Senin , 4 Juli 2022

Menanti Kebangkitan Partai Buruh di Kancah Politik Tanah Air

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengumumkan rencananya bersama sejumlah organisasi serikat pekerja membangkitkan kembali Partai Buruh yang akan dideklarasikan pada kongres 4-5 Oktober di Jakarta.

Pengamat politik LIPI, Wasisto Raharjo Jati menakar rencana membangkitkan partai buruh yang berawal dari akar rumput bukan para elite patut diapresiasi. Namun dia melihat ada dua tantangan yang harus dihadapi untuk bisa mewarnai kancah perpolitikan di Indonesia.

“Ada dua tantangan besar yang perlu diperhatikan. Tantangan pertama pertama modal politik, yakni adanya kelangsungan dana untuk bisa bertahan di arena politik. Dan kedua ideologi, buruh identik dengan ‘kiri’ yang mana hampir sebagian orang Indonesia sekarang ini akan mengasosiasikan dengan komunisme, maupun sosialisme,” kata Wasisto kepada merdeka.com, Senin (4/10).

Maka, dia menilai, kepada para buruh yang akan mendeklarasikan partai tersebut harus sedari awal menerangkan secara jelas posisi partai tersebut. Supaya tidak terseret ke isu persoalan komunisme maupun sosialisme.

“Makanya penempatan posisi partai ini jadi penting apakah menjadi partai nasionalis atau religius, atau netral dari polarisasi warna politik itu,” jelasnya.

Pada kesempatan terpisah, Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menakar kans untuk para buruh membangun partai sangatlah besar. Terlebih jika semangat awalnya untuk memperjuangkan nasib para buruh, termasuk menolak adanya UU Omnibus Law Cipta Kerja.

“Makanya mereka ingin mendeklarasikan kembali partai buruh sebagai alat perjuangan kaum buruh. Jika bisa mempersatukan para buruh, maka akan menjadi kekuatan yang bagus,” kata Ujang.

Terlebih, Ujang memandang, selama ini kekuatan buruh banyak yang terafisiliasi partai politik. Sehingga suara mereka hanya menjadi penopang kekuatan partai politik tanpa tujuan yang disalurkan.

“Jika mampu dipersatukan semua elemen kaum buruh, maka akan menjadi partai yang diperhitungkan. Namun jika tak bisa bersatu, maka sulit untuk bisa bersaing dalam Pemilu nanti,” jelasnya.

“Kekuatan buruh itu sangat besar. Namun dukungannya banyak terpencar ke banyak partai. Oleh karena itu partai buruh yang akan dideklarasikan kembali tersebut mesti menjaga basis massanya tersebut. Agar tak lari ke partai lain,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ujang mensyaratkan, bila partai buruh bisa menyatukan suara hal ini akan menjadi satu kekuatan politik yang diperhitungkan untuk mewarnai perpolitikan di Indonesia. Namun bila tidak, partai buruh hanyalah akan mengulangi track record kembali gagal masuk parlemen.

“Makanya kansnya besar untuk bisa bersaing dengan partai-partai lain. Begitu juga sebaliknya. Buruh itu menjadi kekuatan politik. Namun kekuatannya terpencar. Tidak dalam satu wadah. Mestinya dengan jumlah buruh yang banyak dan besar di Indonesia. Partai Buruh mestinya bisa bersaing dan bisa jadi partai minimal papan tengah,” jelasnya.

“Namun faktanya, di pemilu-pemilu sebelumnya partai burub, selalu gagal masuk Senayan. Perlu introspeksi dan evaluasi di internal mereka. Karena tanpa persatuan, tak akan ada kemenangan,” tambahnya.

Kebangkitan Partai Buruh

Sebelumnya, bakal ada 11 organisasi pendiri yang akan mendeklarasikan Partai Buruh baru. Mereka adalah, pengurus Partai Buruh yang lama, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Rumah Buruh Indonesia yang didirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Organisasi Rakyat Indonesia yang diinisiasi Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, Rumah Buruh Indonesia yang diinisiasi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).

Kemudian Serikat Petani Indonesia (SPI), Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Rumah Buruh Indonesia Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi Pertambangan, Rumah Buruh Indonesia Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan, Forum Pendidik dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia, serta Gerakan Perempuan Indonesia.

“Ada 11 pendiri yang akan deklarasi 4 Oktober 2021 dan disahkan di akhir keputusan Kongres 5 Oktober 2021,” ujar Said.

Dia mengungkap, kebangkitan Partai Buruh baru ini diinisiasi oleh 4 serikat pekerja terbesar yaitu KSPSI Andi Gani, KSPI, KSBSI, dan KPBI, serta 50 serikat pekerja tingkat nasional.

Kehadiran Partai Buruh di Indonesia dinilai penting sebagai negara industri. “Di mana ada negara industri ada partai buruh. Indonesia sudah masuk negara industri,” katanya.

Said juga mengungkap, faktor utama kebangkitan Partai Buruh adalah kekalahan telak karena kehadiran Omnibus Law Cipta Kerja. Butuh partai yang bisa mengakomodasi aspirasi kelompok buruh dan pekerja di Indonesia, yang juga menjadi basis konstituen mereka.

“Kekalahan telak kaum buruh, petani, nelayan, guru, aktivis lingkungan hidup, pegiat HAM dengan disahkan Omnibus Law Cipta Kerja menjadi salah satu faktor utama kenapa menghidupkan kembali partai buruh,” kata Said. [rnd]

Reporter : Bachtiarudin Alam (republika)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *