Jumat , 21 Januari 2022

PLN Untung Rp 2,3 Triliun di Semester I-2017

PT PLN (Persero) telah menerbitkan laporan keuangan semester I-2017. Slama periode enam bulan di 2017 mencapai realisasi kinerja operasi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dengan meningkatnya laba operasi 12,84{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} menjadi 17,6 triliiun, dibanding periode Juni 2016.

Namun demikian, pencapaian laba bersih PLN pada semester I-2017 mencapai Rp 2,3 triliun, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal yang bersifat insidental, yaitu meningkatnya beban lain-lain di luar operasi yang bersumber dari beban tahun 2013 sebesar Rp 3,1 triliun, serta berkurangnya pendapatan selisih kurs Rp 2,1 triliun.

Nilai penjualan tenaga listrik PLN selama periode enam bulan di 2017 mengalami kenaikan Rp 13,8 triliun atau 13,22{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} menjadi Rp 118,5 triliun, dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 104,7 triliun. Pertumbuhan penjualan ini berasal dari kenaikan volume penjualan menjadi 108,4 Terra Watt hour (TWh), atau naik 1,17{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} dibanding dengan periode yang sama tahun lalu.

“Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan keberhasilan PLN selama semester pertama tahun 2017 menambah kapasitas pembangkit sebesar 1.663 MW yang berasal dari Pembangkit PLN sebesar 463 MW dan tambahan kapasitas dari Independent Power Producer (IPP) sebesar 1.199 MW, serta menyelesaikan 1.489 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi dan Gardu Induk sebesar 5.750 MVA,” ungkap Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto, dalam keterangan tertulis, Jumat (28/7/2017).

Peningkatan konsumsi kWh ini juga didukung dari adanya kenaikan jumlah pelanggan, di mana sampai dengan akhir semester I-2017 telah mencapai 65,9 juta, atau bertambah 1,6 juta pelanggan dari akhir tahun lalu sebesar 64,3 juta pelanggan. Kenaikan konsumsi kWh tersebut didominasi oleh konsumsi listrik di golongan tarif industri.

Sarwono menambahkan, bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 91,16{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 31 Desember 2016 menjadi 92,79{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} pada 30 Juni 2017.

Meskipun pada paruh pertama 2017 ini beberapa kondisi makro mempengaruhi penyesuaian tarif tenaga listrik, yaitu kurs dolar AS, Indonesia Crude Price (ICP) dan/atau Inflasi mengalami kenaikan dibanding dengan acuan APBN, namun demi mendukung kepentingan masyarakat serta untuk menjaga agar sektor bisnis dan industri tetap kompetitif, PLN memutuskan tidak menaikkan tarif. PLN melakukan efisiensi pada beberapa elemen biaya operasi yang berada dalam kendali perusahaan, untuk menutup kekurangan marjin usaha tersebut.

Seiring dengan meningkatnya produksi listrik, beban usaha perusahaan naik sebesar Rp 9,2 triliun atau 7,65{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} menjadi Rp 128,9 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 119,7 triliun.

Beban usaha yang mengalami kenaikan terbesar adalah beban pembelian tenaga listrik yang mengalami kenaikan Rp 6,7 triliun (24{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8}) dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi Rp 34,6 triliun. Selain itu, beban bahan bakar juga meningkat Rp 3,2 triliun dari Rp 52 triliun pada Juni 2016 menjadi Rp 55,3 triliun pada Juni 2017.

Penyebab utama kenaikan beban pembelian tenaga listrik dan beban bahan bakar ini adalah naiknya harga rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 35,22{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} yang mendorong kenaikan harga BBM, dan naiknya rata-rata Harga Batubara Acuan (HBA) sebesar 58,61{5c6035bc9bc3e42f8f76ccddb29163f080ba93640ca5c195f33e55f280cccea8} yang mendorong kenaikan harga batu bara.

Earning Before Interest, Tax, Depreciation & Amortisation (EBITDA) pada semester I-2017 sebesar Rp 32,82 triliun, naik Rp 2,3 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 30,42 triliun. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan PLN dalam berinvestasi dengan dana internal dan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.

(detik.com-wdl/wdl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *