Senin , 18 Oktober 2021

Pancasila bukan Konsep Tertutup

IDEOLOGI Pancasila hendaknya tidak lagi diterjemahkan secara pasif dan defensif hanya sebagai filter masuknya nilai-nilai budaya asing, tapi harus menjadi pendorong utama dalam berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dalam pidatonya, Soekar­no ingin agar nasionalisme kita bukan menjadi nasionalisme isolatif (tertutup) melainkan inklusif, baik ke dalam maupun ke luar,” kata Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Hariyono dalam kuliah umum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Tangerang Selatan, kemarin.

Dalam kuliah umum bertajuk Membumikan Pancasila, Merajut Kebersamaan Menuju Masyarakat Indonesia yang Toleran, Hariyono menjelaskan ke dalam kita mengakui kebinekaan dan ke luar kita berpartisipasi aktif dalam berbagai bidang kehidupan demi perkembangan dunia.

Untuk itu, ia sangat mendukung berbagai kegiatan positif para diaspora. Secara tidak langsung, para diaspora yang sukses ikut mengha­rumkan nama Indonesia dan Pancasila di dunia internasional. Hal tersebut harus terus dikembangkan agar orang tidak lagi menilai Pancasila sebagai sebuah konsep yang tertutup, tetapi dapat menjadi daya dorong.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UIN Dede Rosyada menjelaskan dalam membumikan Pancasila perlu ada kesamaan pemahaman mengenai konsep saling menghargai. Bahkan, menurutnya, Indonesia hari ini memerlukan kohesi satu dengan lainnya sehingga variabel agama tidak lagi menjadi pembeda tetapi disatukan dengan tujuan bersama yang lebih besar.

“Semangat agar saling percaya satu dengan lain yang perlu dibangun, bukan saling curiga. Dengan mengamalkan Pancasila, kita sudah melaksanakan agama dengan baik. Bahkan, Nabi Muhammad sudah mencontohkan hal tersebut,” jelas Dede. (Dro/P-3)

(mediaindonesia.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *