Senin , 2 Agustus 2021

Meroket, Ekspor PKE Asal Kaltim ke Manca Negara

Samarinda – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Samarinda kembali mengapresiasi pelaku usaha di sub sektor Perkebunan berupa Palm Kernel Expeller (PKE) yang telah berhasil meningkatkan signifikan volume ekspornya di pasar global.

Berdasarkan permohonan sertifikasi karantina untuk ekspor PKE di Karantina Pertanian Samarinda tercatat sebanyak 18,2 ribu ton dengan nilai ekonomi Rp. 80,38 miliar di triwulan pertama tahun 2020.

Hal ini meningkat sepuluh kali lipat dibanding periode sama tahun 2019 yang hanya berhasil membukukan sebanyak 1,7 ribu ton dengan perolehan nilai ekonomi Rp. 14,4 milyar. Loncatan volume yang menggembirakan ditengah situasi yang melamban akibat pandemi.

“Siapa menyangka kalau PKE, yang merupakan limbah kelapa sawit yang diperoleh dari hasil proses pengolahan inti sawit menjadi minyak sawit dan dibuang percuma sebagai ampas industri minyak sawit, bisa menjadi komoditas unggulan Samarinda,” kata Agus Sugiyono, Kepala Karantina Pertanian Samarinda saat menyerahkan sertifikat kesehatan tumbuhan, Selasa (21/4) di kantornya.

Agus juga menerangkan, PKE atau yang lebih dikenal dengan istilah bungkil kelapa sawit merupakan salah satu hasil produk turunan dari kelapa sawit berbentuk serbuk seperti tanah, biasanya digunakan sebagai pakan ternak di beberapa daerah di tanah air dan juga di pasar global.

Saat ini, negara peminat bungkil kelapa sawit juga terus bertambah. Dari data lalu lintas ekspor diwilayah kerjanya, Agus menyebutkan pasar ekspor di tahun 2019 hanya Vietnam dan Malaysia. Dan kini produk PKE asal Samarinda berhasil menembus Thailand, Jepang, Malaysia dan Cina.

*Penguatan Sistem Perkarantinaan*

Dari tempat terpisah Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil, menjelaskan bahwa secara nasional, tren sertifikasi ekspor PKE juga meningkat, baik volume juga negara tujuan ekspornya.

Menurut Jamil, keberhasilan komoditas ini menembus pasar global merupakan pencapaian penting, karena masing-masing negara tujuan memiliki persyaratan teknis yang ketat. Inilah adalah tugas kami untuk mengawal juga memastikan agar kesehatan dan keamanan produk pertanian yang dilalulintaskan harus dipenuhi sehingga terjamin dinegara tujuan.

Untuk itu, pihaknya selaku otoritas karantina terus lakukan penguatan kesisteman perkarantinaan, seperti fasilitas pemeriksaan baik sarana dan prasarana laboratorium serta kemampuan petugasnya untuk dapat memastikan kesehatan dan keamanan produk sesuai protokol ekspor negara mitra dagang.

*Ekspor Komoditas Lainnya*

Disamping PKE, Karantina Pertanian Samarinda juga rutin setiap bulannya melayani sertifikasi ekspor sub sektor Kehutanan berupa kayu kruing, kayu meranti, kayu lapid, kayu vener, kayu olahan dan tercatat sebanyak 6,6 ribu ton dengan nilai ekonomis Rp. 107,52 miliar di triwulan pertama tahun 2020.

Sebelum Phytosanitary Certificate (PC) yang merupakan persyaratan negara tujuan ekspor ini diserahkan dilakukan serangkaian tindakan karantina berupa perlakukan fumigasi guna memastikan kayu tersebut sehat dan aman di negara tujuan.

“Kita harus pastikan produk pertanian yang dilalulintaskan aman dan sehat supaya tetap terjamin akseptabilitasnya di dinegara mita dagang, untuk menambah devisa negara,” ujar Agus.

*Pertanian Berbasis Kawasan*

Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) dalam tiap kesempatan terus mengingatkan akan potensi pertanian tanah air. Tugas kita menggarapnya untuk kesejahteraan masyarakat khususnya petani.

Seluruh direktorat teknis dilingkup Kementan fokus untuk program peningkatan produksi dan nilai tambah, khususnya bagi komoditas strategis dan juga komoditas yang memiliki potensi dan peluang ekspor.

Lebih lanjut Jamil menjelaskan Barantan dengan fungsi fasilitator perdagangan produk pertanian telah menyiapkan aplikasi peta potensi komoditas ekspor (iMACE).

“Dengan aplikasi ini, kita dapat memetakan produk pertanian yang memiliki pasar di luar negeri. Harapannya ini dapat mendorong pembangunan pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor diseluruh tanah air, ” tutup Jamil.

Narasumber :
1. Ali Jamil Ph.D – Kepala Badan Karantina Pertanian
2. drh. Agus Sugiyono, Kepala Karanti

(342) Sumber : Kementerian Pertanian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *