Kamis , 9 Desember 2021

Dell Technologies: Indonesia Masih Sulit Ikuti Perkembangan Data

Dell Technologies melalui hasil riset globalnya menemukan Indonesia masih sulit mengikuti perkembangan data yang sangat pesat dan mengolah data yang sudah mereka miliki.

General Manager Dell Technologies Richard Jeremiah mengatakan sebagian besar perusahaan di Indonesia kewalahan menangani perkembangan data yang sangat cepat.

Dikatakan, data menjadi beban karena sejumlah faktor penghambat, bukannya menjadi nilai tambah kompetitif bagi perusahaan.

“Di antaranya terdapat kesenjangan keahlian (skill gap) untuk mengelola data, silo data, proses manual, silo bisnis, dan kurangnya keamanan data pribadi,” katanya dalam rilisnya, Senin (30/8/2021).

Saat ini tengah terjadi data paradoks yang dipicu oleh besarnya volume, kecepatan, dan ragam data yang membanjiri perusahaan, teknologi, sumber daya manusia, dan proses.

Dia membagi studi tersebut mendapati secara umum ada tiga paradoks besar. Pertama, sebagian besar perusahaan di Indonesia menyatakan mereka fokus atau mengutamakan data (data-driven), tetapi ternyata masih banyak yang belum memanfaatkan data sebagai modal dan menggunakannya di seluruh lini bisnis mereka.

Kedua, perusahaan-perusahaan di Indonesia secara konsisten menyatakan bahwa mereka perlu lebih banyak data, tapi di saat yang sama mereka juga mengakui kewalahan karena data yang mereka miliki saat ini jauh lebih besar dari yang mampu mereka kelola.

Ketiga, banyak perusahaan mengakui transisi ke model as-a-service akan menguntungkan bagi mereka, tapi hanya beberapa perusahaan yang telah sepenuhnya melakukan transisi tersebut.

“Ketika perusahaan di bawah tekanan besar untuk melakukan transformasi digital untuk mempercepat layanan pada pelanggan, mereka harus mendapatkan lebih banyak data dan harus bisa mengelola data yang mereka miliki dengan lebih baik,” katanya.

Riset Dell melaporkan, 69 persen responden di Indonesia menyatakan bahwa data adalah sumber kehidupan bagi perusahaan mereka. Namun, hanya 22 persen saja yang telah memanfaatkan data untuk mengembangkan bisnis mereka.

Selain itu, hanya 12 persen perusahaan di Indonesia yang secara aktif terlibat di teknologi/pemrosesan data dan memiliki budaya/kemampuan mengelola data. Sebagian kecil perusahaan ini masuk ke dalam kategori Data Champion.

Sementara, 88 persen sisanya, belum menunjukkan kemajuan, baik dari sisi teknologi dan pemrosesan data dan/atau budaya dan kemampuan mereka mengelola data. Bahkan, riset ini menunjukkan bahwa 62 persen perusahaan di Indonesia masih jauh dari tujuan transformasi digital mereka.

Tidak hanya itu, riset ini menemukan 72 persen perusahaan di Indonesia mengumpulkan data lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk menganalisa dan menggunakannya. Bahkan, 67 persen dari mereka tetap membutuhkan lebih banyak data daripada kemampuan yang mereka miliki saat ini.

Akibatnya, ledakan data ini membuat perusahaan harus bekerja lebih keras, bukan lebih mudah. Dalam riset yang dilakukan Dell, ditemukan juga 63 persen perusahaan mengeluh data yang mereka miliki begitu banyak sehingga tidak bisa memenuhi persyaratan keamanan dan kepatuhan.

Sementara itu, 67 persen di antaranya juga mengatakan tim mereka sudah kewalahan dengan data yang mereka miliki.

Adapun, 60% perusahaan di Indonesia menyatakan kurangnya ahli data internal menjadi hambatan untuk bisa mengambil, menganalisis, dan menindaklanjuti data dengan lebih baik dan kurang memadainya keterampilan teknis untuk mengelola sistem penyimpanan data mentah.

Kendati demikian, 65 persen perusahaan di Indonesia melihat peluang untuk mengembangkan atau mengubah permintaan konsumen.

Sementara 68 persen yakin bahwa model as-a-service bisa membuat perusahaan lebih tangkas/lincah. Riset lainnya mengungkap, 64% memprediksi perusahaan bisa menyediakan aplikasi dengan cepat dan mudah.

Meskipun banyak perusahaan mengalami kesulitan saat ini, banyak perusahaan di Indonesia yang ingin menciptakan masa depan yang lebih baik.

Sementara, 54 persen perusahaan berencana untuk menerapkan pembelajaran mesin (machine learning) untuk mengotomatisasi cara mendeteksi data anomali.

Kemudian, 58 persen akan beralih ke model data-as-a-service dan 55 persen berencana untuk melakukan evaluasi menyeluruh kinerja stack mereka agar bisa merancang ulang cara mereka memproses dan menggunakan data dalam 1–3 tahun ke depan.

Akbar Evandio – Bisnis.com

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *