Selasa , 15 Juni 2021

Jurus Maut Milla Gagal Total

KEDATANGAN Luis Milla Aspas sebagai suksesor Alfred Riedl pada awal tahun ini memberikan harapan permainan khas tiki-taka Spanyol akan ditularkan kepada timnas Indonesia. Benar saja, skema 4-3-3 terus menjadi formasi andalan pelatih 51 tahun yang sementara ditugasi memimpin timnas Indonesia U-22.

Akan tetapi, jurus yang dipersiapkan Milla selama lima bulan terakhir menemui kata gagal di laga pembuka Grup H kualifikasi Piala Asia U-23 2018 di National Stadium Bangkok, Rabu (19/7). Timnas ‘Garuda Muda’–julukan Indonesia–dipaksa menyerah dari Malaysia U-22 dengan skor telak 0-3.

Indonesia memang menguasai jalannya pertandingan dengan mendominasi alur bola sebanyak 55{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}. Sebelas kali kesempatan pun diciptakan Gian Zola dkk. Dari sisi itu, Milla bisa dikatakan sudah mampu menduplikat ide tiki-taka di timnas Indonesia U-22.

Akan tetapi, permasalahan datang ketika pelatih Malaysia U-22 Ong Kim Swee menerapkan permainan lebih cerdas. Swee mengistruksikan pemainnya bermain lebih menunggu dengan strategi zonal marking dengan formasi 3-4-3 untuk membatasi gerak lini tengah. Syafiq Ahmad dkk juga berhasil memanfaatkan setiap celah buruknya antisipasi lini belakang skuat ‘Merah Putih’ di babak pertama.

Walhasil, tiga gol menjadi mimpi buruk Indonesia. Diawali sontekan Syafiq Ahmad pada saat laga baru berjalan 5 menit, kemudian sundulan Jafri Firdaus Chew pada menit ke-19, dan terakhir sumbang-an N Thanabalan yang merobek gawang kiper Satria Tama Hardiyanto untuk ketiga kalinya saat laga genap setengah jam.

Milla pun tidak menampik buruknya permainan anak didiknya di paruh pertama menjadi biang kerok kegagalan. “Masalahnya ada di babak pertama. Gol pertama membuat kami kesulitan dan gol itu membuat mental kami tidak siap di awal. Di babak kedua kami bermain lebih baik, tapi semuanya lebih sulit karena kami ketinggalan tiga gol,” tutur Milla.

Usaha Indonesia mengejar gol di babak kedua semakin sulit karena harus bermain hanya dengan 10 pemain. Pemain muda PSM Makassar Asnawi Mangkualam yang baru masuk di awal babak kedua harus dikeluarkan wasit karena tekel keras, 20 menit menjelang laga usai.

Disiplin

Kritik menghujani Milla setelah memarkir dua pemain andalan Hansamu Yama Pranata dan Evan Dimas Darmono sejak menit pertama. Absennya kedua pemain itu nyatanya membuat timnas Indonesia U-22 demam panggung. Seperti diketahui, baik Evan maupun Hansamu merupakan pemain yang paling berpengalaman di skuat ‘Garuda Muda’ saat ini.

Evan yang dimasukkan di paruh kedua terbukti memberikan dampak signifikan dalam tim. Alur bola lancar dan lini tengah lebih hidup.

“Ini bagian dari strategi. Mereka pemain penting, saya memasukkan Evan di babak kedua dan permainan membaik, tapi kondisi sudah sulit karena kami sudah kebobolan tiga gol dari Malaysia,” imbuhnya lagi.

Di sisi lain, pelatih timnas Malaysia Ong Kim Swee menyebut kedisiplinan anak didiknya menjadi kunci. “Saya mengatakan kepada pemain saya disiplin dan mereka melakukan semua dengan baik. Indonesia bermain baik dan punya kecepatan,” jelasnya.

Hasil itu membuat Indonesia wajib tampil sempurna dalam dua laga sisa melawan Mongolia dan tuan rumah Thailand untuk setidaknya bersaing memperebutkan tiket runner-up terbaik.

(mediaindonesia.com-r-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *