Kamis , 11 Agustus 2022

Babak Baru Penyelidikan Asal Usul Covid, WHO Desak China Serahkan Data Mentah Kasus

WHO mendesak China berbagi data mentah kasus virus corona paling awal, yang pertama kali muncul di pusat kota Wuhan. Menurut WHO, data ini “sangat penting” untuk memahami asal usul virus untuk mencegah pandemi di masa depan.

Lebih dari 4,3 juta orang di seluruh dunia meninggal sejak kasus pertama diidentifikasi di Wuhan pada akhir 2019.

Sebuah tim ilmuwan dari WHO mengunjungi Wuhan pada Januari lalu setelah rencana kunjungan itu tertunda cukup lama. Kunjungan itu sebagai misi untuk menelusuri asal usul virus, dan para ilmuwan merilis sebuah laporan pada Maret yang tidak memberikan kesimpulan pasti terkait apa yang terjadi.

Namun laporan itu memuat daftar hipotesis, mengatakan rute infeksi paling mungkin adalah penularan dari hewan (kemungkinan kelelawar) ke manusia, sementara kemungkinan virus bocor dari sebuah laboratorium “sangat tidak mungkin”.

Laporan tersebut, yang dikeluarkan bersama dengan ilmuwan China, memicu dorongan baru untuk penyelidikan lebih dalam terkait asal usul virus dan China harus lebih transparan dengan data-datanya terkait virus.

Bulan lalu, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengusulkan penyelidikan tahap kedua termasuk penelitian lebih mendalam di China termasuk “audit” laboratorium.

Teori kebocoran laboratorium itu membuat China geram, mengungkapkan keterkejutan atas saran WHO dan mendesak penyelidikan diperluas ke negara-negara lain.

“WHO menegaskan kembali bahwa pencarian asal usul SARS-CoV-2 bukan dan tidak boleh menjadi tindakah saling mencari kesalahan, saling tuding, atau penilaian politik,” jelas lembaga PBB itu dalam sebuah pernyataan, dilansir Al Jazeera, Jumat (13/8).

WHO menekankan, sejumlah negara termasuk Italia telah membagikan spesimen biologis dari 2019.

WHO juga menyampaikan, sangat penting mengetahui bagaimana pandemi Covid-19 mulai, untuk memberi contoh dalam menetapkan asal usul semua peristiwa limpahan hewan-manusia di masa yang akan datang.

WHO berada di bawah tekanan intensif terkait penyelidikan tersebut, di tengah klaim penyelidikan awal terhalang penundaan dan kurangnya data mentah.

Badan tersebut mengatakan China dan “sejumlah Negara Anggota lainnya” telah bersurat ke WHO terkait usulan penyelidikan fase kedua dan penelitian lebih lanjut dari “hipotesis laboratorium” di mana mereka menyebut penelitian tentang asal-usul Covid telah dipolitisasi, atau WHO bertindak karena tekanan politik.

“Saat meninjau laporan penelitian fase satu, WHO menetapkan tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mengesampingkan hipotesis apa pun,” kata pernyataan itu.

“Secara khusus, untuk mengatasi ‘hipotesis lab’, penting untuk memiliki akses ke semua data dan mempertimbangkan praktik ilmiah terbaik dan melihat mekanisme yang sudah dimiliki WHO. WHO hanya fokus pada sains, memberikan solusi dan membangun solidaritas.”

Badan tersebut menekankan, menganalisis dan meningkatkan keselamatan dan protokol laboratorium di seluruh dunia, termasuk di China, penting untuk keselamatan dan keamanan keanekaragaman hayati dunia.

Wuhan adalah rumah bagi dua laboratorium penelitian dengan keamanan tinggi dan Institut Virologi Wuhan yang diketahui melakukan penelitian tentang kelelawar.

Ilmuwan Denmark, Peter Ben Embarek, yang memimpin tim WHO ke Wuhan, mengatakan kepada saluran televisi publik Denmark TV2, seorang pekerja laboratorium yang terinfeksi saat mengumpulkan sampel di lapangan adalah salah satu hipotesis yang mungkin tentang bagaimana virus menyebar dari kelelawar ke manusia.

Embarek mengatakan, kelelawar yang dicurigai bukan dari daerah sekitar kota dan satu-satunya orang yang mungkin mendekati kelelawar ini adalah para peneliti laboratorium Wuhan.

“Mencari asal-usul virus baru adalah tugas ilmiah yang sangat sulit yang membutuhkan waktu,” jelas WHO.

“WHO berkomitmen untuk mengikuti sains, dan kami meminta semua pemerintah untuk mengesampingkan perbedaan dan bekerja sama untuk menyediakan semua data dan akses yang diperlukan sehingga rangkaian penelitian berikutnya dapat dimulai sesegera mungkin.”

Sementara itu China dilaporkan menolak usulan penyelidikan baru WHO ini, termasuk berbagi data mentah kasus awal Covid-19. Dalam pernyataannya pada Jumat, China mengatakan pihaknya lebih mendukung upaya “ilmiah” daripada “politik” untuk menemukan awal mula munculnya virus.

Menurut China penyelidikan awal telah cukup dan menyebut permintaan WHO untuk menyerahkan data tersebut bermotif politis, bukan untuk penyelidikan ilmiah.
“Kami menentang penelusuran politis dan menolak laporan bersama,” kata Wakil Menteri Luar Negeri China, Ma Zoxhue dikutip dari Al Arabiya, Jumat (13/8).

“Kami mendukung penelusuran ilmiah.”

Ma juga menolak usulan penyelidikan baru. Ma mengatakan China menindaklanjuti dan melengkapi penelitian asal usul virus corona sebagaimana yang ditetapkan dalam laporan awal WHO.

“Kesimpulan dan rekomendasi laporan bersama WHO dan China diakui oleh komunitas internasional dan komunitas ilmiah,” ujarnya.

“Kerja penelusuran global di masa depan harus dan hanya dapat dilakukan lebih lanjut berdasarkan laporan ini, daripada memulai yang baru.” 

(pan)Reporter : Hari Ariyanti (merdeka)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.