Senin , 27 September 2021

Hati-hati, WhatsApp di-Hack Teknologi Asal Israel?

whatsapp

Pejabat pemerintah di beberapa negara sekutu Amerika Serikat (AS) menjadi target peretasan perangkat lunak yang menggunakan WhatsApp Facebook Inc. Tujuannya adalah untuk mengambil alih ponsel pengguna.

Sumber yang mengetahui tentang investigasi internal WhatsApp terhadap pelanggaran tersebut mengatakan sebagian besar korban diketahui adalah pejabat tinggi pemerintah. Pejabat militer yang tersebar di setidaknya 20 negara di lima benua dan mayoritas beraliansi dengan AS.

Atas hal itu, WhatsApp mengajukan gugatan terhadap pengembang alat peretasan Israel NSO Group. Raksasa perangkat lunak milik Facebook itu menuduh NSO Group membangun dan menjual platform peretasan yang mengeksploitasi kelemahan di server milik WhatsApp, untuk membantu klien meretas setidaknya 1.400 pengguna sejak 29 April 2019 hingga 10 Mei 2019.

Jumlah total pengguna WhatsApp yang diretas bahkan bisa lebih tinggi. Seorang pengacara hak asasi manusia (HAM) di London, yang termasuk di antara target peretasan, mengirim foto-foto yang menunjukkan adanya upaya membobol teleponnya sejak 1 April.

Meskipun belum jelas siapa yang menggunakan perangkat lunak untuk meretas ponsel para pejabat, NSO diduga sempat mengatakan bahwa mereka menjual spyware secara eksklusif kepada pelanggan pemerintah.

Menurut sumber Ruters, beberapa korban peretasan berada di Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Bahrain, Meksiko, Pakistan dan India. Beberapa warga negara India bahkan telah mengklaim termasuk di antara target peretasan selama beberapa hari terakhir, termasuk jurnalis, akademisi, pengacara, dan pembela komunitas Dalit India.

“NSO mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya “tidak dapat mengungkapkan siapa atau mendiskusikan penggunaan spesifik teknologinya,” tulis Reuters lagi, Jumat (01/11/2019).

Sebelumnya, mereka membantah melakukan kesalahan, dengan mengatakan produk-produknya hanya dimaksudkan untuk membantu pemerintah menangkap teroris dan penjahat.

Namun, peneliti cybersecurity meragukan klaim tersebut seraya mengatakan produk NSO digunakan terhadap berbagai target. Termasuk pemrotes di negara-negara di bawah pemerintahan yang otoriter.

Citizen Lab, kelompok pengawas independen yang bekerja dengan WhatsApp untuk mengidentifikasi target peretasan, mengatakan bahwa setidaknya 100 korban adalah tokoh masyarakat sipil, seperti jurnalis dan pembangkang, bukan penjahat.

John Scott-Railton, seorang peneliti senior di Citizen Lab, mengatakan tidak mengherankan bahwa pejabat asing akan menjadi sasaran juga.

“Adalah rahasia umum bahwa banyak teknologi yang dicap untuk penyelidikan penegakan hukum digunakan untuk spionase negara-ke-negara dan politik,” kata Scott-Railton.

Sebelum memberi tahu para korban, WhatsApp memeriksa daftar target terhadap permintaan penegakan hukum yang ada, untuk informasi yang berkaitan dengan investigasi kriminal. Seperti kasus terorisme atau eksploitasi anak.

Tetapi perusahaan tidak menemukan tumpang tindih, kata seseorang yang akrab dengan masalah ini. Pemerintah dapat mengirimkan permintaan informasi tersebut ke WhatsApp melalui portal online yang dikelola perusahaan.

WhatsApp mengatakan telah mengirimkan pemberitahuan dan peringatan kepada pengguna yang terpengaruh oleh hal tersebut. Perusahaan menolak untuk mengomentari identitas klien NSO Group, yang bertugas memilih target.

sumber : cnbc Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *