Kamis , 7 Juli 2022

Harga Elpiji Non-Subsidi Mahal, Masyarakat Mampu Berpotensi Pindah ke Gas 3 Kg

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira meminta pemerintah dan PT Pertamina (Persero) untuk memperkuat pengawasan distribusi, pasca menaikkan harga gas elpiji non-subsidi.

Menurutnya, hal itu perlu dilakukan lantaran adanya potensi migrasi kelompok ekonomi mampu yang merupakan konsumen pengguna gas elpiji non-subsidi ke gas subsidi kemasan 3 kilogram (Kg). Ini menyusul adanya perbedaan selisih harga yang cukup jauh pasca kebijakan penyesuaian harga.

“Yang pasti, migrasi ini pasti akan terjadi, karena gap harga atau selisihnya sudah semakin jauh,” kata Bhima saat dihubungi Merdeka.com di Jakarta, Jumat (4/3).

Dia menerangkan, potensi tersebut terjadi lantaran mekanisme pemberian program subsidi elpiji bersifat terbuka. Sehingga, masyarakat kelompok ekonomi mampu lebih leluasa untuk melakukan pembelian gas elpiji subsidi kemasan 3 Kg.

“Apalagi, pendapatan masyarakat secara umum belum mengalami perbaikan sebelum seperti masa pandemi terjadi,” imbuhnya.

Maka dari itu, pihaknya meminta pemerintah dan Pertamina untuk lebih serius dalam melakukan pengawasan distribusi gas elpiji subsidi maupun non-subsidi. Sehingga, program subsidi di sektor energi menjadi tepat sasaran dan tidak menimbulkan kelangkaan peredaran gas 3 Kg.

“Ini harus diantisipasi jangan sampai belanja subsidi bengkak. Hal ini justru akan menyulitkan pelaku UMKM ataupun Masyarakat miskin yang betul-betul berhak terhadap elpiji 3 kilogram,” tutupnya.

Rincian Harga Gas Non Subsidi

PT Pertamina (Persero) menaikkan harga LPG non subsidi dua kali dalam rentang waktu tiga bulan. Dengan demikian, LPG non subsidi tabung 5 kilogram (Kg) dan 12 Kg secara resmi mengalami kenaikan.

Merdeka.com melakukan penelusuran harga LPG oleh agen penjualan gas Margahayu, Bekasi Timur. Hasilnya kenaikan terjadi pada rentang harga Rp 191.000 hingga yang paling mahal sebesar Rp 198.000 per tabung dengan ukuran 12 Kg di agen penjualan gas.

“Gas 12 Kg kita jual Rp191.000 per tabung. Ini udah dua kali naik ya, pertama kan Desember lalu,” kata Salah Satu Agen Gas Ucok di Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (2/3).

Ucok mengatakan, harga ini hanya untuk pembelian langsung di agen. Harga akan berbeda jika konsumen membeli gas di warung atau toko kelontong. Harga yang ditawarkan bisa mencapai Rp198.000 hingga Rp200.000 per tabung untuk ukuran 12 Kg.

“Ini harga di agen. Kalau di warung beda lagi. Tergantung mereka. Kan mereka juga ada ongkos angkut dari sini ke tempat dia berjualan. Bisa jadi harga dinaikkan,” katanya.

Ucok mengaku, kenaikan harga ini membuat penjualan gas 12 Kg menurun. Masyarakat enggan membeli karena harganya terus menanjak. “Jarang yang beli sebenarnya barang ini. Paling banyak jelas yang gas melon (3 Kg). Ini (12 Kg) harganya naik terus,” kata dia.

Sementara untuk harga tabung Bright Gas 5,5 Kg di tingkat agen resmi dijual dengan harga pada kisaran Rp 94.000 hingga Rp 98.000 per tabung. Gas ini banyak ditemukan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan minimarket.

Salah satu petugas SPBU di kawasan Bekasi mengatakan, adanya kenaikan ini, tidak berpengaruh terhadap penjualan. Sebab, target konsumen adalah restoran atau rumah makan, serta pembeli-pembeli besar seperti hotel.

“Kalau disini targetnya restoran-restoran untuk kalangan atas. Jadi tidak ada penurunan yang signifikan. Dia tetap beli meski ada kenaikan,” jelasnya. [idr]

Reporter : Sulaeman

kutipan : merdeka.com

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *