Senin , 27 September 2021

Kemenkes soal Rekor Kematian: Ada Perbaikan Data dari Daerah

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan rekor kematian warga terinfeksi virus corona (covid-19) di Indonesia yang mencapai 2.069 kasus pada hari ini terjadi lantaran perbaikan data yang dilakukan sejumlah daerah.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan beberapa daerah melaporkan telah memperbarui data kematian covid-19 mereka di situs New All Record (NAR). Kendati demikian, Nadia tak merinci daerah mana saja yang dimaksud.

“Iya (delay), mereka mengupdate datanya sendiri. Jadi ada perbaikan data yang baru dikirimkan kabupaten/kota,” kata Nadia melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/7).

Nadia sekaligus menjelaskan problema gap perbedaan data kematian warga terpapar virus corona antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang sempat menjadi pembahasan publik dalam sepekan terakhir.

Nadia mengatakan, perbedaan itu kemungkinan besar terjadi lantaran masih ada pemerintah daerah yang memasukkan data kematian probable dan suspek covid-19 pada sistem NAR. Sementara pemerintah pusat hanya akan mengolah data kasus kematian yang sudah terkonfirmasi positif covid-19 saja.

Sejumlah daerah, kata dia, mencatatkan kasus probable sebagai laporan kepada pemerintah pusat dan mereka kerap tidak memperbarui data kematian, manakala hasil tes laboratorium pasien covid-19 yang meninggal sudah keluar.

Kondisi itu menurut Nadia menjadikan gap kasus kematian terjadi, lantaran meski kemudian pasien covid-19 yang probable atau suspek itu negatif covid-19. Namun Pemerintah daerah luput tidak melaporkan lagi ke Kemenkes.

“Ini yang sering terjadi, karena tidak diupdate atau data dukungnya tidak ada, sehingga ada gap jumlah kematian,” kata dia.

Dihubungi terpisah, Kabid Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Alexander K. Ginting turut membenarkan, jumlah kematian covid-19 yang tinggi imbas delay data antara pemerintah daerah dan pusat.

Namun, Alex juga menambahkan bahwa kasus kematian yang tinggi imbas pasien covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman) mengalami perburukan gejala dan berujung meninggal dunia.

“Karena kasus isoman yang telat. Ada juga faktor entry data, tapi kenapa tinggi? karena mereka yang isoman dan mengalami perburukan,” kata Alex.

Jumlah penambahan harian kasus kematian warga yang meninggal akibat terinfeksi virus corona di Indonesia tembus 1.000 kasus lebih per hari selama 12 hari berturut-turut atau dalam kurun waktu 16-27 Juli 2021.

Secara kumulatif, dalam kurun 12 hari tersebut, jumlah kematian covid-19 di Indonesia mencapai 16.643 kasus. Kumulatif kasus dalam 12 hari itu 1,6 kali lipat dari 12 hari sebelumnya atau selama kurun 4-15 Juli yang mencetak kumulatif kasus kematian covid-19 di 10.165 kasus.

Pun selama 12 hari terakhir itu, tercatat perkembangan kasus kematian warga yang terinfeksi covid-19 sempat mencetak hattrick rekor baru selama tiga hari berturut-turut.

Rinciannya, pada 21 Juli, Indonesia mencapai rekor baru kasus kematian harian yakni 1.383 kasus. Disusul rekor baru pada 22 Juli dengan 1.449 kasus, dan rekor kematian baru pada 23 Juli sebanyak 1.566 kasus yang merupakan rekor tertinggi selama pandemi covid-19 menjangkiti Indonesia dalam 16 bulan terakhir. Dan terakhir, rekor kematian anyar terjadi pada hari ini dengan 2.069 kasus dalam sehari.

(khr/ain)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *