Jumat , 17 September 2021
LKS 20170910 (FILES) This file photo taken on September 11, 2016 shows people waving 'Esteladas' (pro-independence Catalan flags) as they gather during a pro-independence demonstration, in Barcelona during the National Day of Catalonia 'Diada'. The president of Spain's Catalonia region vowed on September 09, 2017 to press ahead with an independence referendum, that Madrid insists would be illegal, calling for mass demonstrations next week in support of a split. After sparking Spain's deepest political crisis in 40 years this week by voting to push ahead with the referendum, Catalonia's separatist-controlled regional parliament upped the ante by passing a bill early on September 8, 2010 outlining a transition to a possible independent republic. LEHTIKUVA / AFP PHOTO Pau Barrena

Referendum Catalonia Rusuh, Puluhan Terluka

POLISI antihuru-hara Spanyol menembakkan peluru karet dan menyerbu tempat-tempat pemungutan suara di seluruh Catalonia, kemarin, untuk menghentikan pelaksanaan referendum. Sedikitnya 91 orang terluka akibat bentrokan polisi dan para pendukung referendum.

“Total 337 orang dibawa ke rumah sakit dan pusat kesehatan. Sejauh ini 91 orang dipastikan terluka,” ungkap seorang juru bicara departemen kesehatan pemerintah Catalan, kemarin.

Di Barcelona, polisi menyerbu demonstran yang duduk berbaris untuk mencegah polisi menyerbu sebuah tempat pemungutan suara di sebuah sekolah. Mereka mengatakan polisi juga menembakkan peluru karet.

Polisi juga menyerbu sebuah tempat pemungutan suara di dekat Girona, tempat Presiden Catalonia Carles Puigdemont akan mencoblos. Mereka menghancurkan pintu kaca gelanggang olahraga yang dijadikan tempat pemungutan suara.

Namun, pemerintah regional Catalonia mengatakan Puigdemont tetap memberikan suara. Lewat Twitter, mereka mengirimkan foto-foto Puigdemont memasukkan surat suara di Cornella del Terri, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat dia semula akan mencoblos. Di sejumlah tempat, pemungutan suara berlangsung dengan aman.

Lebih dari 5,3 juta warga Catalonia telah diserukan untuk memberikan suara dalam menentukan keinginan wilayah kaya itu melepaskan diri dari Spanyol. Referendum mengajukan pertanyaan, “Apakah Anda ingin Catalonia menjadi sebuah negara merdeka berbentuk republik?”
Apa pun yang terjadi, hasil referendum kemarin tidak akan diakui Madrid dan hampir dipastikan juga tidak diakui masyarakat internasional.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol telah berupaya mengambil kotak suara sesuai arah­an pemerintah pusat Spanyol dan keputusan pengadilan yang menyatakan referendum tersebut ilegal.

Mereka gigih menentang pemilihan yang tidak konstitusional itu dengan menyita surat suara, menahan penyelenggara, dan menutup situs kampanye pemungutan suara.

Kementerian itu mengatakan 11 polisi terluka dalam sejumlah bentrokan saat melakukan tugasnya tersebut. “Demonstran melemparkan batu ke arah polisi,” demikian kicau kementerian itu melalui Twitter.

Lelucon
Sikap Catalan (warga Catalonia) terbelah dalam referendum tersebut, tetapi sebagian besar menginginkan hasil referendum tersebut sah dan mengikat.

Pemerintah pusat Spanyol menuding bentrokan yang terjadi gara-gara ulah pemimpin wilayah Catalonia. Mereka telah memper­ingatkan Puigdemont untuk menghentikan re-ferendum yang disebutnya sebagai lelucon.

“Puigdemont dan timnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi hari ini dan atas semua yang dapat terjadi jika mereka tidak mengakhiri lelucon ini,” kata perwakilan Madrid di Catalonia Enric Millo.

Anggota-anggota parlemen Catalonia yang prokemerdekaan telah mendorong referendum kemerdekaan sejak September 2015. Mereka saat ini menguasai mayoritas kursi dari 72 kursi di parlemen regional.

Catalonia telah memiliki kontrol yang luas atas pendidikan, perawatan kesehatan, dan kesejahteraan. Namun, wilayah itu mengklaim membayar pajak lebih banyak jika dibandingkan dengan yang mereka terima kembali dari Madrid.

mediaindonesia.com (irene harty)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *