Kamis , 21 Oktober 2021

Google Kaitkan Syal Khas Palestina dengan Teroris

Hasil pencarian mesin pencari Google merekomendasikan gambar keffiyeh Palestina sebagai tutup kepala yang disukai para teroris.

Rekomendasi itu muncul ketika pengguna menulis kalimat di kotak pencarian Google gambar ‘Syal apa yang dipakai teroris?’ (what do terrorists wear on their head). Hasil pencarian lantas menunjukkan gambar syal khas itu dan memancing kemarahan sejumlah pengguna.

Keffiyeh adalah syal kotak-kotak hitam dan putih khas Palestina dan biasanya dikenakan di sekitar kepala atau leher.

Keffiyeh menjadi simbol nasionalisme Palestina yang dipopulerkan pada tahun 1960 oleh mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat. Syal ini secara luas dianggap sebagai simbol perlawanan Palestina dan sering dipakai hari ini sebagai tanda solidaritas.

Lembaga nirlaba 7amleh telah mengajukan keluhan resmi kepada Google dan sedang menunggu pembaruan dari perusahaan. Google memberi keterangan resmi perihal masalah tersebut.

Nadim Nashif, direktur eksekutif 7amleh: Pusat Arab untuk Kemajuan Media Sosial, mengatakan penemuan tersebut menggambarkan bagaimana perusahaan teknologi besar membentuk narasi negatif tentang Palestina.

“Meskipun tidak jelas bagaimana Google Penelusuran mengaitkan keffiyeh dengan terorisme, 7amleh telah meneliti dan mendokumentasikan bagaimana kebijakan Google – baik di Google Maps, YouTube, atau Google Knowledge Panel- mendiskriminasi orang Palestina,” ujar Nashif, sepeti dikutip Middle East Eye.

Melansir Roya News, sejumlah aktivis Twitter mengungkapkan keterkejutan mereka terhadap keffiyeh yang dilukis sebagai simbol terorisme. Tidak jelas apakah situs web itu mengaitkan keffiyeh dengan terorisme setelah agresi baru-baru ini yang dilancarkan oleh Israel di jalur Gaza atau sebelumnya. 

Aktivis menganggap hasil pencarian Google itu sebagai “puncak rasisme dan penghinaan” terhadap sejarah dan peradaban seluruh rakyat.

“Keffiyeh telah menjadi hiasan kepala historis orang Arab dan Palestina selama beberapa dekade, berasal dari petani dan kemudian menjadi simbol nasionalisme Palestina. Mengaitkan ikon budaya-sejarah ini dengan terorisme adalah tindakan rasis dan tidak manusiawi,” ujarnya.

Di sisi lain, Google dan Amazon menandatangani kesepakatan proyek senilai US$1,2 miliar dengan Israel. Proyek yang disebut Nimbus, akan melihat dua perusahaan teknologi menyediakan layanan cloud untuk sektor publik Israel dan militer Israel.

(jps/eks)cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *