Sabtu , 28 Mei 2022

Kebutuhan Kedelai 3 Juta Ton Setahun, 80 Persen Dipenuhi dari Impor

Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin menyebut bahwa perajin tahu dan tempe nasional membutuhkan 3 juta ton lebih pasokan kedelai dalam satu tahun. Dari jumlah tersebut, 1 juta ton kedelai digunakan untuk membuat tahu. Sedangkan untuk membuat tempe sekitar 2 juta ton.

“Kondisi saat ini kedelai kami butuh satu tahun, lebih kurang 3 juta ton. Dari 3 juta ton itu 80 persen lebih impor, produksi lokal hanya 10 persen lebih,” kata Aip dalam konferensi pers bersama Kementerian Perdagangan tentang kedelai, Jumat (11/2).

Oleh karena itu, Gakoptindo mengusulkan kepada pemerintah, dan sudah direspon baik Menteri Pertanian. Beliau akan meningkatkan produksi kedelai lokal minimal paling tidak sebesar 30 persen.

“Sebagai informasi bagi masyarakat, kami membuat tahu kita lebih cocok menggunakan kedelai lokal. Sedangkan membuat tempe lebih cocok kedelai impor,” ujarnya.

Dia menegaskan, kedelai lokal itu tinggi protein dan non-GMO (Genetically Modified Organism), kualitasnya bagus, gizi, serta kandungan kalorinya lebih tinggi dibanding kedelai impor. “itu dibuktikan dengan berbagai laboratorium sucofindo, ITB dan dan lain-lain,” imbuhnya.

Di sisi lain, Gakoptindo berterimakasih kepada importir karena pasokan bahan baku kedelai selalu ada. Sebab, jika pasokan kedelai tidak ada. Maka mereka terpaksa berhenti berproduksi tahu dan tempe.

“Anggota kami hampir 5 juta, anggota kami pengrajin tempe tahu tidak bisa produksi lagi kalau kedelainya tidak ada, karena tidak ada bahan lain untuk membuat tahu tempe, kecuali kedelai,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga berkomitmen untuk menjaga harga kedelai di tingkat importir sebesar Rp10.500 – 11.500/kg pada Februari 2022 dan akan ditinjau kembali setiap akhir bulan berdasarkan perkembangan harga kedelai dunia.

“Jadi kami siap memasok kedelai yang dibutuhkan perajin tempe tahu. Soal harga, memang harga kedelai dunia berfluktuasi naik turun yang barangkali tidak bisa kami prediksi, dari kami nanti akan menyesuaikan saja dengan perkembangan harga kedelai dunia,” pungkas Hidayatullah.

Reporter: Tira Santia (merdeka)

Sumber: Liputan6.com

[idr] dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *