Sabtu , 28 Mei 2022

Empat Fakta Lonjakan Kasus Covid-19 di Indonesia

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkap empat fakta meningkatnya penularan Covid-19 di Indonesia. Pertama, terlihat dari reproduction rate seluruh pulau di Indonesia sudah berada di atas angka 1.

“Seluruh pulau sudah berada di atas angka 1 (1,02-1,12), yang artinya penularan masih ada dan terjadi di komunitas dengan pola penambahan kasus berlipat atau eksponensial,” katanya melalui keterangan tertulis dilansir dari covid19.go.id, Rabu (9/2).

Menurutnya, angka reproduction rate ini perlu diamati hingga dua pekan ke depan sebelum disimpulkan bahwa kondisi penularan cukup mengkhawatirkan.

Kedua, penambahan kasus harian Covid-19 di Banten, DKI Jakarta, dan Bali sudah melampaui gelombang kedua yang dipicu varian Delta. Kondisi ini berpotensi memunculkan gelombang kasus baru di Indonesia.

Ketiga, terjadi tren kenaikan rawat inap di rumah sakit rujukan Covid-19 secara konsisten sejak 21 Januari 2022.

“Jika tidak segera diantisipasi, maka dapat menyebabkan peningkatan keterisian rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya,” ujarnya.

Keempat, persentase penyumbang kematian terbanyak yaitu orang dengan usia lanjut, pengidap komorbid, dan orang yang belum divaksinasi. Jika angka kematian terus bertambah, maka berpeluang meningkatkan kebutuhan alat, material, dan obat-obatan Covid-19 dalam jumlah besar.

Melihat empat fakta tersebut, Wiku menilai upaya pengendalian Covid-19 perlu dievaluasi dan ditingkatkan di lingkungan masyarakat. Di antaranya kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan dan secara sukarela melengkapkan dosis vaksinasi.

Dia menegaskan langkah ini penting karena orang yang patuh protokol kesehatan masih bisa terpapar Covid-19. Untuk itu perlu mengevaluasi kedisiplinan secara kolektif termasuk melengkapinya dengan vaksinasi untuk bisa saling menjaga.

Khusus terkait efektivitas vaksinasi, merujuk dari Studi Buchan dkk di Ontario Kanada (2021), menyatakan bahwa kekebalan terhadap Covid-19 pada individu akan semakin tinggi seiring dosis vaksinasi yang diterima. Bahkan lebih tinggi 25 persen terhadap varian Omicron setelah mendapatkan booster dosis ketiga.

Selain itu, perlu proaktif melakukan testing. Wiku mengatakan upaya ini penting dilakukan karena sekalipun tak bergejala, kasus positif masih bisa menularkan. Dengan testing, maka seseorang bisa secara valid dinyatakan terpapar.

Masyarakat juga harus membatasi mobilitas serta menjauhi aktivitas di area kerumunan atau ramai. Wiku mengingatkan bahwa semakin tinggi mobilitas maka semakin besar peluang bertemu banyak orang. Begitu juga ketika beraktivitas di tempat ramai.

“Oleh karena itu, di masa penularan kasus yang tinggi ini, sikap hati-hati harus terus ditumbuhkan dan dapat diwujudkan dengan membiasakan diri mempertimbangkan dan menilai risiko penularan sebelum beraktivitas,” ucapnya.

Melakukan skrining kesehatan termasuk menggunakan PeduliLindungi sebelum memasuki fasilitas publik juga harus dilakukan. Hal ini penting mengingat fasilitas publik cenderung padat pengunjung dengan beragam riwayat aktivitas dan perjalanan.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) mengimbau untuk tidak memperbolehkan orang yang sudah jelas bergejala memasuki fasilitas publik. Bahkan bagi yang terlanjur masuk, harus segera diisolasi di tempat terpisah (emergency room).

“Dengan demikian, mencegah penularan di dalam fasilitas publik, maka harus dipastikan seluruh orang yang bisa masuk ialah orang yang benar-benar sehat,” tutupnya.

[fik]

Reporter : Supriatin (merdeka)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *