Selasa , 5 Juli 2022

Kasus Covid-19 DKI Gawat, Epidemiolog: Segera Lockdown atau WFH 100 Persen

Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mengatakan lockdown merupakan opsi yang paling optimal untuk mengatasi kasus Covid-19 yang kini tengah meroket terus, khususnya di di DKI Jakarta.

Meski begitu, Dicky mengatakan lockdown tak bisa dilakukan hanya di Ibu Kota saja.

“Karena ini kombinasinya di semua daerah, gak cuma Jakarta. Se-Jawa ini,” ujar dia lewat pesan suara pada Ahad malam, 27 Juni 2021. 

Dicky mengatakan kondisi pandemi Covid-19 saat ini semakin parah. Terlebih, virus, tersebut kini telah mencapai kelompok yang rawan dan beresiko tinggi, baik dari segi usia, komorbid, atau faktor resiko lainnya.

Selain lockdown, Dicky menawarkan opsi lain yaitu perusahaan memberlakukan 100 persen bekerja dari rumah atau work from home alias WFH bagi karyawannya selama dua pekan ke depan.

Hal itu, menurut dia, dapat secara signifikan menekan penularan Covid-19 lantaran pergerakan masyarakat dibatasi. “2 pekan itu kita evaluasi dan itu harus dilakukan kalau memang pemerintah serius. Tapi harus se-Jawa, tidak bisa Jakarta saja,” kata Dicky.  

Seperti diketahui sebelumnya, saat ini Ibu Kota tengah dilanda lonjakan kasus Covid-19 signifikan. Dan berlangsung beberapa hari.

Kemarin, Dinas Kesehatan mencatat ada 9.271 kasus Covid-19 baru. Hari ini jumlahnya meningkat, di mana ada 9.394 kasus baru ditemukan dalam sehari.

Ia mengatakan saat ini pandemi Covid-19 di Indonesia sudah tergolong luar biasa. Untuk mengatasinya, menurut Dicky, diperlukan pula upaya yang luar biasa. Ia pun mengkritik strategi komunikasi resiko pemerintah yang justru membuat masyarakat bingung.  

Misalnya, di satu sisi pemerintah menerapkan pembatasan secara ketat. Namun, di sisi lain, masyarakat diperbolehkan berkeliaran ke mana-mana. “Strategi komunikasi resiko kita itu buruk dalam situasi seperti ini .Akhirnya membuat masyarakat semakin abai dan tidak terbangun sense of crisisnya,” tutur dia terkait kasus Covid-19 Tanah Air yang mencemaskan. 

Reporter: Adam Prireza Editor: Dwi Arjanto (tempo.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *