Kamis , 21 Oktober 2021

Pakar soal Jet KF-X/IF-X RI-Korsel di Antara Pusaran AS-China

Korea Selatan (Korsel) telah meluncurkan purwarupa jet tempur KF-X/IF-X yang sedang dikembangkan bersama Indonesia pada awal April lalu.

Peluncuran purwarupa jet tempur itu berlangsung setelah proyek bersama jet KF-X/IF-X yang digodok Seoul-Jakarta sejak satu dekade lalu itu sempat mandek karena berbagai kendala teknis hingga finansial.

Menurut Head of Center for ASEAN-India Studies, Korea National Diplomatic Academy (KNDA), Profesor Wongi Choe, proyek ini menjadi salah satu bukti komitmen Korsel memperkuat relasi dengan Indonesia.

Apalagi, sambung Choe, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto turut diundang Presiden Moon Jae-in ke Seoul dan Sacheon, untuk menyaksikan peresmian peluncuran prototipe jet tempur kolaborasi dua negara itu secara bersama-sama.

Choe menganggap hal itu adalah ‘pertanda baik’ kolaborasi RI-Korsel dalam proyek yang dinilai dia menjadi salah satu yang terpenting bagi Negeri Ginseng.

“Indonesia merupakan mitra strategis Korsel yang spesial. Kami [Korsel] tidak memiliki proyek bersama serupa dengan negara lain. Proyek KF-X ini adalah proyek pertama kami yang coba kami kembangkan dengan teknologi dan sumber daya kami sendiri,” kata Choe dalam workshop terbatas, Indonesian Next Generation Journalist on Korea di Jakarta beberapa waktu lalu.

“Apalagi Indonesia menjadi satu-satunya negara yang Korsel ajak kerja sama dalam proyek alutsista semacam ini,”imbuhnya.

Hal senada juga diutarakan, Direktur Kawasan Asia Timur dan Pasifik Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto.

Menurutnya, proyek bersama KF-X/IF-X senilai 7,5 triliun won Korea itu menunjukkan komitmen kerja sama serta kedekatan Indonesia-Korsel.

“Kehadiran Pak Prabowo saat peluncuran prototipe di Korsel menunjukkan tekad Indonesia melanjutkan proyek ini, dan kerja sama pertahanan secara lebih luas dengan Korsel,” ujar Santo.

Santo menganggap kemitraan strategis khusus antara Istana Negara dan Istana Kepresidenan Korsel, Cheongwadae, “sangat spesial tidak hanya dalam kerja sama ekonomi tapi lebih luas dari itu.”

Selain proyek KF-X/IF-X, TNI Angkatan Laut juga sudah mendapat tiga unit kapal selam hasil kerjasama PT PAL Indonesia dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan.

Tiga unit kapal selam itu adalah KRI Nagapasa-403 (dibangun di Korsel dengan tenaga kerja dari Daewoo), KRI Ardadedali-404 (dibangun di Korsel dengan bantuan tenaga kerja dari PT PAL), dan Alugoro-405 (diproduksi di Surabaya).

Head of Center for ASEAN-India Studies, Korea National Diplomatic Academy (KNDA), Profesor Wongi Choe, menilai Korea Selatan dan Indonesia terus menunjukkan kemesraannya, terutama di era pemerintahan Presiden Moon Jae-in dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu salah satunya terlihat dari saling kunjung antara kedua pemimpin negara. Jokowi sempat mengajak Presiden Moon blusukan di Istana Bogor sekitar 2017 lalu.

Sementara itu, Moon juga menjamu kunjungan kenegaraan Jokowi di Seoul pada akhir 2019.

Profesor Choe mengatakan kedekataan RI-Korsel yang menguat ini merupakan salah satu strategi baru pemerintahan Moon yang ingin mencoba mencari ‘teman’ dan potensi kerja sama baru dengan negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Strategi itu, kata Choe, tertuang dalam kebijakan yang dikenal New Southern Policy (NSP).

Salah satu alasan terbentuknya NSP adalah keinginan Korsel melepas ketergantungan terhadap dua negara adidaya yakni China dan Amerika Serikat.

Selama ini, Choe memaparkan Korsel bergantung pada kerja sama perdagangan dengan China. Namun, pada saat yang bersamaan, Seoul juga mengandalkan aliansi keamanan dengan AS demi menghadapi ancaman nuklir Korea Utara.

Sementara itu, dalam perkembangan globa saat ini, persaingan China dan AS terus meluas dan semakin pelik.

“Dan Korsel berusaha tidak terjebak di antara persaingan ini. Karena itu NSP dinilai Korsel sebagai jalan keluar baru lepas dari ketergantungan tersebut,” ujar Choe.

Seoul mengandalkan kerja sama pembangunan sebagai sarana untuk mempererat ikatannya dengan ASEAN di bawah kebijakan NSP. Itu sebabnya, sifat alamiah NSP sebagai inisiatif baru di kawasan berbeda dengan inisiatif dari negara-negara besar yang berorientasi pada keamanan.

Choe menuturkan Korsel perlu diversifikasi perekonomian agar mengurangi ketergantungan dengan perdagangan China. Menurutnya, 27 persen perdagangan Korsel saat ini mengandalkan Negeri Tirai Bambu.

Selain itu, ia menganggap China saat ini sebagai kompetitor utama Korsel dalam hampir seluruh industri.

Di sisi lain, Choe memaparkan banyak potensi kerja sama yang bisa dikembangkan Korsel dengan Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya atau ASEAN.

Terlebih, menurutnya, Korsel dan negara ASEAN pun memiliki pandangan yang serupa dalam melihat hubungan masing-masing dengan China.

“Kita sadar bahwa relasi bilateral kita (Korsel dan negara ASEAN) dengan China sama-sama naik turun. Sementara itu, saya pikir terlalu bergantung pada China akan menimbulkan banyak masalah ke depan,” ujar Choe.

“Jadi NSP ini membantu Korsel (dan negara Asia Tenggara) mengembangkan potensi kerja sama untuk diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan dengan China,” paparnya menambahkan.

Menurut Choe, NSP pada akhirnya memberikan kesempatan bagi Korsel, Indonesia, dan negara Asia Tenggara lain untuk mencari strategi alternatif mengembangkan kerja sama perekonomian tanpa terfokus pada China dan AS.

Meski begitu, Choe menekankan bahwa baik Korsel dan negara ASEAN tetap memiliki relasi konstruktif dan seimbang dengan China dan AS.

(rds/kid)cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *