Jumat , 27 Mei 2022

Pakar Ingatkan Ancaman Pembunuhan Massal Umat Muslim India, Seperti Rohingya

Pembunuhan besar-berasan terhadap muslim di India bisa saja terjadi. Menurut Gregory Stanton, pendiri sekaligus Direktur Genocide Watch, selama pengarahan kongres Amerika Serikat, tanda dan proses awal genosida di negara bagian Assam, India, dan Kashmir di India mulai tampak.

“Kami memperingatkan bahwa genosida bisa saja terjadi di India,” kata Stanton.

Stanton mengatakan genosida bukanlah sebuah peristiwa tetapi sebuah proses terhadap kebijakan Perdana Menteri India Narendra Modi. Kebijakan diskriminatif juga dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya pada 2017.

Di antara kebijakan yang dikutip adalah pencabutan status otonomi khusus Kashmir yang dikelola India pada 2019. Selain itu adanya Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan di tahun yang sama, yang memberikan kewarganegaraan kepada minoritas agama namun mengecualikan umat Islam.

Stanton, mantan dosen studi genosida dan pencegahan di Universitas George Mason di Virginia, mengatakan dia khawatir skenario serupa dengan Myanmar diterapkan di India. Di Myanmar, Rohingya pertama kali secara hukum dinyatakan bukan warga negara dan kemudian diusir melalui kekerasan dan genosida. “Apa yang kita hadapi sekarang adalah jenis plot yang sangat mirip,” katanya.

Stanton mengatakan ideologi Hindutva bertentangan dengan sejarah India dan konstitusi India. Ia juga menyebut Modi sebagai ekstremis yang telah mengambil alih pemerintahan.

Pada 1989, Stanton mengatakan telah memperingatkan presiden Rwanda saat itu Juvénal Habyarimana bahwa akan terjadi genosida di negara tersebut. “Jika Anda tidak melakukan sesuatu untuk mencegah genosida di negara Anda, akan ada genosida di sini dalam waktu lima tahun,” katanya mengenang percakapannya saat itu. “Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi di India,” kata Stanton.

Genocide Watch mulai memperingatkan genosida di India pada 2002, ketika periode tiga hari kekerasan antar-komunal di negara bagian Gujarat di India barat mengakibatkan pembunuhan lebih dari 1.000 Muslim.

Al Jazeera

Reporter: Tempo.co Editor: Suci Sekarwat (tempo)

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *