Minggu , 28 November 2021

Lampaui Target WHO, Indonesia Genjot Vaksinasi Hingga Akhir 2021

Cakupan vaksinasi Indonesia yang telah melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tak menghentikan langkah pemerintah untuk terus menggenjot vaksinasi Covid-19 demi perlindungan terbaik kepada masyarakat.
Sebelumnya, pada akhir September 2021 WHO mencanangkan agar setiap negara dapat memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasi warga. Target vaksinasi itu meningkat menjadi masing-masing 40 persen populasi pada akhir 2021, dan kini 70 persen populasi pada pertengahan 2022.

“Dengan demikian Indonesia telah melampaui atau telah lebih cepat mencapai target WHO untuk memberikan vaksinasi lengkap kepada setidaknya 40 persen populasi pada akhir tahun 2021,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Selasa (16/11).

Berdasarkan data hingga Minggu (14/11) pukul 18:00 WIB, dari 208,2 juta sasaran vaksinasi, sekitar 215,6 juta dosis vaksin telah diberikan kepada sekitar 130,3 juta orang (62,5persen dari sasaran) untuk dosis pertama.

Sementara itu, lebih dari 84,1 juta di antaranya (40,4 persen) sudah mendapatkan vaksinasi dosis kedua. Adapun, vaksinasi ketiga atau booster bagi
tenaga kesehatan sudah diberikan sebanyak 1,19 juta (81 persen).

Meski begitu, capaian ini ditegaskan Johnny tidak membuat pemerintah berpuas diri dan memperlambat laju vaksinasi. Pemerintah dipastikan akan terus menggenjot realisasi vaksinasi di seluruh Indonesia guna mencapai target 78 persen cakupan vaksinasi untuk dosis pertama, dan 60 persen untuk dosis kedua pada akhir tahun ini.

“Target WHO yang sudah terlampaui tidak boleh membuat vaksinasi melambat di Indonesia. Dengan target 1,6 juta-2 juta suntikan per hari, pemerintah optimistis target vaksin dosis pertama maupun dosis kedua pada akhir tahun ini dapat segera tercapai,” kata Johnny.

Dia juga meminta semua pemerintah daerah terlibat aktif mempercepat vaksinasi di wilayah masing-masing, antara lain agar tidak ada stok vaksin yang terbuang karena kadaluwarsa. Apabila memang ada sisa stok yang tak terpakai, pemerintah daerah diingatkan untuk mengalihkan stok kepada provinsi lain, atau kepada TNI/Polri.

Johnny menambahkan, saat ini pemerintah juga tengah berupaya mendatangkan obat Molnupiravir yang diperkirakan tiba di Indonesia pada akhir 2021. Obat tersebut dipercaya dapat mengurangi risiko terhadap pasien Covid-19.

“Di samping itu, pemerintah juga masih mengkaji alternatif obat lainnya untuk memperkuat upaya penanganan Covid-19 di Indonesia. Pemerintah terus bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) untuk mengkaji alternatif obat ini,” katanya.

Lebih lanjut, Johnny mengajak masyarakat untuk terus memperkuat disiplin protokol kesehatan jelang periode libur Natal dan tahun baru tak lama lagi. Langkah antisipasi itu dinilai perlu agar pengendalian tren kasus Covid-19 yang baik saat ini dapat terus dipertahankan, meski kelak diprediksi terjadi peningkatan mobilitas jelang akhir tahun.

“Jangan sampai lonjakan kasus kembali terjadi. Mari bekerja sama dan bergotong royong untuk bersama-sama menjaga dan meningkatkan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan dan segera ikut vaksinasi,” kata Johnny.

(rea)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *