Kamis , 9 Desember 2021

Pakar Kritik Arahan Jokowi Hidup Berdampingan Pandemi Covid

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengingatkan bahwa sejatinya kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia belum terkendali di lapangan.
Oleh karena itu, ia menilai belum saatnya pemerintah mengeluarkan kebijakan terbaru soal protokol kesehatan (prokes) hingga metode testing, tracing, dan treatment (3T) untuk hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19. Menurutnya, keputusan tersebut tak beralasan.

“Saya bertanya hidup berdampingan bersama pandemi atau wabah berhenti? kalau masih wabah itu mah ngaco,” kata pria yang akrab disapa Miko kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/8).

Miko berpandangan, hidup berdampingan dengan Covid-19 bisa dilakukan ketika Indonesia sudah masuk pada fase endemi, bukan pandemi atau epidemi. Sedangkan, kata Miko, saat ini Indonesia belum pada fase itu.

Ia menjelaskan fase endemi itu terlihat ketika kasus positif di Indonesia sudah menurun secara stabil dalam waktu yang lama. Jika dilihat dari kasus Covid-19 di Indonnesia, pertambahan kasus masih fluktuatif.

“Kalau pandemi dan epidemi ya sama aja [belum bisa],” ucapnya.

Selain itu, Miko juga menyebut kasus tingkat kematian di Indonesia juga masih tinggi. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, jumlah pertambahan kasus positif masih 12.408 orang. Jumlah kasus kematian tercatat 1.030 orang. Dengan kata lain, tingkat kematiannya masih 8,54 persen.

Selain itu, Miko juga beranggapan masih banyak kasus kematian yang tidak tercatat. Sehingga, data yang dipaparkan oleh Satgas ke publik belum bisa menjadi acuan.

Ditambah lagi, kata dia, jumlah tes yang masih rendah. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, jumlah tes pada kemarin, Senin (23/8) saja hanya mencapai 74.324 orang. Sehari sebelumnya, Minggu (22/8) mencapai 85.216 orang. Sabtu (21/8) mencapai 116.306 orang.

“Datanya menunjukan ketidakseriusan. Sebetulnya bukan wabahnya jadi endemi tapi tesnya berkurang kan,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan, potensi lonjakan kasus juga masih bisa terjadi. Meski, ia tidak menyebut kapan lonjakan itu akan terjadi.

“Menurut saya harus hati-hati bisa menjadi nanti gelombang lagi. Walaupun tidak sebesar Juli [2021],” ucapnya.

Miko menilai pemerintah mengambil langkah keliru jika masih terus memaksakan untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Selain keliru, menurut Miko itu juga menunjukkan iktikad pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19.

“Saya bertanya pada Kemenkes maksudnya apa? itu kan wabah, menurut saya pemerintahnya aja yang males,” ucapnya.

“Kalau berdampingan dengan epidemi itu berarti pemerintah tidak melakukan tugasnya dengan baik,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tengah menyusun kajian prokes hingga tracing, testing, treatment (3T) untuk hidup berdampingan dengan pandemi Covid-19.

Budi menjelaskan, prokes hidup bersama pandemi Covid-19 tersebut akan memanfaatkan sistem teknologi informasi (TI) seperti aplikasi Peduli Lindungi untuk memastikan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

Pihaknya berharap, dengan pemanfaatan aplikasi tersebut, masyarakat Indonesia bisa terbiasa dengan pandemi Covid-19 dan bisa hidup bersama Covid-19 sebagai epidemi.

Lainnya, untuk hidup bersama pandemi Covid selain protokol kesehatan itu, Budi memaparkan arahan Jokowi soal kajian peta jalan untuk telusur, tes, dan tindak lanjut (tracing, testing, treatment/3T) dalam hidup bersama pandemi. Nantinya testing dan tracing itu akan dilakukan hanya kepada yang suspek atau kontak erat yang memang bergejala.

“Testing-tracing kuat sangat diperlukan untuk hidup bersama epidemi. Kalau tadinya melawan pandemi, berubah jadi hidup bersama epidemi,” kata Budi dalam konferensi pers pada Senin (23/8) malam.

Ketiga, adalah perawatan (treatment), di mana Jokowi memberi arahan spesifik agar nantinya harus ada perawatan untuk layanan primer atau isolasi dengan pengobatan-pengobatan dasar, sehingga rumah sakit hanya untuk melayani yang kritis atau berat.

(mln/kid)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *