Rabu , 1 Desember 2021

RI Gelar KTT G20 2022, PDB Berpotensi Tambah Rp7,47 T

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pelaksanaan Presidensi G20 akan memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp7,47 triliun.
Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara yang tergabung dalam G20 pada 1 Desember 2021 sampai 31 November 2022.

Airlangga menjelaskan potensi penambahan PDB ini ditopang oleh kenaikan konsumsi masyarakat di dalam negeri dan penyerapan tenaga kerja.

“Di aspek ekonomi, beberapa manfaat langsung adalah peningkatan konsumsi domestik yang mencapai Rp1,73 triliun, tenaga kerja sekitar 33 ribu di berbagai sektor,” kata Airlangga dalam Konferensi Pers Bersama Kesiapan Presidensi G20 Indonesia 2022, Selasa (14/9).

Airlangga mengatakan efek Presidensi G20 akan lebih tinggi 1,5 hingga 2 kali dari pertemuan IMF World Bank pada 2018 lalu di Indonesia.

“Karena pertemuan ini (G20) berjalan sekitar 150 pertemuan selama satu tahun atau 12 bulan,” imbuh Airlangga.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan ada tujuh poin utama yang akan dibahas dalam G20. Hal ini khususnya terkait dengan sistem keuangan.

Pertama, negara-negara G20 akan membahas dan berkoordinasi untuk memulihkan ekonomi global. Untuk pulih bersama, maka harus ada koordinasi politik global.

“Yang akan dibahas adalah kebijakan-kebijakan extraordinary yang akan menetapkan kapan mulai exit policy, yaitu mengurangi intervensi kebijakan luar biasa,” kata Sri Mulyani.

Kedua, membahas dampak covid-19 tak hanya kepada sektor kesehatan, tapi juga luka di sektor ekonomi. Ia mencontohkan bahwa neraca keuangan korporasi terganggu dan gangguan rantai pasokan akibat covid-19.

Ketiga, mata uang digital. Keempat, negara-negara G20 akan membahas mengenai bagaimana sektor keuangan mendukung transformasi ekonomi hijau.

Kelima, pembayaran lintas batas. Keenam, inklusi keuangan. Ketujuh, pajak global.

“Reformasi perpajakan jadi menu utama kami,” imbuh Sri Mulyani.

Sementara, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan ada lima poin utama yang akan dibahas oleh bank sentral dalam Presidensi G20.

Pertama, melakukan koordinasi agar sektor keuangan dapat mendukung pemulihan ekonomi secara paralel. Kedua, berkoordinasi terkait kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pandemi timbulkan UMKM terkena dampak. Padahal untuk dukung pertumbuhan ekonomi dibutuhkan transformasi di sektor riil,” ujar Perry.

Ketiga, kerja sama di bidang sistem pembayaran di era digital. Menurut Perry, pandemi covid-19 membuat perkembangan digital semakin cepat.

“Oleh karena itu bank sentral bekerja sama mengenai digitalisasi sistem pembayaran antar negara,” tutur Perry.

Keempat, berkoordinasi terkait pembiayaan berkelanjutan. Kelima, merancang inisiatif untuk mendukung inklusi keuangan, khususnya bagi UMKM.

(aud/sfr)cnnindonesia

dok.photo : google

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *