Kamis , 7 Juli 2022

Demo Rusuh Bikin Rupiah dan IHSG Goyah

Aksi demonstrasi yang rusuh menolak pengesahan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) mulai dari KUHP sampai KPK mempengaruhi kondisi pasar keuangan. Bank Indonesia (BI) menyebut aksi demonstrasi ini turut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Kemudian Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengatakan tak kondusifnya iklim politik membuat pelaku pasar melakukan aksi jual.

Namun selain iklim politik di dalam negeri, ada juga sentimen dari luar seperti kondisi Amerika Serikat (AS) dan geopolitik. Berikut berita selengkapnya:

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (25/9) tercatat Rp 14.134, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari sebelumnya tercatat Rp 14.099.

Mengutip Reuters dolar AS tercatat Rp 14.145 dengan angka tertinggi Rp 14.154 dan terendah Rp 14.115.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan saat ini rupiah memang agak sedikit melemah di kisaran Rp 14.100an.

“Rupiah barusan saya cek agak sedikit melemah Rp 14.135 padahal kemarin rupiah anteng di bawah level Rp 14.100, dua minggu lalu Rp 13.900-an,” kata Destry di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Dia menjelaskan ini terjadi karena adanya gabungan sentimen dari domestik dan global. “Demo-demo kok masih berlangsung dan pengaruh ke pasar finansial kita. Kita harap kalau pasar keuangan makin dalam maka gejolak bisa diminimalisir,” jelas dia.

Saat ini kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian. Misalnya dampak perang dagang hingga geopolitik saat ini mengubah kondisi pasar. Selain itu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang masih menyuarakan perang dagang menimbulkan ketidakpastian.

“Kalau kita lihat gambaran ekonomi global seperti apa easingnya, policy-nya, kebijakan moneter dan fiskalnya hingga likuditasnya,” kata Destry.

Dia menjelaskan, Indonesia akan menjadi tempat yang menarik untuk investor global karena masih memiliki return yang menarik, makroekonomi yang masih bagus, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5% dan aliran modal asing yang masuk masih deras.

Kondisi pasar modal sempat berada di zona merah selama dua hari karena investor asing melakukan aksi jual bersih dalam jumlah yang besar. Menurut data perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Senin (23/9) ditutup di level 6.206 turun 25,27 poin atau 0,41%. Kemudian pada Selasa IHSG kembali merosot 68,59 poin ke level 6.137.

Jual bersih oleh investor asing tercatat sebesar Rp 773,35 miliar. Namun pada perdagangan Rabu (25/9) menguat 9 poin IHSG ditutup di posisi 6.146.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo mengungkapkan pergerakan indeks dipengaruhi oleh kondisi politik di dalam negeri.

Memang, beberapa hari terakhir terjadi demonstrasi di sejumlah wilayah di Indonesia. Aksi ini merupakan penolakan pengesahan rancangan undang-undang (RUU) KUHP, RUU KPK.

“Orang sedang mencari katalis positif, namun kebetulan berita politiknya lagi kurang bagus,” kata dia di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Dia mengharapkan kondisi politik dalam negeri segera kembali normal. Menurut Laksono, langkah Presiden Joko Widodo yang meminta penundaan pengesahan RUU tersebut bisa mengembalikan kondisi pasar.

Menurut dia, dalam beberapa hari ini kondisinya diharapkan bisa kembali normal. “Dalam arti sentimen politik, kalau tidak berkelanjutan IHSG bisa balik ke posisi yang lebih fundamental,” imbuh dia.

Selain kondisi nasional, pasar modal Indonesia juga sedang dihadapkan dengan tantangan dari luar negeri terutama Amerika Serikat (AS). Pasalnya mayoritas anggota Dewan Perwakilan AS menyatakan untuk mendukung proses penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump akibat masalah Ukraina. Hal tersebut turut mempengaruhi pasar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku bahwa Pemerintah akan terus menjaga fundamental perekonomian nasional dalam menjaga stabilitas pasar.

“Kita akan jaga selama ini stabilitas di sektor keuangan fundamental kita dari sisi makro ekonomi yang biasanya mendrive sentimen,” kata Sri Mulyani di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini pun mengaku akan memantau neraca keuangan perusahaan. Pemantauan itu dilakukan untuk memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan terbuka dalam kondisi yang baik.

“Sehingga mereka bisa kurangi atau menghilangkan berbagai macam sentimen yang sifatnya sesaat atau karena ada faktor lain. Jadi kembali ke pondasi aja,” jelas dia.

Menurut Sri Mulyani, Pemerintah seringkali menyampaikan perkembangan ekonomi global yang berdampak pada Indonesia. Namun, di satu sisi pemerintah juga tetap menjaga ekonomi dalam kondisi baik

“Pokoknya kita akan jaga fondasinya aja sehingga kita akan tetap komunikasikan kepada pelaku usaha mengenai Indonesia yang stabil dan tetap terkeola dengan baik,” ungkap dia.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *