Jumat , 21 Januari 2022

Banyak Negara Terjun ke Jurang Resesi, Bagaimana dengan RI?

Resesi alias pelemahan ekonomi sedang panas dibicarakan di mana-mana. Secara teori, resesi terjadi apabila perlambatan aktivitas ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut atau lebih dalam satu tahun.

Beberapa negara pun sudah berada di ambang resesi, salah satunya Inggris. Perekonomian Inggris, pada kuartal II-2019 cuma tumbuh 1,2%, melambat 0,6% dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 1,8%. Hal ini juga menjadi angka terendah sejak awal 2018. Sementara untuk periode Mei-Juli, ekonomi Inggris tidak tumbuh alias 0%.

Indonesia sendiri dinilai masih jauh dari jurang resesi, namun bayang-bayangnya masih menghantui Indonesia, pengusaha pun mengingatkan agar ‘sedia payung sebelum hujan’. Bagaimana kisah selengkapnya? Klik halaman berikutnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Moneter, Fiskal, dan Kebijakan Publik Raden Pardede menilai tanda-tanda resesi belum terlihat di Indonesia. Namun, dia mengingatkan perlambatan perekonomian global memang nyata terjadi dan Indonesia tidak akan kebal terhadap hal tersebut

“Kami belum melihat tanda resesi terjadi di Indonesia, namun perlambatan ekonomi dunia yang mengarah ke resesi akan berpengaruh dan harus diwaspadai, Indonesia tidak akan kebal terhadap perlambatan ekonomi dunia ini,” kata Raden kepada detikcom, Minggu (29/9/2019).

Melihat kondisi saat ini, Indonesia memang masih amat jauh dari yang namanya resesi. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari CNBC Indonesia, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 4,2% secara kuartalan pada kuartal II-2019.

Adapun secara kumulatif, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II 2019 hanya 5,05% secara tahunan atau melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,27%.

Raden menjelaskan secara teknis resesi terjadi apabila pertumbuhan ekonomi sebuah negara mengalami pelemahan selama dua kuartal berturut-turut.

Tanda yang lebih konkret menurut Raden adalah daya beli masyarakat yang jatuh hingga jumlah pengangguran yang meningkat. Resesi jelas terjadi kalau Indonesia mengalami hal tersebut.

“Daya beli jatuh, jumlah Pengangguran pun meningkat tajam,” ucap Raden.

Sebelumnya, Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah mengungkapkan bahwa resesi ekonomi bisa membuat masyarakat kehilangan penghasilan yang berujung pada pelemahan daya beli. Pasalnya, kalau resesi sudah terjadi banyak perusahaan yang akan tutup dan otomatis karyawan pun di-PHK.

“Dengan perlambatan ekonomi, beberapa perusahaan bisa tutup, bisa terjadi PHK, terjadi penurunan penjualan dan juga income,” kata Piter saat dihubungi detikcom, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Raden menyatakan bauran kebijakan keuangan negara harus diperhatikan. Stimulus keuangan harus digalakkan sebagai antisipasi bayang-bayang resesi.

“Bauran kebijakan fiskal dan moneter harus dilakukan secara serius. Stimulus fiskal dan penajaman belanja pemerintah, serta dukungan kebijakan moneter yang lebih longgar namun tetap hati-hati,” ujar Raden.

Pemerintah juga diminta untuk memudahkan perizinan dan memperbaiki pelayanan. Sehingga dunia bergeliat karena hambatan usaha bisa terpangkas. Dia juga meminta pemerintah menjaga iklim sosial dan politik agar tetap kondusif. Hal itu dilakukan agar dunia usaha merasa aman dan nyaman.

Lalu, bagi masyarakat Raden mengimbau agak bisa lebih bijak dalam berbelanja. Prioritas belanja rumah tangga harus diperhatikan, dia meminta masyarakat untuk berbelanja sesuatu yang lebih menghasilkan.

“Masyarakat, ikut menyumbang ketenangan dan iklim ekonomi dan bisnis yang baik. Masyarakat bisa membuat prioritas belanja rumah tangga. Belanjalah yang perlu, dan juga yang memberikan hasil di masa depan,” jelas Raden.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *