Senin , 18 Oktober 2021

AstraZeneca: Varian Delta Buat Herd Immunity Susah Terwujud

Adanya mutasi Covid-19 varian Delta disebut dapat mempersulit kekebalan komunal atau Herd Immunity. Hal itu diakui langsung oleh pengembang vaksin AstraZeneca dan Oxford.

Di hadapan parlemen Inggris, Sir Andrew Pollard, seorang profesor infeksi pediatrik dan immunity di Universitas Oxford, mengatakan bahwa mencapai kekebalan komunal tidak mungkin terjadi sekarang, lantaran varian Delta.

“Kami tahu sangat jelas dengan virus corona bahwa varian saat ini, varian Delta, masih akan menginfeksi orang yang telah divaksinasi,” kata Pollard.

Terlebih ia menjelaskan tidak mungkin herd immunity akan tercapai, jika virus bermutasi dan menghasilkan varian virus corona baru. Hal itu juga disebut berpotensi lebih menular pada populasi yang sudah divaksin.

Orang yang divaksinasi masih bisa tertular varian Delta, meskipun sebagian kasus ditemukan dengan gejala lebih ringan. Beberapa ahli berharap herd immunity bisa tercapai seperti halnya campak yang juga sangat menular.

Banyak negara telah mencapai kekebalan komunal pada penyakit campak, dengan memvaksinasi 95 persen populasinya, seperti Amerika Serikat (AS), di mana penularan endemik berakhir pada tahun 2000. Hasilnya jika seseorang divaksinasi campak, mereka tidak dapat menularkan virus.

Meski demikian dengan masih menyebarnya virus Corona, vaksin masih memenuhi peran utamanya yaitu melindungi dari gejala parah.

Dikutip The Guardian, konsep kekebalan komunal atau populasi bergantung pada seberapa besar populasi yang memperoleh kekebalan baik melalui vaksinasi atau sebelumnya sudah terinfeksi.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit CDC AS, orang yang divaksinasi yang terkena varian Delta 25 kali lebih kecil kemungkinannya memiliki gejala parah atau meninggal. Mayoritas yang tertular bergejala ringan atau tidak sama sekali.

Tetapi semakin banyak bukti menunjukkan bahwa dengan adanya varian Delta, orang yang divaksinasi dosis lengkap masih dapat menularkan virus.

“Kami tidak memiliki apa pun yang akan menghentikan penularan itu ke orang lain,” kata Pollard seperti dikutip Science Alert.

Data dari studi React yang baru dilakukan oleh Imperial College London, menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh berusia 18 hingga 64 tahun memiliki risiko 49 persen lebih rendah terinfeksi, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksinasi.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi penuh memiliki sedikit kemungkinan positif, meskipun setelah melakukan kontak dengan orang yang terpapar virus Corona.

Israel adalah contoh yang baik dalam kekebalan komunal. Kasus positif paparan corona dilaporkan turun, setelah memvaksinasi sekitar 80 persen orang dewasa. Hal itu mendorong beberapa orang berharap bahwa capaian itu telah melampaui herd immunity, tetapi varian Delta sejak itu membawa lonjakan kasus lain.

(can/DAL)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *