Minggu , 28 November 2021

Menghitung Untung Bisnis Tes PCR

Keberadaan tes PCR sangat penting di tengah pandemi. Dengan tes PCR bisa mengetahui apakah seseorang terjangkit virus corona atau tidak. Bahkan, syarat perjalanan dalam negeri mewajibkan tes PCR, terutama perjalanan keluar pulau Jawa dan Bali.

Namun, aturan mengenai aturan tes PCR kerap menjadi sorotan masyarakat. Selain aturan yang kerap berubah, harga tes PCR pun bisa turun drastis. Dari yang dulu lebih dari Rp1 juta, kini harga atau tarif PCR telah berada di bawah Rp300.000 saja.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi menyebut bahwa pemerintah secara berkala melakukan evaluasi tarif tes Covid-19 menggunakan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Hal ini untuk memastikan masyarakat dapat mengakses tes PCR sesuai dengan harga yang seharusnya dibayarkan.

“Kami secara berkala bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) melakukan evaluasi terhadap tarif pemeriksaan, menyesuaikan dengan kondisi yang ada,” katanya melalui siaran pers kemkes.go.id, Senin (8/11).

Nadia menerangkan, proses evaluasi merupakan standar dalam penentuan harga suatu produk maupun layanan. Tarif tes PCR sudah melalui tahapan evaluasi sebanyak tiga kali.

Evaluasi pertama dilakukan Kementerian Kesehatan bersama BPKP pada 5 Oktober 2020 dengan hasil batas tarif tertinggi tes PCR menjadi Rp900.000. Kedua, pada 16 Agustus 2021, hasilnya batas tarif tertinggi tes PCR turun menjadi RP495.000 untuk Pulau Jawa-Bali serta Rp525.000 di luar Pulau Jawa-Bali.

Evaluasi ketiga pada 27 Oktober. Saat itu, batas tarif tertinggi tes PCR ditetapkan menjadi Rp275.000 untuk Pulau Jawa-Bali dan Rp300.000 di luar Pulau Jawa-Bali.

Lalu berapa sebenarnya biaya pokok dan untung untuk bisnis PCR?

Direktur Utama PT Bio Farma Honesti Basyir buka-bukaan mengenai apa saja komponen yang menentukan harga tes PCR tersebut. Dia menyebut bahwa biaya terbesar datang dari komponen utamanya ada pada biaya produksi dan bahan baku yang tercatat mencapai 55 persen dari total harga. Kemudian, biaya operasional sebesar 16 persen.

Sementara itu, mengenai penikmat untung, Bos Bio Farma mengaku selama ini mengambil margin sesuai ketentuan, yaitu 10 persen.

Di luar itu, masih ada margin untuk distributor 14 persen, royalti 5 persen, ditambah margin/fee bagi pelaku pelaksana tes PCR (Lab/Klinik/Rumah Sakit, dll).

Dengan margin 10 persen tersebut, Bio Farma sudah mematok tarif reagen untuk tes PCR sebesar Rp90.000 termasuk PPN. Rinciannya, Rp81.000 biaya pokok dan Rp 9.000 biaya PPN

Honesti Basyir menyebut, sebenarnya masih ada peluang untuk menurunkan harga tes PCR di bawah harga yang ditentukan sekarang Rp275.000. Namun dia belum bisa memastikan berapa persen besaran penurunan harga tersebut.

“Ada exercise sederhana yang kami lakukan kemarin setelah mendapat undangan RDP dari Komisi VI, masih ada sebenarnya celah kita untuk turun, Cuma berapa persennya kita belum tahu,” katanya.

Tes PCR Kumur Lebih Murah

Honesti menyebut bahwa ada produk Bio Saliva yang diluncurkan Bio Farma, di mana produk tes PCR dengan cara berkumur ini dapat menurunkan biaya di perlengkapan APD karena dalam menjalankan tes PCR Bio Saliva tenaga kesehatan tidak membutuhkan APD lagi.

Selain itu, tes PCR dengan menggunakan Bio Saliva bisa dilakukan secara massal, pastinya kalau bersifat massal maka Bio Farma bisa memperkirakan secara tepat volume produksi untuk Bio Saliva.

“Cuma kami belum sampai se-detail itu untuk menghitung semuanya, memang ada beberapa biaya yang tidak bisa kita turunkan seperti biaya untuk tenaga kesehatan karena mereka adalah karyawan kami dan memang ada aturannya juga untuk menggaji mereka. Tapi kami berkeyakinan, kita masih punya celah untuk bisa menurunkan harga layanan tes PCR ini,” katanya.

Berapa persen penurunan harga tersebut, Bio Farma perlu melakukan exercise lagi karena menyangkut nanti kapasitas produksi Bio Farma di mana sampai volume berapa optimal dari penurunan biaya tes PCR itu bisa dilakukan.

Honesti juga mengungkapkan bahwa kalau contohnya seperti komponen mBioCoV-19 RT-PCR Kit ataupun Bio Saliva yang dikeluarkan Bio Farma itu hanya sekitar 30 persen dari total harga layanan tes PCR. Dan dari sisi distribusi reagen itu hanya sekitar 20 persen, jadi memang tidak terlampau signifikan sebenarnya.

“Kami akan coba exercise lagi mulai dari layanan apakah harga Rp275.000 akan turun ke harga berapa lagi, kemudian bisnis modelnya seperti apa, apakah akan bersifat kerja sama operasional (KSO) dan itu sudah dilakukan sebenarnya. Kita juga seperti Kimia Farma dan Indofarma, mereka sekarang tidak investasi di mesin PCR dan juga dari alat RNA kit-nya, tapi kita memang melakukan KSO. Pada prinsipnya kami setuju dan kami akan coba melakukan exercise, bagaimana keterjangkauan harga tes PCR ini bisa dinikmati oleh masyarakat,” katanya.[idr]

Reporter : Idris Rusadi Putra (merdeka)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *