Jumat , 17 September 2021

Cadangan Devisa Melimpah, Bos OJK Tak Takut Rupiah Melemah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum melihat potensi pelemahan nilai tukar rupiah sebagai risiko yang bakal mengancam kestabilan industri keuangan dalam waktu dekat. Pasalnya, Indonesia dinilai memiliki bantalan cadangan devisa yang cukup besar.

Berdasarkan data Bank Indonesia, per September 2017, cadangan devisa Indonesia mencapai US$129,4 miliar.

Posisi cadangan devisa pada akhir September 2017 tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Nilai tukar rupiah itu kan dikelola dengan memiliki cadangan devisa yang cukup,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso usai menghadiri Prospek Perekonomian Indonesia 2018 di Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis (2/11).

Wimboh tak memungkiri, tantangan ekonomi dan sektor jasa keuangan ke depan adalah normalisasi kebijakan moneter negara maju.

Misalnya, rencana kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS). Kebijakan itu berpotensi memicu keluarnya aliran modal (capital outflow) di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun demikian, Wimboh mengingatkan, kondisi industri jasa keuangan saat ini sudah lebih baik dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Likuiditas perbankan bisa dibilang mencukupi. Per September 2017, rasio pinjaman terhadap simpangan ada di kisaran 88,74 persen atau sudah lebih rendah dibandingkan posisi tahun lalu yang masih berkisar 90 persen.

“Pasar lebih likuid. Bank-bank punga likuiditas yang besar dan rasio kredit bermasalah [NPL] sudah mulai menurun,” ujarnya.

Secara terpisah, Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengungkapkan pelemahan rupiah dan mata uang lain di dunia pada beberapa minggu terakhir merupakan imbas dari dinamika perekonomian AS.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah sempat menembus level psikologis Rp13.620 per dolar AS pada 27 Oktober lalu namun kini telah kembali menguat ke kisaran Rp13.562 per dolar AS.

Agus menyebut, rencana pemerintah AS memangkas tarif pajak memberikan optimisme pada perkembangan ekonomi AS. Kemudian, peluang bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuannya di akhir tahun juga semakin besar berdasarkan sinyal terakhir yang diberikan ke pasar.

Di sisi lain, pasar juga menanti keputusan Presiden AS Donald Trump terkait Gubernur The Fed yang baru mengingat masa jabatan Janet Yellen bakal segera habis. Keputusan Trump menjadi sorotan karena orang nomor satu The Fed bakal mempengaruhi arah kebijakan The Fed ke depan.

“Nanti pemimpin The Fed yang baru apakah akan yang lama atau figur baru. Jika komunikasi tidak terjaga akan menimbulkan banyak ketidakpastian sehingga menimbulkan volatilitas [pasar] yang tinggi,” ujarnya.

Optimisme Dalam Negeri

Kendati terdapat tantangan dari global, Agus menilai, stabilitas perekonomian domestik masih terjaga. Hal itu bisa terlihat dari indikator makro seperti tingkat inflasi yang rendah di level 0,01 persen pada Oktober 2017.

Selain itu, peringkat kemudahan berusaha (EoDB) 2018 Indonesia berdasarkan Survei Bank Dunia juga meningkat 19 peringkat ke posisi 72.

 

Terlebih, Indonesia saat ini juga telah mengantongi predikat layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat internasional, Fitch’s, Moody’s dan Standard & Poor’s.

Dari sisi fiskal, pemerintah juga berkomitmen untuk mengelola anggaran dengan lebih baik sehingga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian dan keuangan domestik.

“Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 juga sudah diputus dan pertumbuhan ekonomi di 2018 akan menjadi 5,4 persen. Defisit anggarannya kalau tahun ini 2,67 persen, tahun depan akan di 2,19 persen jadi menunjukkan pengelolaan fiskal yang lebih baik,” ujarnya.

cnnindonesia.com (safyra primadhyta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *