Kamis , 9 Desember 2021

Fakta La Nina, Badai Penyebab Angin Kencang dan Banjir di RI

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi badai La Nina akan memasuki Indonesia mulai November 2021 hingga Februari 2022.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menghimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan untuk menghadapi fenomena tersebut yang biasanya dibarengi dengan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang dan badai tropis.

“Kita harus segera bersiap untuk menghadapi adanya atau datangnya La Nina seperti tahun lalu. Yaitu La Nina menjelang akhir tahun ini yang diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga moderat atau sedang seperti tahun lalu setidaknya hingga Februari 2022,” kata Dwikorita dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual pada Senin (18/10).

Terdapat sejumlah fakta terkait fenomena tersebut yang perlu diwaspadai. Berikut rangkumannya:
Apa itu badai La Nina?

La Nina merupakan fenomena cuaca ekstrem yang ditandai dengan tingginya curah hujan. La Nina berasal dari bahasa Spanyol, yang berarti ‘Gadis Kecil’. La nina terjadi karena temperatur permukaan laut selatan dan laut Pasifik di sekitar utara Australia, New Guinea, dan kepulauan Indonesia.

Dwikorita mengatakan fenomena tersebut disebabkan oleh perbedaan Suhu Muka Laut (SML) antara Samudra Pasifik bagian tengah, di bagian tropis tengah timur dengan wilayah perairan Indonesia.

“Jadi dengan kata lain, Indonesia lebih hangat dan di sana lebih dingin sehingga terjadi anomaly atau perbedaan, secara teori apabila perbedaan itu mencapai hingga minus 0,5 maka itu dinyatakan sebagai ambang batas terjadinya La Nina,” kata Dwikorita.

Meningkatkan curah hujan

Badai La Nina berdampak pada meningkatnya curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia dengan intensitas tinggi seperti awal 2020 lalu yang menyebabkan banjir besar di Jakarta dan sekitarnya.

BMKG mengatakan La Nina ini terjadi di periode awal musim hujan Indonesia. Alhasil, La Nina bisa meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah.

Dampak La Nina terhadap curah hujan di Indonesia tidak seragam, baik secara spasial maupun temporal, bergantung pada musim atau bulan, wilayah, dan kekuatan La Nina sendiri.

Menurut Dwikorita, La Nina menimbulkan terjadinya massa udara basah atau pasokan udara dari Samudra Pasifik menuju Indonesia yang mengakibatkan terjadinya peningkatan curah hujan karena meningkatkan pembentukan awan hujan dengan tambahan massa udara basah tersebut.

Berbeda dengan badai tropis

Badai La Nina berbeda dengan badai tropis karena La Nina memiliki cakupan yang lebih luas dan masa yang lama. Badai tropis sifatnya lokal atau setempat, kalau La Nina sifatnya global atau regional.

“Dan badai tropis itu tidak sampai berbulan-bulan. Badai tropis itu hanya beberapa hari sampai satu minggu. Tidak sampai satu bulan dan sifatnya sangat lokal dengan kecepatan angin yang tinggi disertai hujan yang lebat, itu perbedaannya,” tambahnya.
Penyebab angin kencang dan petir

Ketika La Nina terjadi, SML di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Selain pengaruh sirkulasi angin monsun dan anomali iklim di Samudera Pasifik, penguatan curah hujan di Indonesia juga turut dipengaruhi oleh penjalaran gelombang atmosfer ekuator dari barat ke timur berupa MJO (Madden Julian Oscillation) dan Kelvin, atau dari timur ke barat berupa gelombang Rossby.

Aktivitas La Nina dan MJO pada saat yang bersamaan ini dapat berkontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. MJO di Indonesia terjadi akibat interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang mengapit Indonesia.

MJO berdampak pada peningkatan curah hujan disertai angin kencang dan petir. Herizal menjelaskan fenomena MJO sendiri merupakan fenomena yang serupa dengan fenomena gelombang ekuator, namun dengan pergerakan ke arah Timur pada kisaran periode selama 22 hari di Indonesia.
Apa yang menyebabkan terjadinya La Nina?

Menurut situs National Oceanic and Atmospheric Administration, fenomena La Nina pada umumnya didahului oleh penumpukan air laut yang telah mengalami penurunan temperatur. Angin yang mengarah ke timur dan ombak laut membantu perpindahan air laut dingin ke permukaan.

Peristiwa La Nina dikaitkan dengan konveksi yang lebih besar dari normalnya di atas benua maritim khususnya Indonesia. Hal itu biasanya akan menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata di sebagian besar wilayah Indonesia dan sekitarnya.

Namun demikian, dampak dari La Nina juga tergantung dari kekuatan La Nina itu sendiri yang terdiri dari tiga kategori, yakni lemah, menengah, dan kuat.

“Dan perlu dicatat juga bahwa dampak dari La Nina ini tergantung juga fenomena-fenomena lain seperti Indian Ocean Dipole, kondisi panas dinginnya laut di Indonesia, maupun angin monsun yang dominan juga mempengaruhi iklim di Indonesia,” ujar Kasubid Analisis Informasi Iklim BMKG Adi Ripaldi (20/10/2020).

(mrh/mik)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *