Senin , 18 Oktober 2021
harifin tumpa saat usai mengadakan pertemuan di gedung MA, Jakarta, Senin (11/1/2011).

Raih Bintang Mahaputera Utama, Ini Kiprah Mantan Ketua MA Harifin Tumpa

Presiden Joko Widodo memberikan sejumlah tanda kehormatan kepada tokoh yang dinilai memberikan kontribusi besar kepada Indonesia. Salah satunya Ketua Mahkamah Agung (MA) 2009-2012 Harifin Tumpa yang mendapatkan Bintang Mahaputera Utama. Bagaimana kiprah pria yang berasal dari Delta Sungai Walanea, Walimpong, Soppeng, Sulsel itu?

Harifin lahir pada 23 Februari 1942 ini. Ayahnya merupakan tokoh adat setempat yang kerap menjadi penengah apabila ada konflik. Darah ayahnya kemudian mengalir ke Harifin dan mengantarkannya menjadi hakim pada 1969.

40 Tahun lebih memegang palu, ia telah malang melintang ke seluruh penjuru Indonesia. Akhirnya ia duduk sebagai hakim agung pada 2004. Lima tahun setelahnya, ia menjadi Ketua MA yang ke-12.

Selama menjadi hakim, ribuan perkara ia adili. Beberapa kasus yang menonjol di antaranya memenangkan Negara melawan Yayasan Supersemar. Alumnus S2 Universitas Krisnadwipadana Jakarta itu juga mengadili kasus Tamasek, Syahril Sabirin, Djoko Tjandra, Antasari Azhar hingga Prita Mulyasari.

Kebijakan menonjol yang diambil selama mempimpin salah satunya menaikkan standar nilai barang di KUHP, seperti dari Rp 2.500 menjadi Rp 2,5 juta. Hal itu disesuaikan dengan kenaikan harga emas. Hal itu agar para pencuri dengan angka yang kecil tidak perlu sampai ditahan. Seperti pencuri sandal jepit, pencuri mangga, pencuri kelapa dan sebagainya. Sehingga tujuan keadilan tercapai.

Di zamannya pula, Harifin Tumpa membuat kebijakan pengakuan lembaga advokat tunggal, yaitu Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Tujuannya agar proses pengadilan lebih tertib dan marwah pengadian terjaga.

Pada 14 April 2011, Harifin menerima penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Unhas dalam bidang HAM dan Peradilan. Orasi ilmiahnya bertajuk ‘Transparansi Merupakan Pintu Keadilan dan Kebenaran’. Gaya kepemimpinannya yang terbuka itu diabadikan menjadi nama press room Harifin Tumpa Center di Gedung MA.

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *