Senin , 18 Oktober 2021

Benarkah Panjat Pinang Warisan Penjajah Belanda? Sejarawan Bicara

Pemkot Kota Langsa, Aceh melarang lomba panjat pinang pada perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia. Lomba ini dinilai sebagai warisan kolonial Belanda. Namun, dalam perjalanannya, lomba panjat pinang termasuk lomba yang punya simbol penting.

Larangan tersebut tertulis dalam surat Instruksi Wali Kota Langsa bernomor 450/2381/2019 tentang peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2019. Dalam surat tersebut, Usman menginstruksikan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemkot Langsa, kepala desa, dan pimpinan BUMN/BUMD untuk tak menyelenggarakan lomba panjat pinang.

Ada empat poin yang disebutkan dalam surat instruksi itu. Pada poin satu sampai tiga, aparatur sipil negara (ASN) dan kepala desa diminta mengikuti upacara 17 Agustus. Sedangkan poin keempat berisi larangan panjat pinang.

“Tidak melaksanakan kegiatan panjat pinang di setiap gampong dikarenakan secara historis merupakan peninggalan kolonial Belanda dan tidak ada nilai edukasinya,” isi poin keempat.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Langsa M Husin mengatakan surat instruksi tersebut dikeluarkan setelah dilakukan rapat dengan panitia perayaan 17 Agustus. Imbauan tersebut dibuat karena Pemkot menilai lomba panjat pinang merupakan warisan penjajah.

“Pak wali mengimbau sebaiknya itu tidak usah ada. (Kalau tetap digelar) Tidak masalah,” kata Husin saat dimintai konfirmasi wartawan, Kamis (15/8/2019).

Anggapan bahwa panjat pinang merupakan warisan kolonial Belanda, dibenarkan oleh sejumlah peneliti sejarah. Dalam buku ‘Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal’ karya Fandy Hutari, disebutkan bahwa sekitar tahun 1930-an, panjat pinang merupakan hiburan bagi orang Belanda. Biasanya panjat pinang diadakan bersamaan dengan hajatan besar orang-orang Belanda.

Kendati acara ini dimaksudkan sebagai hiburan orang Belanda, namun yang ikut serta dalam lomba panjat pinang lazimnya adalah orang pribumi. Orang Belanda, hanya menonton sambil tertawa-tawa.

“Perlombaan memanjat pohon pinang pada masa ini hanya diikuti oleh orang-orang pribumi. Sedangkan orang-orang Belanda cuma tertawa-tawa menyaksikan orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang. Panjat pinang biasa juga diadakan oleh keluarga pribumi kaya-raya, antek kolonial,” tulis Fandy dalam bukunya.

Penelusuran ini juga dikuatkan oleh buku ‘Indonesia Poenja Tjerita’ yang melibatkan Roso Daras sebagai penyunting ahli. Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa permainan panjat pinang memang merupakan hiburan bagi orang-orang Belanda. Orang Belanda, kala itu hanya menonton para pribumi bermain panjat pinang sambil tertawa-tawa.

Meskipun begitu, dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa ada pula sejarawan yang memaknai panjat pinang dengan cara lain. Panjat pinang juga bisa berfungsi sebagai simbol untuk mengenang semangat perlawanan terhadap penjajah. Permainan ini juga dianggap punya nilai edukasi soal kerjasama hingga semangat pantang menyerah.

Sementara itu, pendapat berbeda disampaikan oleh sejarawan dari Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong. Menurut Anhar, tidak benar jika panjat pinang disebut sebagai warisan Belanda. 

“Tidak benar itu. Itu adanya sekitar tahun 1960-an. Itu hampir serentak di kecamatan-kecamatan di Indonesia,” kata Anhar saat dihubungi detikcom, Jumat (16/8/2019).

Dihubungi terpisah, sejarawan LIPI Asvi Warman Adam menjelaskan, tak ada yang salah dengan panjat pinang. Walaupun akar sejarahnya dari zaman kolonial Belanda.

“Kalaupun itu sudah ada sejak zaman kolonial, apa salahnya diteruskan sebagai hiburan. Tidak semua warisan kolonialisme itu buruk. Sekolah dan rumah sakit contohnya. Keduanya merupakan warisan Belanda,” ujarnya kepada detikcom, Jumat (16/8/2019).

“Jadi saya kira alasan larangan Pak Bupati tidak tepat. Mungkin saja Bupati enggan dimintai menyediakan berbagai hadiah seperti sepeda oleh banyak panitia di sana,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh sejarawan dari Masyarakat Sejarawan Indonesia, Andi Achdian. Dia menyebut bahwa berdasarkan sejumlah uraian, lomba panjat pinang ini memang lahir pada era kolonial Belanda.

“Dari sejumlah uraian sejarah sih, memang begitu, panjat pinang lahir pada era kolonial Belanda. Umumnya saat itu panjat pinang diadakan untuk hiburan. Namun, yang harus diingat bahwa pada era itu juga ada orang Indonesia. Artinya, bisa saja penciptanya tidak tunggal,” kata Andi, Jumat (16/8/2019).

“Pada zaman Sukarno dulu, juga pernah ada sejumlah kalangan nasionalis yang kurang setuju dengan adanya panjat pinang. Tapi toh, panjat pinang juga tidak dilarang,” tuturnya.

Menurutnya kini panjat pinang sudah mengalami transformasi. Panjat pinang bukan lagi hiburan orang Belanda, melainkan sudah jadi hiburan rakyat.

“Harus kita pahami, bahwa selama perkembangannya, panjat pinang telah mengalami transformasi. Ya, sekarang sudah jadi hiburan rakyat lah,” imbuhnya.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *