Sabtu , 28 Mei 2022

Mengenal Lima Merek Vaksin Booster Covid-19

Pemerintah berencana memulai vaksinasi booster pada 12 Januari 2022. Ada lima merek yang disebut-sebut akan menjadi vaksin booster untuk masyarakat di Indonesia.

Lima mereka vaksin tersebut ialah Pfizer, AstraZeneca, Coronavac/Vaksin PT Bio Farma, Zifivax dan Sinopharm. Vaksin Pfizer merupakan produk gabungan perusahaan Amerika Serikat dan Jerman.

Sementara vaksin AstraZeneca diproduksi oleh Universitas Oxford di Inggris. Vaksin Coronavac diproduksi Bio Farma dengan bahan baku dari Sinovac asal Tiongkok.

Kemudian Zifivax merupakan vaksin yang dikembangkan dan diproduksi oleh Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceutical. Vaksin Sinopharm dibuat oleh Beijing Biological Products Institute, unit dari China National Biotec Group (CNBG).

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dicky Budiman mengatakan, dari lima calon vaksin booster, Pfizer paling bagus, merujuk pada hasil riset vaksinasi booster terbaru.

Selain Pfizer, sebetulnya vaksin Moderna paling kuat memberikan perlindungan bagi masyarakat dari ancaman Covid-19, termasuk Omicron.

“Sayangnya (Moderna) memang tidak ada di situ. Padahal Moderna bisa setengah dosis. Tapi enggak apa-apa karena masih ada Pfizer,” ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (6/1).

Sementara empat calon vaksin booster lain yakni AstraZeneca, Coronavac, Zifivax, dan Sinopharm, efikasinya berada di bawah Pfizer. Namun, empat vaksin ini masih efektif memberikan perlindungan kepada masyarakat.

“Meskipun vaksin lain terlihat sedikit di bawah Pfizer dalam fungsi sebagai booster tapi tetap berdampak, punya manfaat. Daripada sama sekali tidak ada booster,” ucapnya.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia ini mengajak masyarakat tidak pilih-pilih jenis vaksin booster. Dia menegaskan, vaksin booster yang disediakan pemerintah merupakan terbaik.

“Jadi, ini yang harus diketahui publik bahwa jangan jadinya semua pilih-pilih saya pengen Pfizer atau pengen Moderna. Jadi tetap, apapun yang kita miliki saat ini terbaik sebetulnya,” pesannya.

Menurut Dicky, penting bagi masyarakat untuk mendapatkan vaksin booster di tengah pandemi Covid-19. Sebab, berdasar riset, fungsi proteksi vaksin menurun setelah lima bulan vaksinasi. Saat ini, banyak penduduk Indonesia yang telah menerima suntikan vaksin lebih dari lima bulan.

“Apalagi ini menghadapi Omicron sehingga jangan menunggu yang lebih bagus,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Kusumastuti Lukito mengatakan ada lima merek vaksin Covid-19 sedang dalam proses registrasi sebagai vaksin booster. Kelima merek vaksin tersebut adalah Pfizer, AstraZeneca, Coronavac/Vaksin PT Bio Farma, Zifivax, dan Sinopharm.

“Dalam waktu dekat mudah-mudahan lengkap datanya, sehingga bisa keluar emergency use authorization (EUA),” kata Penny di Gedung Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Rabu (29/12) dikutip Liputan6.com.

Ada dua pilihan vaksinasi booster di Indonesia, yakni gratis dan berbayar. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksinasi booster diberikan kepada masyarakat berusia di atas 18 tahun. Keputusan ini berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Rentang penyuntikan vaksin booster minimal enam bulan setelah dosis kedua. Data Kementerian Kesehatan, sudah ada 21 juta sasaran yang memenuhi syarat tersebut pada Januari ini.

Jenis vaksin booster yang akan diberikan kepada masyarakat masih menunggu rekomendasi Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan BPOM. Rekomendasi baru dikeluarkan pada 10 Januari mendatang.

Ada dua kemungkinan strategi vaksinasi booster, yaitu homologous atau menggunakan jenis vaksin yang sama dengan dosis pertama dan kedua. Kemudian heterologous atau menggunakan jenis vaksin yang berbeda.

“Mudah-mudahan nanti akan bisa segera diputuskan tanggal 10 setelah keluar rekomendasi dari ITAGI dan BPOM,” kata Budi.

Pemerintah membutuhkan 230 juta dosis vaksin untuk booster. Saat ini pemerintah telah mengamankan sekitar 113 juta dosis.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan, vaksinasi booster sudah melalui tahapan uji klinis. Hasil uji klinis menunjukkan tidak ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) berat pada subjek penelitian vaksinasi booster.

“Sejauh ini, telah dilakukan uji klinis pemberian booster vaksin dan ditemukan tidak ada indikasi KIPI berat pada subjek penelitian,” katanya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (4/1).

Wiku menjelaskan, vaksinasi booster akan diberikan kepada populasi yang berdomisili di kabupaten atau kota yang telah memenuhi cakupan dosis pertama minimal 70 persen dan dosis kedua minimal 60 persen penduduk.

[fik] Reporter : Supriatin (merdeka)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *