Sabtu , 28 Mei 2022

Mengenal Sesar Aktif Pemicu Gempa Besar yang Mengelilingi Indonesia

Gempa magnitudo 7,4 mengguncang Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/12). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan gempa yang terjadi pukul 10.20.23 WIB itu diakibatkan adanya aktivitas sesar aktif di Laut Flores.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa yang diakibatkan sesar atau patahan aktif di Laut Flores itu jenis gempa bumi dangkal. Hal itu berdasarkan lokasi dan kedalaman gempa bumi

Menurut Dwikorita, titik lokasi gempa berada di Laut Flores dengan jarak 112 km ke arah barat laut Kota Larantuka dan kedalaman 10 kilometer. Guncangan gempa bumi sendiri dirasakan di Ruteng, Labuan Bajo, Larantuka, Maumere, hingga Lembata dengan intensitas guncangan skala magnitudo 3 hingga 4.

“Gempa bumi mekanismenya adalah geser. Gempa bumi ini terjadi akibat adanya patahan geser,” kata Dwikorita dalam konferensi pers, Selasa (14/12).

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Pusat Studi Gempa Nasional BMKG Daryono menjelaskan, patahan atau sesar aktif adalah lapisan kulit bumi atau kerak bumi yang rekah atau patah dan bergeser.

Menurut dia, lapisan kulit bumi seperti cangkang telur. Ada kulit luar ada kulit dalam. Lapisan kulit bumi yang pecah kemudian membuat lempengan batu dalam kulit bumi bergeser sehingga menyebabkan gempa bumi.

“Jadi kalau kerak bumi itu luarnya seperti cangkang telur. Nah itu kalau rekah seperti telur jatuh akan pecah. Ada bagian-bagian yang retak, nah bagian-bagian dua blok itu bergeser berupa batu yang rekah bergeser,” kata Daryono saat dihubungi merdeka.com, Rabu (15/12).

Mengutip situs ESDM Provinsi Lampung, Indonesia rentan terhadap bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami hingga letusan gunung berapi. Hal ini disebabkan posisi geografis Indonesia di antara tiga pertemuan lempeng tektonik utama dan satu lempeng tektonik kecil. Tiga jalur lempeng tektonik tersebut adalah Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.

Pergerakan lempeng benua dan lempeng samudera itu menyebabkan pengumpulan energi. Pengumpulan energi tersebut mengakibatkan batuan pada lempeng tektonik tak kuat menahan gerakan. Hal ini menyebabkan pelepasan mendadak batuan yang disebut gempa bumi. Gempa bumi biasanya terjadi di jalur sesar atau patahan.

Jarak pergeseran batuan tersebut bisa millimeter hingga puluhan kilometer. Sedangkan bidang sesarnya mulai dari beberapa sentimeter hingga puluhan kilometer.

BMKG mencatat ada 295 sesar aktif mengelilingi Indonesia. Sesar aktif itu berada sepanjang selatan pulau Jawa, Sumatera, NTT hingga naik ke atas laut banda. Sesar itu terbagi tiga.

Mengenal Sesar atau Patahan

Pertama sesar normal

Aktivitas sesar normal adalah apabila batuan yang menumpu merosot ke bawah akibat batuan yang menumpu di kedua sisinya bergeser atau bergerak menjauh. Sesar normal kerap terjadi di daerah slab atau intra-plate seperti Kepulauan Maluku dan Sulawesi.

Kedua sesar naik (reverse/thrust)

Sesar naik adalah batuan yang menumpu terangkat ke atas akibat batuan penumpu di kedua sisinya bergerak saling mendorong. Sesar naik terjadi di sepanjang daerah subduksi palung Jawa, sepanjang pantai luar barat Sumatera menerus hingga selatan Jawa dan Nusa Tenggara.

Ketiga Sesar geseran jurus atau mendatar (strike-slip)

Sesar geseran jurus adalah apabila kedua batuan bergerak saling menggelangsar. Sesar strike-slip terjadi di daeratan Sumatera dengan sesar Semangko membujur dari Ujung Semangko menerus sepanjang bukit barisan membelah pulau Sematera dan berakhir di Aceh.

Sesar normal dan sesar naik menghasilkan perpindahan vertikal. Sedangkan sesar geseran jurus menghasilkan perpindahan horizontal.

Gempa Flores Bukan Disebabkan Sesar Naik

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai gempa magnitudo 7,4 di Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT) disebabkan oleh sesar geser bukan sesar naik Flores. Dengan demikian, kejadian gempa itu bukan merupakan perulangan dari gempa di Flores pada 12 Desember 1992 yang diikuti gelombang tsunami yang menewaskan 2.100 jiwa.

“Dari mekanisme fokalnya gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar geser,” kata Peneliti Pusat Riset Geoteknologi BRIN Eko Yulianto, Selasa (14/12).

Eko menuturkan dari aktivitas gempanya, sesar geser secara umum bisa memicu tsunami tapi kecil. Kalaupun ada tsunami, kemungkinan tsunami kecil karena sesar geser.

Sesar geser sebagian besar tidak memicu tsunami. Namun dalam beberapa kasus, sesar geser bisa memicu tsunami seperti tsunami Palu pada 2018.

Gempa di Flores dengan tsunami mencapai 36 meter pada 1992 dipicu oleh aktivitas sesar naik Flores (back-arc thrust). Sesar naik Flores juga memicu gempa Lombok pada 2018. Sesar ini memanjang arahnya dari barat ke timur. Namun, gempa Larantuka tidak berkaitan dengan sesar naik Flores yang memicu peristiwa gempa dan tsunami pada 1992 tersebut.

Reporter : Muhamad Agil Aliansyah (merdeka)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *