambah miskin,” kata Piter mengakhiri.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira berpendapat lain. Menurutnya ada beberapa faktor pendorong orang kaya bertambah.

Pertama, orang kaya memiliki manajemen risiko yang lebih baik di tengah krisis. Di mana aset yang mengalami penurunan nilai bisa digeser ke aset yang lebih menghasilkan profit.

“Contohnya, orang-orang kaya berburu emas ketika harga saham mengalami penurunan tajam di 2020,” jelasnya.

Kedua, banyak orang kaya baru yang muncul dari investasi di startup digital atau ekosistem digital. Ketika terjadi booming digital, orang kaya yang paling cepat mengucurkan dana untuk mendapat peluang profit jangka pendek dan panjang. Beberapa konglomerat bahkan membentuk modal ventura khusus untuk mengembangkan pendanaan ke startup di saat pandemi.

Ketiga kepatuhan pembayaran pajak orang kaya relatif rendah dibandingkan pekerja. Ini terbukti dari kepatuhan kepatuhan formal Wajib Pajak (WP) badan dan WP orang pribadi non karyawan tahun 2020 justru melemah.

Rasio kepatuhan formal WP badan tahun lalu hanya 60,17 persen lebih rendah dari rasio 2019 sebesar 65,28 persen. Untuk WP orang pribadi non karyawan, rasio kepatuhan formal pada tahun lalu mencapai 52,45 persen atau lebih rendah dari rasio kepatuhan formal 2019 sebesar 75,31 persen.

“Selain itu orang kaya melalui perusahaannya mendapat berbagai fasilitas perpajakan dari Pemerintah,” ucap Bima. [noe]

Reporter : Dwi Aditya PutraIdris Rusadi Putra (merdeka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *