Kamis , 7 Juli 2022

Peneliti Ungkap Pemicu Virus Covid Bermutasi Sangat Sering

Pandemi Covid-19 bukan hanya memunculkan gelombang bencana kesehatan di berbagai tempat di dunia, tapi juga melahirkan varian virus Covid-19 dari waktu ke waktu. Misalnya saja Delta, Omicron, atau varian baru B.2 yang dikenal sebagai varian siluman. 
Tak heran jika virus ini disebut demikian tangguh dengan pembaharuan yang tak pernah berhenti. Bahkan peneliti menyatakan mutasi virus Covid-19 lebih banyak dari yang mereka perkirakan, terutama jika dibandingkan dengan virus corona lainnnya.

Peneliti penyakit menular Sebastian Duchene dari Institut Peter Doherty untuk Infeksi dan Kekebalan di Australia menyebut virus biasanya cenderung bermutasi dengan kecepatan relatif konstan.

Ia mengungkapkan mungkin membutuhkan waktu satu tahun atau lebih untuk memunculkan varian virus baru.

Hal ini lah yang tidak terlihat pada virus Covid-19.

“Varian Delta, misalnya, muncul hanya dalam enam minggu dari bentuk leluhurnya,” kata Duchene, seperti dikutip dari Science Alert.

Dalam sebuah studi baru, Duchene dan rekan peneliti berusaha menyelidiki penyebab virus bisa bermutasi dengan cepat, dengan menganalisis data urutan genom SARS-CoV-2, pada empat varian yaitu Alpha, Beta, Gamma, dan Delta.

Para peneliti kemudian mengeluarkan makalah mereka yang dipimpin penulis pertama John Tay, seorang peneliti bioinformatika di Doherty Institute.

Menurut tim, rahasia percepatan mutasi virus bukanlah fenomena yang konstan atau berkelanjutan. Percepatan ini tampaknya terjadi sementara dalam evolusi virus, sesaat sebelum varian itu muncul.

“Kami menemukan bukti kuat bahwa episodik, bukannya jangka panjang,” tulis tim tersebut.

Mengapa ledakan mutasi terjadi?
Peneliti belum sepenuhnya yakin, tapi mereka menyebut kemunculan varian-varian baru didorong seleksi alam. Faktor relevan lainnya dapat mencakup terjadi infeksi pada populasi yang tidak divaksinasi sehingga virus bisa menyebar dan berkembang lebih mudah.

Kemudian ada infeksi pada individu tertentu, seperti pasien dengan gangguan sistem kekebalan, yang dapat menyebabkan perubahan dinamika virus.

Meskipun masih banyak yang belum sepenuhnya dipahami tentang faktor pemicu begitu banyak mutasi cepat pada SARS-CoV-2, peneliti menyebut penting untuk terus memantau genomik virus.

Dengan melakukan tersebut, maka umat manusia bisa menghentikan gelombang selanjutnya.

“Bayangkan jika Anda dapat mendeteksi Omicron pada beberapa pasien pertama – jika Anda dapat mencegah penyebarannya dari sana, maka kita tidak akan berada dalam situasi seperti sekarang ini,” kata Duchene kepada The Sydney Morning Herald.

(ryh/vws)cnnindonesia.com

dok.photo :google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *