Sabtu , 19 Juni 2021

Hati-hati! Ramai Lagi Pencurian Uang di Rekening Bank

Kasus kehilangan uang di rekening bank terjadi lagi. Model atau skema pencurian ini adalah skimming atau penyalinan data dari kartu ATM/debit yang menggunakan magnetic stripe.

Skimming disebut masih akan terjadi selama pelaku utama yang berasal dari negara lain belum ditangkap dan operasionalnya dihentikan.

Lalu bagaimana modus sebenarnya? Berikut berita selengkapnya:

Salah satu nasabah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menceritakan pengalaman tak menyenangkan di akun twitternya. Ia kehilangan uang sebesar Rp 80 juta dari rekeningnya.

Setelah ia mencetak buku, uang yang ada di tabungannya hilang hingga Rp 70 juta dengan nominal Rp 2,5 juta per transaksi tarikan. Kemudian dilanjutkan hilang Rp 10 juta dengan nominal Rp 2,5 juta setiap penarikan.

Analyst Digital Forensic Ruby Alamsyah mengungkapkan modus skimming yang terjadi pada salah satu nasabah Bank BRI merupakan modus yang biasa digunakan.

“Kemungkinan besar masih modus ATM skimming seperti sebelumnya. Jadi data kartu dan PIN nasabah sudah didapatkan oleh pelaku organisasi kriminal internasional sebelumnya,” kata Ruby saat dihubungi detikcom, Kamis (5/9/2019).

Dia menyampaikan, setelah pelaku internasional mendapatkan data, maka tim operasional lapangan digerakkan untuk menarik uang tersebut.

“Tim operasional itu biasanya melakukan penarikan dana dari kartu ATM baru yang mereka gandakan dengan data-data ATM dan PIN yang mereka sudah dapatkan sebelumnya,” jelas dia.

Ruby mengungkapkan, kasus ATM skimming ini tidak akan pernah berhenti jika teknologi kartu ATM masih menggunakan teknologi magnetic stripe seperti saat ini. Atau jika otak pelaku tersebut tidak ditangkap dan ditutup operasionalnya. Skimming merupakan teknik murni dengan menggandakan data dari kartu yang menggunakan strip magnetik.

Analyst Digital Forensic Ruby Alamsyah mengungkapkan dalam periode dua tahun terakhir pelaku organisasi kriminal internasional tersebut, menambahkan Bali sebagai salah satu lokasi operasional mereka.

“Bali jadi lokasi yang ditambahkan mereka untuk melakukan penarikan tunai dari hasil kriminal penggandaan data kartu ATM yang dilakukan,” kata Ruby saat dihubungi detikcom, Kamis (5/9/2019).

Dia mengungkapkan, tindakan kriminal tersebut berlaku untuk korban nasabah di bank lokal Indonesia. “Juga mereka yang telah melakukan penarikan tunai untuk kartu ATM warga negara asing yang mereka gandakan juga,” jelas dia.

Menurut Ruby, penambahan Bali sebagai salah satu negara operasional memiliki beberapa alasan, antara lain: Pelaku warga negara asing (WNA) yang melakukan operasional di ATM Bali dapat berkamuflase sebagai turis, tanpa terlalu dicurigai.

Kemudian untuk penarikan dari penggandaan data ATM dari nasabah WNA, akan terkesan terlihat transaksi normal. “Jadi seperti orang asing itu sedang menarik dana di mesin ATM di Pulau Bali, dengan alasan banyak turis asing yang berwisata ke Bali,” jelas dia.

Ruby mengatakan, kasus ATM skimming ini tak akan pernah berhenti jika teknologi kartu yang digunakan masih menggunakan pita magnetik seperti yang saat ini masih ada. Kemudian otak dari komplotan tersebut harus ditangkap dan ditutup operasionalnya.

Modusnya masih sama, yakni menyalin data dari kartu ATM yang menggunakan magnetic stripe dan pelaku menggandakan data dengan menciptakan kartu baru.

detikers, analyst digital forensic Ruby Alamsyah membagikan tips agar aman dan nyaman memiliki simpanan di rekening bank.

Ruby menjelaskan jika memiliki rekening di bank ada baiknya jika mengaktifkan fitur notifikasi atau pemberitahuan melalui SMS.

“Mereka masih menggunakan metode yang sama. Jadi bisa dengan mengaktifkan fitur notifikasi SMS untuk semua jenis transaksi,” kata Ruby saat dihubungi detikcom, Kamis (5/9/2019).

Dia menjelaskan, jika nasabah khawatir atau ragu dengan keamanan saat ingin menggunakan mesin ATM, bisa menggunakan mesin ATM yang berada di lokasi kantor bank ataupun yang selalu dijaga petugas keamanan 24 jam.

“Karena pelaku selama ini belum pernah memasang alat Skimmer di lokasi seperti itu, risiko mereka ketahuan itu tinggi kalau pasang di sana,” ujarnya.

Selain itu, nasabah juga diminta untuk memeriksa mutasi rekening secara berkala dan identifikasi apakah ada transaksi yang mencurigakan. Jika memang ada yang mencurigakan bisa langsung melaporkan ke pihak bank untuk segera ditindak.

Kemudian, nasabah diharapkan mengganti nomor PIN secara berkala, terutama setelah melakukan transaksi menggunakan mesin ATM yang mencurigakan.

Ketika menggunakan mesin ATM, saat menekan tombol PIN, tutupi dengan tangan yang lain, agar terhindar dari kemungkinan adanya kamera pengintai yang mengarah ke tombol PIN.

Menurut dia, jika sudah mengganti nomor PIN maka pelaku yang sudah menyalin data tetap tak bisa melakukan transaksi penarikan tunai.

“Kalau nasabah sering menggunakan mesin ATM di lokasi yang aman mestinya tak perlu terlalu sering diganti PIN nya, tapi kalau sering pakai di mesin ATM yang lokasinya kurang aman, maka perlu dilakukan penggantian nomor PIN yang lebih rutin,” jelas dia.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *