Sabtu , 19 Juni 2021

Halalbihalal dan Saling Memaafkan

PENGALAMAN selama ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan kegiatan halalbihalal ialah berkumpulnya sejumlah orang pada suatu tempat tertentu yang diadakan setelah Hari Lebaran untuk bersalaman sebagai ungkapan maaf-memaafkan. Menarik dicatat, tradisi halalbihalal hanya dijumpai di Indonesia. Karena itu, kegiatan itu tidak dikenal di negara-negara Islam lainnya, bahkan di Arab Saudi tempat asal agama Islam. Walaupun tidak dilakukan di lingkungan masyarakat muslim lain, tradisi itu memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam, khususnya ajaran mengenai perlunya mempererat hubungan silaturahim dan saling memaafkan di antara sesama manusia (QS An-Nur 24:22, Al-Baqarah 2:237, dan Al-Maidah 5:13).

Sulit memastikan kapan tradisi ini muncul, tetapi yang jelas tradisi ini mulai dilembagakan di Tanah Air dalam bentuk upacara sekitar 1940-an dan mulai berkembang luas setelah 1950-an. Kini penyelenggaraan halalbihalal dijumpai pada seluruh lapisan masyarakat muslim, baik di lingkungan instansi negara maupun swasta, serta di lingkungan organisasi- organisasi kemasyarakatan lainnya. Secara linguistik halalbihalal ialah kata majemuk yang terdiri atas pengulangan kata halal dan diantarai sebuah kata penghubung. Kata halal berasal dari akar kata halla atau halala yang mengandung beberapa pengertian. Di antaranya dapat berarti ‘melepaskan ikatan’, ‘mengurai benang kusut’, ‘mencairkan kebekuan’, dan ‘menyelesaikan masalah’.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik suatu benang merah yang merupakan esensi halalbihalal, yaitu aktivitas silaturahim yang dilakukan setelah puasa Ramadan dan setelah salat Idul Fitri untuk lebih mempererat hubungan persaudaraan dan kekeluargaan serta hubungan kemanusiaan di antara anggota keluarga, tetangga, kerabat dan kolega.
Tujuannya agar tidak ada lagi belenggu yang mengganggu, tidak ada lagi kebekuan dan masalah yang merintangi hubungan dan komunikasi di antara sesama.

Perlunya menyucikan jiwa
Islam secara tegas mengajarkan bahwa manusia itu pada dasarnya suci. Hanya dalam perjalanan hidupnya manusia tercemar oleh berbagai dosa. Pencemaran terjadi karena dalam diri manusia ada tendensi untuk mengikuti hawa nafsu yang bersifat irasional dan senantiasa membujuk manusia berpaling dari fitrah kesucian. Hawa nafsu merupakan pangkal dari semua penyakit hati dalam kehidupan manusia, yaitu sombong, arogan, dengki, dendam, benci, iri, rakus, serakah harta dan kekuasaan serta semua bentuk sifat keji lainnya. Hawa nafsu pada dasarnya ialah kecenderungan jiwa yang salah. Allah SWT berfirman: “Andai kata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini (QS Al-Mukminun, 23:71).

Di kalangan sufi dikenal ungkapan ‘musuh manusia yang paling berbahaya adalah nafsunya sendiri’. Ketika usai Perang Badr yang terkenal sangat dahsyat, Nabi SAW berkata kepada para sahabatnya: “Kita baru saja selesai dengan perang yang kecil menuju perang yang lebih besar,” para sahabat terperanjat dan bertanya perang apakah gerangan yang lebih dahsyat daripada Perang Badr, Nabi pun menjawab: “Perang melawan hawa nafsu.” Anehnya, sekalipun telah dianugerahi fitrah yang hanif, manusia tetap merupakan makhluk lemah. Kelemahan utama manusia justru terletak pada dua sifat yang menonjol, yakni kepicikan atau sempit pikiran (al-dha’f) dan kekikiran (al-qatr). Hampir semua bentuk kesalahan, kekhilafan, dan dosa yang diperbuat manusia timbul akibat dua sifat tersebut (perhatikan kandungan QS Al-Ma’rij, 70:19-21, An-Nisa’, 4:128, Al-Hasyr, 59:9, At-Taghabun, 64:16, Al-Isra’, 17:100).

Karena dua sifat buruk: kepicikan dan kekikiran itulah, manusia mudah tergoda oleh daya tarik jangka pendek suatu perbuatan sambil melupakan akibat jangka panjangnya yang sering kali merugikan dan membahayakan, bukan hanya dirinya, melainkan juga keluarga dan orang banyak. Tidak mengherankan jika manusia mudah tergoda untuk berdusta dan menipu secara licik dan keji demi mendapatkan harta, meraih jabatan dan kekuasaan, korupsi, menebar berita hoax dan fitnah, mudah terpicu provokasi yang berakhir konflik.
Kedua sifat buruk itulah yang menjadikan manusia mempunyai sifat tergesa-gesa (panik dan tidak sabaran), dan tidak suka merenungkan akibat jangka panjang dari semua tindakannya (QS Al-Anbiya’, 21:37, Al-Isra’, 17:11, Al-Qiyamah, 75:20-21, Al-Baqarah, 2:10, dan Al-Muzammil, 73:20).

Manusia cenderung sulit menahan diri dari godaan dosa dan zulm (kegelapan) sehingga menjadi pelaku dosa dan dirinya diliputi kegelapan. Makin parah manusia bergelimang dosa makin gelaplah hatinya dan pada akhirnya hati itu akan berubah dari nurani (terang benderang) menjadi zulmani (gelap gulita). Sifat tergesa-gesa membuat seseorang mudah menebar berita hoax dan fitnah tanpa merasa perlu tabayun atau klarifikasi terlebih dahulu. Akibatnya, bagai sumbu pendek yang mudah meledak, manusia mudah sekali terjerumus dalam konflik, permusuhan dan perseteruan lantaran berita hoax dan fitnah tadi. Sifat tergesa-gesa juga membawa kepada sifat sombong dan arogan, serta mudah putus asa atau frustrasi.

Tidak ada makhluk lain di jagat raya yang demikian mudahnya menjadi arogan dan frustrasi seperti halnya manusia. Alquran berulang kali menandaskan kedua sifat tercela ini, yakni jika memperoleh rahmat dari Tuhan, manusia lalu bersikap sombong dan arogan karena merasa rahmat itu datang karena ikhtiarnya semata, bukan karena anugerah Tuhan Sang Pencipta. Sebaliknya, jika rahmat Tuhan ditarik kembali dari dirinya atau mereka ditimpa bencana dan musibah, mereka pun menjadi putus asa dan kecewa, seolah-olah Tuhan tidak pernah menganugerahi mereka rahmat (QS Al-Fussilat, 41:49-51, dan Al-Isra’ 17:83, 10:12). Semua ibadah yang diperintahkan Allah pada hakikatnya bertujuan melatih jiwa manusia untuk mengekang dan mengendalikan hawa nafsu. Puasa, misalnya merupakan media penyucian rohani sebagai latihan pengendalian diri dari berbagai godaan hawa nafsu sehingga menjadi manusia yang bertakwa, yaitu manusia yang menang dalam perjuangan menghadapi segala macam godaan.

jiwa melalui puasa tidak terbatas pada aspek pengekangan diri terhadap kebutuhan fisik material belaka (makan, minum, dan hubungan seksual), tetapi mencakup juga sikap positif yang ditandai dengan sikap syukur kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Alquran menegaskan bahwa puasa yang produktif ialah puasa yang mampu mengantarkan pelakunya menjadi orang yang bertakwa dan bersyukur. Puasa membimbing manusia untuk kembali kepada fitrah, yakni asal kejadiannya. Itulah sebabnya setelah usai berpuasa selama Ramadan umat Islam beridul fitri atau kembali ke fitrahnya.

Diharapkan pada Idul fitri ini setiap individu berhasil tampil kembali sebagai manusia suci seperti ketika ia dilahirkan. Selanjutnya diharapkan melalui tradisi halalbihalal tersebut, manusia dapat terus-menerus menyadari bahwa kesucian ialah pembawaan alami dirinya yang harus dipertahankan dengan ucapan, sikap, dan perilaku yang baik, positif, dan konstruktif. Mengapa harus saling memaafkan? “Mohon maaf lahir batin.” Apa makna ucapan seperti itu bagi seseorang? Para ahli psikologi agama menyebutkan ucapan maaf itu besar maknanya, yakni sebagai langkah awal untuk menyatakan penyesalan.

Itulah tindakan paling sederhana untuk menunjukkan sikap penyesalan seseorang terhadap berbagai kesalahan yang pernah diperbuatnya. Namun, yang lebih berarti bagi seseorang yang melakukan kesalahan ialah bahwa penyesalan yang diucapkan itu sungguh-sungguh merupakan refleksi batin dan sebagai komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Alquran mengajarkan tiga hal yang harus dilakukan seorang muslim yang bertakwa berkenaan dengan orang yang berbuat kesalahan terhadapnya, yaitu menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik kepadanya (QS Al-Maidah, 5:134).

Bahkan, sekalipun orang lain bersumpah untuk tidak berbuat baik kepadanya, ia pun tetap dianjurkan untuk memaafkan dan menghapuskan kesalahannya (QS An-Nur, 24:22). Beridul fitri pada hakikatnya bermakna merayakan kembalinya sifat kemanusiaan sejati. Manusia hendaknya diliputi rasa cinta kasih dan kemurahan hati yang disertai dengan kemampuan menahan marah serta keinginan tulus untuk meminta maaf dan memaafkan sesama. Sikap-sikap terpuji itulah yang sesungguhnya merupakan wujud nyata dari fitrah manusia yang dituliskan Allah dalam diri manusia pada awal penciptaannya (QS Ar-Rum, 30:30).

Kesadaran akan fitrah manusia dan kenyataan bahwa dalam realitas tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan membawa kepada kesadaran baru akan perlunya meminta maaf kepada sesama manusia, terutama kepada orangtua: ibu dan bapak, serta kerabat dekat. Bukan hanya meminta maaf, melainkan juga memberi maaf kepada sesama tidak kalah pentingnya. Sebesar apa pun kesalahan orang lain tidak perlu dihitung. Berpasrahlah hanya kepada Allah karena Dia lebih tahu hitungannya. Yang penting bagi kita ialah memberi maaf dan tunjukkan sikap yang lebih baik.

Memang sangat tidak mudah melakukan ini, tapi itulah perintah agama demi membangun kehidupan damai dan harmoni dengan sesama. Dalam interaksi antarsesama manusia sulit dihindarkan adanya saling benturan kepentingan, salah paham, dan salah persepsi. Namun, kenyataan itu tidaklah membuat manusia mudah melupakan kesalahan orang lain atau meminta maaf. Orang umumnya lebih suka membayar ganti rugi atau membayar sanksi daripada harus meminta maaf sebab meminta maaf diidentikkan dengan kehilangan harga diri atau kehilangan muka. Untuk menghapus keengganan meminta maaf dan memaafkan sesama, agaknya perlu direnungkan sifat-sifat Tuhan yang baik (al-asma’ul husna). Di antara 99 al-asma’ul husna empat yang berkaitan dengan sifat pemaaf, yakni sifat-sifat Al-Ghaffar, Al-Ghafur, Al-Thawwab, dan Al-Afwu.

Sebagai Al-Ghaffar, Allah senantiasa berjanji menutupi kesalahan dan dosa orang-orang yang bertaubat, bahkan kesalahannya akan ditukar dengan kebajikan (QS Al-Furqan, 25:70). Allah SWT menyambut permohonan tulus hamba-hamba-Nya yang berdosa, betapa pun besar dan banyak dosanya selama yang bersangkutan tidak mempersekutukan Allah (QS Al-Furqan, 25:70). Allah SWT memerintahkan manusia agar meneladani-Nya dalam memberi maaf dan ampunan (QS Al-Jatsiyah, 45:15), bahkan ditegaskan bahwa: “Siapa yang bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain maka hal demikian termasuk sifat utama.” (Asy-Syura’, 42:43).

Ampunan Tuhan tak terbatas dan tak ternilai oleh apa pun. Hanya satu syarat yang digariskan, yaitu tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apa pun. Mari kita renungkan bunyi suatu hadis qudsi sebagai berikut: “Hamba-Ku, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa sepenuh isi bumi dosa, Aku pasti menyambut kalian dengan sepenuh bumi ampunan, asalkan kalian tidak mempersekutukan Aku.” (HR Tarmizi dari Anas ibn Malik). Sebagai konklusi dapat disimpulkan bahwa halalbihalal bukan saja menuntut seseorang agar memaafkan orang lain, melainkan lebih daripada itu, yakni agar setiap orang berbuat lebih baik, bahkan yang terbaik, kepada siapa pun.

Itulah landasan filosofis dari halalbihalal. Dengan demikian, esensi halalbihalal tidak terhenti hanya sesudah Lebaran, tetapi hendaknya berlangsung sepanjang masa. Untuk itu, marilah kita pada halalbihalal kali ini membuat komitmen baru pada diri kita masing-masing bahwa sepanjang tahun jiwa kita tetap bersih dan berada dalam koridor fitrah sehing a kta semua tergolong dalam kelompok al-a’idin wal faizin (orang-orang yang kembali ke fitrah dan menggapai kemenangan abadi). Amin, ya rabbal alamin.

Jum’at, 30 June 2017 07:40 WIB Penulis: Musdah Mulia Presiden Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP) Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,Jakarta
(mediaindonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *