Jumat , 16 April 2021

Kinerja dan Peluang Jokowi pada 2019

MENJELANG tahun ketiga pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, terdapat sejumlah perkembangan yang menarik disimak. Hasil survei nasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2017 menunjukkan adanya tren kenaikan elektabilitas Joko Widodo secara signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada 2015 tingkat elektabilitas Jokowi berada pada angka 36,1{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}, naik ke 41,9{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2016, dan naik sebesar 9{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2017 menjadi 50,9{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}. Seberapa berpeluangkah Joko Widodo memenangi Pemilu Presiden 2019 dan apakah tantangan yang harus diperhatikannya?

Kenaikan elektabilitas Jokowi setidaknya dipengaruhi beberapa faktor utama. Pertama, adanya tren positif kepuasan publik terhadap pemerintahan yang mengalami kenaikan signifikan dari 50,6{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2015 menjadi 66,5{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} (2016) dan 68,3{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} (2017).

Faktor kedua, soliditas pemilih partai koalisi pemerintah, terutama dari pemilih PDIP, NasDem, dan PKB. Setengah dari pemilih partai tersebut mengaku akan memilih Jokowi. Sementara dari partai pendukung lainnya, angka loyalitas pemilih kepada Jokowi masih berada di bawah angka 50{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}.

Faktor ketiga ialah kinerja yang positif di bidang maritim dan pembangunan. Kepuasan publik di bidang maritim mengalami kenaikan cukup signifikan dari 59,4{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2015, menjadi 63,9{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} (2016) dan 75,5{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2017. Pada bidang pembangunan, sekitar 70,9{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pemilih mengaku kinerja bidang pembangunan lebih baik saat ini jika dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya.

Faktor keempat ialah tingginya kepercayaan publik terhadap Presiden yang mengalami kenaikan dari 79,7{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2015 menjadi 87,6{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2016 dan 90,8{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 2017. Selain itu, optimisme publik terhadap pemerintahan juga menunjukkan kenaikan signifikan terutama pada bidang penegakan hukum dan maritim.

Beberapa catatan

Di tengah adanya tren positif kenaikan elektabilitas Joko Widodo, terdapat beberapa catatan yang harus diperhatikan dan meme­ngaruhi kinerja elektoral menjelang pemilu. Pertama, pergerakan suara pemilih yang rentan mengalami perubahan, terutama dari kelas menengah dan partai koalisi yang belum solid. Perubahan pilihan ini bisa terjadi pada pemilih PAN, Hanura, dan Golkar. Saat survei dilakukan, lebih dari 40{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pemilih partai tersebut mengaku akan memilih Prabowo Subianto.

Kedua, perubahan dukungan dari kelas milenial. Data survei menunjukkan meskipun Joko Widodo unggul pada semua segmen usia, lemah pada segmen pemilih milenial, yaitu yang berusia 20-29 tahun. Di segmen pemilih ini, dukungan kepada Joko Widodo sebesar 31,7{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}, sementara dukungan kepada Prabowo Subianto mencapai 35,3{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}.

Dukungan pemilih milenial itu penting diperhatikan karena pertumbuhan populasi milenial menjelang pemilu dan akses milenial kepada media sosial. Saat ini, menurut survei CSIS, sekitar 30{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pemilih sudah terkoneksi kepada media sosial seperti Facebook.

Ketiga, kehati-hatian dalam memilih calon wakil presiden. Bila tingkat elektabilitas Joko Widodo mampu menembus angka 65{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}, pertimbangan faktor sosiologis dan daerah bisa jadi tidak lagi relevan. Namun, bila angka keterpilihan Joko Widodo di bawah 65{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pertimbangan sosiologis dan daerah masih harus dilakukan secara matang. Calon wakil dari luar Jawa dan mempunyai atribut sebagai tokoh Islam bisa diperhatikan–mengingat secara elektoral dukungan kepada Jokowi lebih kuat di Pulau Jawa. Berbeda dengan rival terdekatnya, Prabowo Subianto.

Keempat, memperhatikan per­gerakan suara dan manuver politik dari poros alternatif, terutama Partai Demokrat. Bila Demokrat berhasil membentuk poros baru koalisi, dengan menggandeng PAN, PPP, dan PKB, kemungkinan akan terbentuk tiga poros koalisi di pilpres mendatang. Poros Demokrat mungkin akan mengusung Agus Harimurti sebagai bakal capres. Pada pilkada Jakarta lalu, Demokrat relatif berhasil membentuk poros baru. Uji coba akan dilakukan lagi di tiga pilkada besar di Pulau Jawa. Bila eksperimen tersebut berhasil, Demokrat berpeluang membuat poros baru di 2019.

Kelima, meningkatkan kinerja di bidang ekonomi. Meskipun kinerja di bidang ekonomi mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, masih terbilang rendah. Pada 2017 kepuasan di bidang ekonomi hanya 56,9{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}. Bila pemilih diminta membandingkan kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan sebelumnya, sebagian besar publik beranggapan tidak banyak perubahan berarti, baik dari sisi perekonomian keluarga dan perekonomian nasional.

Diperkirakan, isu ekonomi akan menjadi kontes antarkandidat di pilpres mendatang. Bagi petahana, perbaikan dan peningkatan kinerja di bidang ekonomi penting akan menguntungkan secara politik. Sebaliknya, bila perbaikan ekonomi tidak berhasil dilakukan, akan menguntungkan bagi rival.

mediaindonesia.com (arya fernandes peneliti departemen politik & hubungan internasional CSIS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *