Minggu , 19 September 2021

Pesimis Warga Soal PPKM: Makin Banyak yang Tak Percaya Covid

Pemerintah ingin menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Pulau Jawa dan Bali pada 11-25 Januari mendatang. Tujuannya, menekan laju penularan virus corona (Covid-19).

PPKM berbeda dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang selama ini diterapkan. PPKM mengandung aturan yang lebih ketat mengenai pembatasan kegiatan masyarakat di tempat umum.

Rencana penerapan PPKM itu menuai berbagai respons dari masyarakat. Khususnya warga di daerah yang kemungkinan besar menerapkan PPKM.

Warga Solo, Jawa Tengah, Iwan (28) khawatir PPKM tidak efektif menekan laju penularan virus corona meski ada banyak pembatasan. Dia menilai masyarakat sudah tidak peduli dengan aturan.

“Di masyarakat udah abai, banyak yang enggak percaya corona,” kata Iwan.

Menurut dia, pembatasan yang lebih ketat seharusnya diterapkan saat libur Natal dan Tahun Baru lalu. Bukan saat ini.

“Menurutku enggak efektif sekarang. Kenapa enggak pas libur panjang, biar masyarakat enggak kemana mana,” ucap Iwan.

Pamungkas (45), warga Mampang, Jakarta Selatan juga menganggap kebijakan PPKM itu tak akan efektif menekan laju penularan virus corona.

Menurut dia, masyarakat sudah jenuh dan lelah dengan pembatasan-pembatasan aktivitas. Aturan-aturan dalam PPKM bakal tidak dipatuhi masyarakat.

“Masalahnya ini masyarakat udah terbiasa aktivitas normal kembali. Enggak akan efektif,” kata Pamungkas.

Alih-alih bertujuan untuk menekan laju penularan corona, Pamungkas berpendapat PPKM justru bisa kembali berdampak kepada perekonomian masyarakat.

“Kalau ini itu dibatasi lagi kayak (PSBB) pertama, yang ada justru menyengsarakan masyarakat untuk mencari penghasilan,” ucap Pamungkas.

“Kalau dilakukan juga waktunya jangan kelamaan,” tambahnya.

Warga Kalibata, Jakarta Selatan, Apuy (30) juga menilai PPKM tidak akan efektif karena selama ini warga sudah terbiasa dengan kelonggaran. Terlebih, perekonomian masyarakat juga sudah mulai bangkit.

Apabila aktivitas di tempat umum diperketat lagi, dia justru cemas ada dampak buruk yang akan muncul. Misalnya tindak kriminal akibat perekonomian yang terdampak.

“Takutnya nanti karena dibatasi lagi, pengangguran naik lagi, kriminalitas naik. Makanya saya bilang enggak efektif. Kasusnya sudah terlanjur banyak,” katanya.

Warga Denpasar, Bali, Benedict Sakti (25) juga mengungkapkan hal serupa. Dia tidak setuju jika aktivitas masyarakat dibatasi dengan ketat.

Dia mengatakan bahwa Bali adalah salah satu provinsi yang paling terdampak sejak virus corona mewabah. Sektor pariwisata lumpuh .

Seiring berjalannya waktu, perekonomian Bali mulai bangkit seirama dengan kelonggaran yang diberikan.

Akan tetapi, jika pengetatan kembali diberlakukan, Sakti cemas perekonomian warga Bali kembali lumpuh.

“Yang dipentingin orang itu masalah perut. Karena seluruh Indonesia, Bali paling kena hit. Sekarang mau ditambah PSBB lagi?” kata dia.

Sakti yakin warga Bali akan patuh jika PPKM benar-benar diterapkan. Namun, kepatuhan hanya muncul jika ada pengawasan yang tegas.pengawasan.

“Patuh enggaknya tergantung represi aparat. Kalaupun patuh, karena terpaksa, bukan karena setuju dengan kebijakan pemerintah itu,” kata dia.

CNN Indonesia (yoa/bmw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *