Kamis , 21 Oktober 2021

PHK Tak Terbendung, Lebih dari 1.500 Toko Ritel Tutup selama Pandemi

Aksi penutupan toko ritel kembali terus berlanjut pada tahun kedua pandemi. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan lebih dari 1.500 gerai telah tutup secara permanen sejak awal pandemi sampai implementasi PPKM Darurat.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan PPKM Darurat menjadi batu sandungan bagi ritel modern yang perlahan mulai memperbaiki kinerja setelah tertekan pada 2020. Dia mengatakan pada tahun lalu terdapat sekitar 1.300 ritel modern yang mencakup toko swalayan, toko kelontong, hypermarket, dan department store yang menutup operasional.

“Tahun lalu, sekitar 1.300 toko yang tutup. Sementara pada tiga bulan pertama ada 88 gerai yang tutup. Jika ditambah dengan dua bulan di kuartal selanjutnya kami perkirakan total bertambah 200 sepanjang 2021,” ujar Roy saat konferensi pers, Kamis (22/7/2021).

Roy mengatakan kerugian dari penutupan gerai bisa sangat signifikan jika merujuk pada nilai investasi pada setiap gerai. Dia menjabarkan bahwa rata-rata nilai investasi untuk satu gerai toko kelontong berada di kisaran Rp400–500 juta.

Sementara untuk supermarket dan hypermarket berada di kisaran Rp20–35 miliar yang mencakup gedung dan barang yang diperdagangkan. 

“Pasar ritel modern Indonesia sejatinya sangat besar. Kalau sampai terdampak, begitu besar multiplier effect-nya. Jika ritel mati, mau di kemanakan produk makanan minuman yang dihasilkan industri?” kata dia.

Optimisme peritel modern juga sempat terganjal data negatif pada kuartal I/2021 yang diterbitkan oleh Nielsen Retail Audit. Data yang diterima Aprindo menunjukkan bahwa ritel modern mengalami kontraksi 6,7 persen secara tahunan.

Pada kuartal IV/2020, kontraksi ritel modern berada di level 1,9 persen. Roy mengatakan penurunan juga dirasakan oleh format toko kelontong atau minimarket yang sejatinya masih menikmati pertumbuhan pada 2020.

Pada tiga bulan pertama, ritel minimarket mengalami penurunan 4,2 persen setelah sepanjang 2020 menjadi satu-satunya format ritel modern yang tumbuh 4,8 persen.

“Mereka juga melaporkan adanya penurunan, salah satunya karena penurunan nilai belanja. Basket size cenderung menurun,” kata Roy.

Iim Fathimah Timorria – Bisnis.com

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *