Sabtu , 28 Mei 2022

Puluhan Siswa Positif, PTM Dihentikan

Puluhan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan guru di Pekanbaru, Riau, terkonfirmasi positif Covid-19. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru secara resmi menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) pada SMP IT Abdurrab untuk menghindari penularan agar tidak meluas.

“Setelah dilakukan penelusuran, ternyata jumlahnya bertambah menjadi 69 murid dan guru yang dinyatakan positif Covid-19,” kata Kepala Disdik Kota Pekanbaru Ismardi Ilyas di Pekanbaru, Sabtu (28/11).

Ismardi mengatakan, penghentian aktivitas PTM dan isolasi terhadap pelajar yang terkonfirmasi positif Covid-19 dilakukan sesuai prosedur yang ditetapkan pemerintah pusat. Namun, kata dia, pihak sekolah secara inisiatif menghentikan aktivitas PTM sebelum puluhan siswa di sekolah diketahui positif.

“Karena ada gejala terjangkit Covid-19, aktivitas ditutup oleh sekolah. Kami juga menyurati untuk menutup sementara sampai nanti diputuskan lagi oleh Satgas,” kata Ismardi.

Dia menjelaskan, Satgas akan lakukan penelusuran kontak. Bagi siswa yang sehat, pembelajaran secara daring juga tetap dilaksanakan. Dia juga mengimbau kepada sekolah lainnya di Ibu Kota Provinsi Riau ini untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan selama PPKM.

Sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, mencatat ada penambahan 21 kasus baru terkonfirmasi Covid-19 dari hasil skrining terhadap pelajar sekolah menengah atas (SMA) yang menyelenggarakan PTM. Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Dewi Irawaty mengatakan, penambahan 21 kasus konfirmasi Covid-19 pelajar selama dua hari, yakni Sabtu (27/11) sebanyak 20 kasus dan Ahad (28/11) satu kasus baru.

Dewi mengatakan, seluruh pelajar yang terkonfirmasi positif ini sudah menjalani vaksinasi. Namun, tidak disampaikan secara rinci apakah mereka sudah mendapatkan vaksin lengkap atau baru satu dosis.

Seluruh pelajar yang terkonfirmasi positif ini berstatus tanpa gejala (OTG). Sesuai prosedur penanganan, kasus OTG cukup diarahkan menjalani isolasi mandiri (isoman).

“Untuk menindaklanjuti pelajar yang terkonfirmasi, kami melakukan skrining terhadap kontak erat baik di lingkungan keluarga dan teman sekolah,” katanya, Ahad (28/11).

Dinkes juga telah memberikan rekomendasi, antara lain, meminta aktivitas PTM dihentikan sementara di sekolah yang ditemukan kasus konfirmasi positif Covid-19. “Sedangkan untuk sekolah yang belum atau tidak menjadi sampel agar menerapkan protokol kesehatan ketat saat PTM,” kata dia.

Sekretaris Disdikpora Gunung Kidul Kiswara menyatakan, masih menunggu jadwal tes usap acak dari Dinkes, khususnya bagi jenjang SD-SMP. “Tes usap ini untuk mengetahui sejauh mana PTM berdampak pada penambahan kasus Covid-19 sekaligus tolok ukur kesiapsiagaan Satgas Covid-19 di tingkat sekolah,” katanya.

Dilarang libur

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta sekolah tidak meliburkan siswa pada periode libur Natal dan tahun baru (Nataru). Wiku mengatakan, upaya ini untuk mencegah penularan Covid-19 pada anak karena bepergian.

“Terkait sektor pendidikan, dalam hal ini pihak sekolah diimbau tidak meliburkan sekolah pada periode Nataru,” kata Wiku.

Karena itu, sekolah juga diminta menetapkan waktu periode pembagian rapor pada Januari 2022 agar liburan sekolah tidak bertepatan dengan libur Nataru. “Untuk mencegah penularan Covid-19 pada anak-anak karena bepergian,” katanya.

Wiku menegaskan, meski tren kasus Covid-19 di Indonesia saat ini terkendali, tetapi kehati-hatian tetap diperlukan mengingat periode Nataru terjadi kecenderungan peningkatan intensitas berkegiatan dan mobilisasi.

“Tanpa adanya aturan periode Nataru sangat berpotensi berimbas pada lonjakan kasus terutama menimbang perilaku masyarakat yang sering kali kurang disiplin saat berlibur atau mengunjungi kerabat,” katanya.

Di Indonesia, kata Wiku, kasus Covid-19 turun hingga 99,3 persen dari puncak lonjakan dan mampu bertahan selama 130 hari. Saat ini, kasus pekanan di Indonesia sebesar 2.564 orang, jauh lebih sedikit dibandingkan titik terendah sebelum lonjakan yaitu 26.126 kasus.

“Jumlah ini juga jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di mana Iran dan Filipina yang penduduknya lebih sedikit dari Indonesia masih memiliki jumlah kasus lebih besar,” ujar Wiku.

Sumber : antara

redaktur : Mas Alamil Huda reporter : Fauziah Mursid (republika.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *