Kamis , 7 Juli 2022

RI Didorong Turun Tangan Mediasi Krisis Rusia-Ukraina

Salah satu pengamat hubungan internasional mendorong Indonesia turut turun tangan menengahi krisis yang semakin panas antara Rusia dan Ukraina, yang disebut bisa memicu perang.

Menurut pengamat hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, dunia saat ini membutuhkan Indonesia sebagai sosok negara yang netral dan memiliki pengaruh global untuk menengahi sengketa di kawasan tersebut.

“Perang dapat dihindari dengan penyamaan persepsi masyarakat dunia. Karena itu, Republik Indonesia perlu menggalang ASEAN, Gerakan Non Blok (GNB), Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk turut menciptakan opini akan adanya potensi Perang Dunia III,” kata Reza saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (14/2).

Indonesia, lanjut dia, adalah satu-satunya negara di dunia yang 100 persen tak berpihak pada kekuatan mana pun. Rusia dan Ukraina juga menyadari akan hal ini.

“Jadi mereka (Rusia-Ukraina) mengetahui jika RI memiliki mandat konstitusional dan amanat Asia Afrika, untuk mengupayakan perdamaian dunia,” kata Rezasyah.

Setelah menggaet dukungan, Indonesia perlu meyakinkan Perserikatan Bangsa-Banga (PBB) guna memprakasai Sidang Istimewa di Majelis Umum organisasi tersebut.

“Presiden RI perlu secara khusus bekerjasama dengan 3 kelompok, untuk memprakarsai sebuah sidang Istimewa PBB,” lanjut dia.

Namun sebelum memulai cari dukungan, Rezasyah mengatakan Indonesia perlu membangun rasa percaya diri dahulu. Sebab, penduduk tiga perhimpunan negara-negara tersebut jika digabung melebihi 65 persen penduduk dunia.

Konflik di perbatasan Ukraina meningkat usai Rusia mengerahkan ratusan ribu pasukan dan perangkat militer secara besar-besaran.
Amerika Serikat kemudian menyebut Rusia akan melakukan invasi. Namun, Moskow membantah dan balik menuding Washington memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengendalikan kawasan.Konflik di perbatasan Ukraina meningkat usai Rusia mengerahkan ratusan ribu pasukan dan perangkat militer secara besar-besaran.

Rusia juga menuduh NATO bertanggung jawab atas konflik itu. Sebab, menurut mereka blok ini terus melakukan perluasan dan mengerahkan militer di wilayah perbatasan.

Saat konflik Rusia dan Ukraina mencapai titik kritis, sejumlah komunitas internasional mencoba menggelar upaya diplomasi termasuk Uni Eropa dan Turki demi menghindari perang.

Beberapa negara Uni Eropa merupakan bagian dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), sehingga netralitas mereka diragukan. Sementara itu, Turki juga bagian dari dua organisasi tersebut.

  Learn more

“Turki gagal, karena dalam pandangan Rusia, Turki tidak netral. Karena, (mereka) membawa pesan Amerika Serikat, dan mencoba menggunakan momentum untuk menaikkan statusnya dalam NATO dan Uni Eropa,” jelas Reza lagi.

Konflik di Ukraina yang terus memanas, membuat intelijen AS merilis prediksi rute penyerangan Rusia ke negara tersebut. Inggris juga akan menggalang dukungan di negara nordik dan bersiap mengirim paket bantuan militer.

Beberapa pihak yang lain menilai, Rusia tak berniat berperang dengan Ukraina, mereka hanya menargetkan militer untuk menghukum Kiev dan memenuhi tuntutannya.

(isa/bac)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *