Minggu , 28 November 2021

Harga Minyak Goreng Terus Naik, Murni karena Lonjakan Harga CPO?

Kenaikan harga minyak goreng baik curah maupun dalam kemasan yang terjadi di banyak tempat memukul tak hanya konsumen tapi juga para pedagang. 

“Harga cukup parah naiknya kali ini, bisa Rp 5 ribu sendiri naiknya. Merek Tropical biasanya Rp 30 ribu, sekarang bisa Rp 35 ribu per 2 liter,” kata Soleh, salah satu penjual di Fresh Market Cikunir, Bekasi, kepada Tempo, pada Jumat, 29 Oktober 2021.

Kenaikan harga tersebut, kata Soleh, terjadi hampir di semua merek minyak goreng dalam kemasan. Bahkan, ada harga minyak goreng kemasan dijual Rp 17.000 per liter. 

Salah satu pedagang di Pasar Slipi, Jakarta Barat, bernama Syawal menyebutkan harga minyak goreng curah sudah naik sejak sekitar dua bulan lalu, dari Rp 15.000 per liter dan kini menjadi Rp 19.000 ribu per liter. 

Sedangkan untuk harga minyak goreng kemasan semula berkisar Rp 28.000 – Rp 30.000 per dua liter, tapi sekarang naik menjadi Rp 32.000 – Rp 35.000 per dua liter.  “Naiknya bertahap dan sekarang harganya menjadi seperti itu,” kata pria berusia 65 tahun itu.

Kenaikan harga minyak goreng itu tak ayal membuat penjualan di kiosnya menurun. “Biasanya dalam sehari saya bisa menjual enam kemasan minyak goreng ukuran dua liter, tapi sekarang hanya bisa menjual dua kemasan saja berukuran dua lter,” ucap Syawal.

Hal senada disampaikan oleh Ahmad. Pedang sembako berusia 50 tahun yang berjualan di Kembangan, Jakarta Barat, mengaku pendapatannya menurun akibat kenaikan harga minyak goreng. “Harapan saya, harga kembali normal, sehingga penjualan dan pembelian pun bisa normal,” kata dia.

Salah satu penjual goreng di Cikunir, Ade, mengaku cukup pusing dengan kenaikan harga produk itu. Pasalnya, harga minyak goreng cukup berpengaruh terhadap harga produk yang dijualnya selama ini. 

“Mau naikin harga, tapi nanti dibilang kemahalan. Susahnya, karena saya jualan gorengan, mau nggak mau minyak jadi bahan penting buat jualan saya,” ujar Ade.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebutkan kenaikan harga minyak goreng di pasaran saat ini terpengaruh oleh tingginya harga minyak sawit mentah (CPO) dan kurangnya pasokan bahan baku di pasar minyak nabati dan lemak secara global.

Saat ini, kata Sahat, harga CPO global yang menjadi acuan yaitu CiF Rotterdam sedang tinggi. Akibatnya, harga CPO lokal ikut melonjak dan berpengaruh pada biaya produksi industri minyak goreng kelapa sawit.

Lebih jauh ia menjelaskan, kondisi pasar minyak nabati dan lemak (oils & fats) global tengah mengalami kekurangan pasokan akibat pandemi dan cuaca buruk. Kategori minyak nabati hard oils ialah minyak sawit, minyak kernel, dan minyak kelapa.

Kategori soft oils adalah minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak canola, minyak bunga matahari dan lainnya. Sedangkan kategori lemak terdiri dari minyak ikan dan hewan lainnya.

Adapun produksi minyak canola di Kanada dan produksi minyak kedelai di Argentina sedang turun dan memicu lonjakan harga komoditas minyak nabati. Produksi CPO di Malaysia juga menurun akibat kekurangan tenaga kerja untuk memanen buah sawit.

“Hukum ekonomi supply vs demand berlangsung terjadi. Pasokan oils & fats dunia sangat berkurang. Inilah faktor utama terjadi short supply, maka harga minyak sawit di pasar global meningkat pesat sejak Januari 2021,” kata Sahat.

Ia menyebutkan kondisi seperti ini pernah terjadi di tahun 2020 di mana produksi 17 jenis minyak nabati dan lemak menurun 266 ribu ton dibanding produksi tahun 2019 yang sebanyak 236.820 ribu ton. Dari data yang ada diketahui, produksi minyak nabati dan lemak pada tahun 2021 ini hampir sama dengan hasil tahun 2020.

Lebih jauh Sahat memprediksi kenaikan harga sawit masih akan terjadi, setidaknya hingga kuartal I tahun 2022. Pasalnya, kedua faktor penghambat produksi minyak nabati yaitu pandemi Covid-19 dan cuaca buruk.

“Suasana kenaikan harga sawit ini juga didukung oleh minyak bumi (Brent Oil) yang sekarang ini harga global berada di level US$ 85,53 per barel, dari harga US$ 43,8 per barel di tahun lalu,” kata Sahat.

Adapun berdasarkan data panel harga Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, harga rata-rata minyak goreng secara nasional per 27 Oktober mencapai Rp 16.230 per liter, atau naik Rp 150 atau 0,93 persen dibandingkan hari sebelumnya. Harga minyak goreng paling tinggi di Provinsi Aceh Rp 17.380 per liter dan paling rendah di Bengkulu Rp 14.890 per liter.

FAIRUZ AMANDA PUTRI | ANTARA

Reporter: Tempo.co Editor: Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *