Kamis , 21 Oktober 2021

Katanya Resesi Sudah Dekat, Terus Gimana Dong? (1)

Resesi. Kata itu belakangan ini menjadi momok dan sumber percakapan dari kelas warung di pinggir jalan sampai coffee shop hotel bintang lima. Di group telegram yang saya asuh pun, bernama Seputar Keuangan, hampir setiap minggu ada saja pertanyaan dengan topik seputar Resesi.

Jadi apa itu Resesi dan bagaimana kita harus menyikapinya dan apa yang bisa kita lakukan untuk bisa bertahan di tengah resesi tersebut?

National Bureau of Economic Research (NBER) mengatakan bahwa resesi itu adalah ‘periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebar di seluruh ekonomi dan berlangsung selama lebih dari beberapa bulan’.

Beberapa literasi mendefinisikan resesi terjadi ketika tingkat pertumbuhan PDB negatif untuk dua kuartal berturut-turut atau lebih. Tetapi resesi mungkin saja terjadi sebelum laporan PDB triwulanan keluar.

Tapi secara umum, resesi adalah ketika ekonomi menurun secara signifikan, setidaknya selama enam bulan. Penurunan itu biasanya menyerang lima indikator ekonomi, yaitu PDB riil, pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel.

Isu resesi mulai sering bermunculan dengan tidak berakhirnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dalam beberapa tahun ke belakang. Resesi tidak hanya terjadi di luar negeri bisa juga menjalar ke Asia bahkan Indonesia, dan seluruh dunia.

Kondisi Indonesia sendiri yang sudah beberapa tahun terakhir tidak baik dan tidak menunjukkan gejala perbaikan bisa memperburuk keadaan bila resesi tersebut datang. Itulah sebabnya mengapa kata resesi ini kemudian banyak mendapatkan perhatian dari khalayak ramai.

Terus bagaimana dong? Apa yang harus saya lakukan? Anda mungkin bertanya-tanya seperti itu. Mari kita bahas apa yang harus dilakukan.

Anda sebaiknya tetap tenang. Keadaan akan semakin memburuk apabila anda kemudian panik yang mengakibatkan membuat keputusan yang salah. Dalam kondisi sulit anda harus berada dalam kondisi prima untuk membuat suatu keputusan yang baik agar justru tidak memperkeruh dan mempersulit suasana.

Resesi ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi kalau tidak dipersiapkan dengan baik memang bisa membuat keuangan anda dan keluarga kacau balau.

Dana Cash/Likuid

Berkaca pada resesi sebelum-sebelumnya, ketika kondisi resesi datang, maka orang cenderung akan mencoba bertahan hidup. Akibatnya orang akan menahan untuk tidak mengeluarkan uang.

Yang kemudian terjadi adalah uang menjadi sulit untuk didapatkan alias likuiditas menjadi sulit. Apabila kondisi ini terjadi, maka yang harus anda persiapkan adalah likuiditas sebanyak mungkin.

Pepatah “Cash is the King” menjadi sangat berarti saat ini. Oleh sebab itu, persentasi dana dan investasi anda yang setara likuid dibanding aset tetap seperti properti dan aset tetap lainnya harus lebih besar jumlahnya.

Mengapa demikian? Hal ini penting apabila anda membutuhkan dana saat kondisi sulit, maka investasi likuid bisa mempercepat anda mendapatkan dana tersebut dibandingkan menjual aset tetap.

Oleh sebab itu mulai dari sekarang segera membuat mencatatan daftar aset anda, dan buatlah pengelompokan antara aset likuid, aset tetap, aset guna (dipakai), dan jenis aset lainnya.
Anda bisa membuat pencatatan sendiri atau bila tidak ingin repot anda bisa menggunakan aplikasi secara gratis bisa diunduh di sini. Selain itu anda juga bisa mengikuti kelas dan workshop, infonya bisa anda dapatkan dari aplikasi tersebut di atas atau anda bisa cek di sini.

Apalagi yang harus dipersiapkan selain dana likuid? Simak pembahasannya di tulisan berikutnya.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *