Jumat , 30 Juli 2021

Pakar Minta Penggunaan GeNose Disetop dari Syarat Perjalanan

Ahli biologi molekuler Ahmad Utomo meminta pemerintah menghentikan penggunaan GeNose sebagai syarat verifikasi perjalanan. Ahmad menilai sampai saat ini GeNose belum mendapatkan bukti validasi eksternal sebagai uji keterpaparan covid-19.

Ahmad menjelaskan validasi eksternal sebelumnya direncanakan secara independen oleh tim peneliti dari institusi non-UGM. Validasi tersebut awalnya berlangsung hingga April 2021. Namun, sampai saat ini hasil validasi belum juga keluar.

“Kembalikan ke tes standar baku, kecuali sudah ada bukti validasi Genose dari minimal 3 kampus merdeka,” ucap Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/6).

Ahmad menjelaskan tes GeNose adalah untuk screening bukan untuk diagnosis. Jika dipakai sebagai syarat verifikasi perjalanan maka penggunaan GeNose tidak sesuai fungsinya.

“Kalau misalnya hasil screening itu membolehkan dia untuk bekerja atau dia boleh sekolah atau dia boleh bepergian, menurut saya bukan sekadar screening. itu dalam tanda kutip sudah diagnosis,” jelas dia.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman juga menyarankan serupa ke pemerintah. Dicky menilai GeNose belum terbukti secara saintifik bisa mendeteksi dengan akurat virus Covid-19.

“[Harus] dihentikan, dalam artian saat ini kita harus benar-benar memilih strategi screening atau tes diagnosis yang sudah diapproved WHO saja jangan trial and error,” ucap Dicky kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/6).

Dicky juga menilai, penggunaan GeNose sebagai syarat verifikasi perjalanan lebih berbahaya lagi. Apalagi setelah virus Covid-19 varian Delta masuk di Indonesia.

“Dalam kehadiran varian delta yang begitu efektif menular dan menular ini kan lewat udara. Angka reproduksinya 6 ya Genose ini ya berbahaya menurut saya, menurut saya, sangat berbahaya. Jangankan saat ada varian Delta ini, sebelumnya saja masih belum memenuhi, ya klaim-klaim,” jelas Dicky.

Dicky mengatakan, meskipun harga tes GeNose lebih murah, tapi sebaiknya penggunaan GeNose dihentikan. Dia menilai penggunaan GeNose untuk verifikasi perjalanan justru dapat menyebabkan penularan virus Covid-19.

“Ini situasi sudah kritis seperti ini kita bukan hanya melihat murah segala macam tapi kita lihat yang lebih efektif dan jangan mengambil satu intervensi yang selain tidak efektif juga mengundang potensi penularan,” ucap dia.

Belakangan penggunaan GeNose kembali menuai pro dan kontra di media sosial. Sebab, banyak warganet yang bercerita pengalamannya setelah dites GeNose. Hasil tes GeNose dianggap tidak akurat.

GeNoSe bisa menjadi syarat perjalanan di semua moda transportasi, selain antigen dan PCR sejak 1 Apr 2021. Penggunaan GeNose tersebut duatur dalam Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

(yla/ain)cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *