Kamis , 21 Oktober 2021
LKS 20170910 (FILES) This file photo taken on September 11, 2016 shows people waving 'Esteladas' (pro-independence Catalan flags) as they gather during a pro-independence demonstration, in Barcelona during the National Day of Catalonia 'Diada'. The president of Spain's Catalonia region vowed on September 09, 2017 to press ahead with an independence referendum, that Madrid insists would be illegal, calling for mass demonstrations next week in support of a split. After sparking Spain's deepest political crisis in 40 years this week by voting to push ahead with the referendum, Catalonia's separatist-controlled regional parliament upped the ante by passing a bill early on September 8, 2010 outlining a transition to a possible independent republic. LEHTIKUVA / AFP PHOTO Pau Barrena

Pembatasan Mobilitas Picu Gelombang Protes di Sejumlah Negara

Lebih dari 100 ribu orang dilaporkan menggelar aksi protes di Australia, Prancis, Italia dan Yunani pada Sabtu (25/7) waktu setempat yang memicu bentrokan dengan polisi.

Sebagaimana dilaporkan AFP, massa menggelar protes lantaran tidak terima dengan sanksi pemerintah terhadap mereka yang tidak divaksinasi. Massa juga mengkritisi  pembatasan mobilitas di masa pandemi yang ditujukan agar masyarakat lebih banyak divaksinasi.

Di Australia, puluhan pengunjuk rasa ditangkap setelah aksi protes mereka di Sydney. Kepolisian setempat mengecap mereka yang ambil bagian dalam aksi tersebut sebagai ‘orang bodoh’.

Pihak peserta aksi menjuluki protes mereka sebagai unjuk rasa “kebebasan”. Para peserta membawa tanda dan spanduk bertuliskan ‘Bangun Australia’.

Sebelumnya juga di Sydney dilaporkan bahwa para demonstran melempari petugas dengan tanaman pot dan botol air karena mereka menentang perintah tinggal di rumah selama sebulan. Aksi tersebut pecah sehari setelah pihak berwenang menyarankan pembatasan dapat tetap berlaku hingga Oktober.

Lalu di Prancis, polisi mengerahkan gas air mata dan meriam air terhadap beberapa pengunjuk rasa. Diperkirakan 160 ribu orang turun ke jalan dalam protes nasional terhadap izin kesehatan Presiden Emmanuel Macron yang secara drastis akan membatasi akses ke restoran dan ruang publik bagi orang-orang yang tidak divaksinasi.

“Freedom, freedom,” teriak para demonstran di Prancis, sembari membawa poster bertuliskan ‘Macron, Tyrant’.

Sementara itu sekitar 5.000 orang berdemonstrasi di Athena, Yunani dengan membawa poster dengan slogan-slogan seperti, ‘Jangan sentuh anak-anak kami’ menurut seorang jurnalis AFP, dikutip Minggu (25/4).

Di Italia, para pengunjuk rasa berkumpul di Roma untuk berdemonstrasi menentang aturan “Green Pass” untuk sekadar makan malam dan hiburan dalam ruangan.

Sementara itu Perdana Menteri negara bagian New South Wales Gladys Berejiklian mengaku ‘muak’ oleh para pengunjuk rasa yang ‘tindakan egoisnya’ telah membahayakan keselamatan banyak masyarakat.

Sejauh ini kepolisian telah mengeluarkan hampir 100 sanksi dan menangkap 57 orang, sementara di Melbourne tercatat enam orang telah ditangkap.

(AFP/gil)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *