Kamis , 7 Juli 2022

Perusahaan Induk Facebook Luncurkan Superkomputer Terkuat di Dunia

Perusahaan induk Facebook, Meta, meluncurkan salah satu superkomputer paling kuat di dunia untuk meningkatkan kapasitasnya dalam memproses data pada hari Senin (24/1/2022).

Peluncuran superkomputer ini dilakukan di tengah perselisihan terus-menerus mengenai privasi dan disinformasi di Facebook. Raksasa teknologi AS itu mengatakan susunan mesin dapat memproses gambar dan video hingga 20 kali lebih cepat daripada sistem mereka saat ini.

“Superkomputer, dibangun dari ribuan prosesor, akan digunakan untuk menganalisis teks, gambar, dan video secara mulus bersama-sama; mengembangkan alat augmented reality baru; dan banyak lagi”, kata Meta dalam posting blog yang ditulis oleh dua Artificial Intelligence (AI).

Meta pun membayangkan pengembangan alat AI perusahaan ini akan memungkinkan orang yang berbicara dalam beberapa bahasa berbeda untuk saling memahami secara real-time.

Meta mengatakan mesin, yang dikenal sebagai AI Research SuperCluster (RSC) sudah masuk dalam lima besar superkomputer tercepat dan akan menjadi mesin AI tercepat di dunia ketika sepenuhnya dibangun dalam beberapa bulan ke depan.

“Kami berharap RSC akan membantu kami membangun sistem AI yang benar-benar baru yang dapat, misalnya, mendukung terjemahan suara secara real time ke sekelompok besar orang, masing-masing berbicara dalam bahasa yang berbeda, sehingga mereka dapat berkolaborasi dengan mulus dalam proyek penelitian atau memainkan game AR bersama-sama,” tulis para peneliti seperti dilansir oleh Channel News Asia.

Meta menambahkan, pada akhirnya, pekerjaan yang dilakukan dengan RSC akan membuka jalan menuju pembangunan teknologi untuk platform komputasi besar berikutnya, yakni metaverse, di mana aplikasi dan produk berbasis AI akan memainkan peran penting.

Di sisi lain, platform seperti Facebook dan Google telah lama dikritik karena cara mereka memproses dan memanfaatkan data yang mereka ambil dari penggunanya.

Kedua perusahaan saat ini menghadapi kasus hukum di seluruh Uni Eropa yang menegaskan transfer data dari blok tersebut ke Amerika Serikat adalah ilegal. Dan algoritme AI yang mengarahkan pengguna Facebook ke postingan yang menarik telah dikritik karena membantu memicu disinformasi dan ujaran kebencian.

Nindya Aldila – Bisnis.com Editor : Hadijah Alaydrus

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *