Kamis , 7 Juli 2022

Pemerintah Tetapkan Sinopharm Jadi Vaksin Booster

Pemerintah resmi menjadikan Sinopharm sebagai regimen vaksin booster baru. Dengan demikian, sampai saat ini ada 6 jenis regimen vaksin booster yang digunakan di Indonesia.

“Keenam regimen tersebut antara lain vaksin Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan vaksin Sinopharm,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmidzi dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/3).

Pemberian dosis booster dilakukan melalui dua mekanisme. Pertama, Homolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Kedua, metode Heterolog, yaitu pemberian dosis booster dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Regimen dosis booster yang dapat diberikan yaitu jika vaksin primer Sinovac, maka vaksin booster bisa menggunakan 3 jenis vaksin antara lain AstraZeneca separuh dosis (0,25 ml), Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan Moderna dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primernya AstraZeneca maka boosternya bisa menggunakan vaksin Moderna separuh dosis (0,25 ml), vaksin Pfizer separuh dosis (0,15 ml), dan vaksin AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primer Pfizer, untuk booster bisa menggunakan vaksin Pfizer dosis penuh (0,3 ml), Moderna separuh dosis (0,25 ml), dan AstraZeneca dosis penuh (0,5 ml).

Vaksin primer Moderna, booster dengan menggunakan vaksin yang sama separuh dosis (0,25 ml). Kemudian vaksin primer Janssen (J&J), maka untuk booster dengan menggunakan Moderna separuh dosis (0,25 ml).

Selanjutnya vaksin primer Sinopharm booster nya menggunakan vaksin Sinopharm juga dengan dosis penuh (0,5 ml).

Nadia mengatakan, vaksin booster yang digunakan berdasarkan ketersediaan di setiap daerah. Selain itu, jenis vaksin yang digunakan juga diutamakan yang sudah mendekati masa kedaluwarsa.

“Vaksin yang digunakan untuk dosis booster ini disesuaikan dengan ketersediaan vaksin di masing-masing daerah dengan mengutamakan vaksin yang memiliki masa expired terdekat,” kata dia.

Meski demikian, menurutnya, vaksinasi dosisi pertama harus tetap jalan. Sehingga, vaksinasi dosis pertama bisa mencapai target.

“Di samping itu, vaksinasi dosis primer tetap harus dikejar agar dapat mencapai target,” ujarnya.

(yla/gil)

kutipan : cnnindonesia.com

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *