Senin , 27 September 2021

Apa yang Terjadi Jika Vaksin Covid-19 Dosis Kedua Terlambat?

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, walau memang sebaiknya perlu sesuai jadwal. Itulah yang berlaku untuk dosis kedua vaksin Covid-19 yang harus didapatkan sesuai rekomendasi waktunya, tetapi tak apa bila terlambat asalkan tidak dilewatkan. Ada beragam alasan yang memungkinkan seseorang terlambat disuntik dosis kedua seperti terpapar Covid-19 dan belum tersedianya vaksin.

Bila begini, apakah vaksin masih efektif pada mereka yang terlambat disuntik dosis kedua? Kementerian Kesehatan sudah menyatakan, keterlambatan penyuntikan vaksin dosis kedua selama masih dalam interval yang direkomendasikan para ahli, masih aman dan tidak akan mengurangi efektivitas vaksin pertama sehingga antibodi Anda masih dapat terbentuk dengan optimal melawan virus SARS-CoV-2.

Untuk vaksin Sinovac, jarak penyuntikan dosis pertama ke dosis kedua yakni 28 hari, sementara vaksin AstraZeneca 2 sampai 3 bulan. Lalu bagaimana bila melewati interval?

Khusus untuk Sinovac, praktisi kesehatan sekaligus dokter relawan Covid-19 dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dokter Muhamad Fajri Adda’i mengatakan, saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan berapa lama waktu vaksin memberikan efektivitas yang optimal bila dosis duanya diberikan terlambat. Walau begitu, kemungkinan perlu waktu lebih lama bagi vaksin yang memberikan efektivitasnya tetap ada.

Di sisi lain, penelitian juga belum tersedia mengenai kadar antibodi yang terbentuk apakah lebih baik atau justru buruk pada mereka yang terlambat disuntik dosis kedua.

“Pada prinsipnya vaksin Sinovac diberikan jaraknya 0-14 hari atau 28 hari, pada penelitiannya. Jadi kalau diberikan lebih dari itu, kita tidak tahu apakah lebih bagus atau lebih jelek pembentukan kadar antibodi yang dihasilkan,” kata dia kepada Antara, Jumat.

Inilah, alasan Anda sebaiknya tak terlambat mendapatkan dosis kedua vaksin. Kalaupun harus melewati interval misalnya tiga bulan sejak dosis pertama untuk Sinovac, maka segeralah mendapatkan suntikan kedua.

Fajri mengatakan, “Masih tetap lebih baik disuntikkan dalam rentang tiga bulan dibandingkan hanya dapat satu dosis saja atau tidak disuntikkan sama sekali untuk dosis kedua. Tetapi lebih bagus taat waktunya, 28 hari”.

Dari sisi efektivitas, data dari Kementerian Kesehatan pada 128.290 tenaga kesehatan di DKI Jakarta pada 13 Januari-18 Maret 2021 memperlihatkan, dua dosis vaksin Sinovac dengan interval 2-4 minggu antara dosis pertama dan kedua efektif mencegah 94 persen COVID-19 bergejala pada hari ke-7,14, 21, 28 hingga 63 hari setelah dosis kedua.

Pemberian vaksin yang dikembangkan China National Pharmaceutical Group itu juga efektif dalam mencegah 96 persen perawatan akibat Covid-19 pada rentang hari yang sama usai dosis kedua diberikan. Sementara untuk mencegah kematian karena Covid-19, vaksin ini diketahui efektif 98 persen setelah dosis kedua.

Sementara itu, saat dihubungi dalam kesempatan berbeda, ahli patologis klinis dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, dr. Tonang Ari Dwi Ardyanto, Sp.PK., PhD berpendapat, semakin terlambat Anda disuntik dosis kedua, maka perlu waktu yang lebih lama bagi vaksin memberikan efektivitas optimal.

“Semakin lama mundurnya, maka perlu waktu lebih lama lagi untuk memberikan efektivitas yang optimal. Maka sebaiknya kalaupun tidak benar-benar tepat sesuai jadwal, harus secepatnya diberikan,” ujar dia.

Red: Reiny Dwinanda (republika)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *